Dulu kupikir kegiatan yang paling sulit itu adalah memasak. Aku takut sekali dengan kompor (tentu saja kompor yang sedang menyala). Aku sudah berpikir kalau aku akan selamanya tidak bisa memasak, apalagi dengan kondisi mataku yang daya penglihatannya semakin menurun. Yang tinggal sekarang hanya bayang-bayang dan cahaya. Jangan tanya tinggal berapa persen, karena aku sudah lupa bagaimana rasanya melihat dengan sempurna 100%.
Aku sudah mencoba memasak beberapa kali, tetapi selalu saja gatot, alias gagal total.
Ditambah lagi kegatalanku untuk bereksperimen. Belum bisa masak, sudah gatal ingin coba yang macam-macam. Seperti dulu, aku pernah membuat havermut dengan dicampur bekatul. Mungkin juga bekatulnya yang terlalu banyak, sehingga ketika suamiku memakannya, tenggorokannya langsung tersedak, karena rasanya seperti memakan pasir!
Pernah juga aku membuat pancake: 2 sendok pancake dengan sebutir telur kocok, dan hasilnya adalah pancake gosong berisi telur setengah matang!
Aku mencoba masak yang lebih mudah dan nggak neko-neko: kuah telur + sayur hijau. Sangat mudah dan aku sudah percaya diri kalau masakanku kali ini pasti berhasil dan rasanya enak. Tapi ternyata bawang putihnya gosong, sehingga ketika suamiku ingin memakannya, dia bingung dengan benda-benda kecil berwarna hitam yang banyak mengambang di dalam kuah sayur.
Aku sempat putus asa dengan berkata kepada suamiku :
"Mungkin aku memang nggak bakat memasak kali ya??"
Tapi walaupun aku merasa putus asa, pikiranku tetap saja melayang ke dapur dan bumbu masakan. Aku sering membayangkan cara memasak ini atau itu. Dan akhirnya, aku pun kembali memberanikan diri untuk memegang pisau, kuali dan kompor. Dan ternyata, sekarang aku berhasil mendapat penghargaan dari suamiku!
Awalnya aku mendapat nilai 7 untuk omelete-ku yang berisi: bawang bombay, keju, sosis, cabe rawit + sesendok susu bubuk.
Untuk keberhasilanku menumis sayur, menggoreng, dan terakhir membuat tahu kecap, Suamiku memberiku pujian dengan berkata : "Makin ke sini masakannya makin enak!".
Kalau untuk havermut yang rutin kubuat setiap pagi, tidak lagi kucampur dengan bekatul, tapi dengan wortel atau keju atau buah-buahan. Untuk yang satu ini, aku mendapat nilai : "Sempurna!"
Yipiiiiii!!!!
Terima kasih kuucapkan buat guru-guruku :
Guru yang pertama bernama : suami tercinta yang nggak kapok-kapoknya mencicipi hasil masakanku!
dan guruku kedua yang tak kalah pentingnya adalah pengalaman yang hampir saja membuatku frustasi!
Tuo sie...
Aku ini seorang tunanetra. Katanya sih penyebabnya adalah Retinitis Pigmentosa. Makanya aku menjuluki diriku sendiri: "Si gadis remang-remang", karena duniaku memang selalu terlihat remang-remang, redup, nyaris padam! :)
Selasa
Kamis
Kunang-Kunang
Malam bertandang,
dingin pun menyapa:
"Sedang apa kau di sini?"
Jawabku :
"Menunggu sang cahaya!"
Malam terkekeh,
dingin mendengus pahit.
"Tahukah kau akan malam yang berkuasa? Bilamanakah cahaya itu tiba?"
Aku bergeming pilu.
Mataku mengerjap menahan tangis. Gelap semua,
tiada satu pun bintang sudi mengawani.
"Bilamanakah malam berlalu dari pandangan?"
Dalam sepi kubertanya.
Namun tak jua kudengar jawaban.
Hanya sang angin yang bersemilir,
membekukan apa yang telah beku.
Semburat cahaya itu datang,
setitik..., hanya setitik.
Malam terusik,
dingin pun mulai menguap.
Kukerjapkan mata tak percaya,
namun cahaya itu kian besar dan bertambah banyak.
terbang mendekat, terang, berputar-putar.
Mungkinkah cahaya itu ada?
bukankah dia telah pergi lama...
lama sekali?
"Hai kawan!"
Serempak suara itu menyapaku riang;
bersama kilau sinarnya yang berwarna-warni,
bagaikan sinar lampu di tengah kota metropolitan.
Penuh semarak, indah memukau!
Kelopak mataku terbuka lebar,
menyaksikan keindahan yang belum pernah kulihat.
Sungguh, kerlip lampu mereka terlalu indah bagi mata sang putri malam.
"Siapa kalian, hai para mahluk pembawa lampu?"
"Kunang-kunang!"
"Kunang-kunang?
Bagaimanakah kalian dapat mengusir gelap dari mataku?"
"Bukan matamu..., tapi hatimu!.
Kami ada di dalam hatimu!"
"Bilamanakah kalian masuk ke dalam hatiku?"
"Saat kau berharap akan cahaya..., kami ada karena harapanmu!"
"Ah, bagaimanakah harapan dapat menghadirkan cahaya yang terpancar melalui dirimu?"
"Karena kami adalah harapan itu sendiri!
Berharaplah selalu, maka kami akan senantiasa hadir dan menari untukmu!"
"Oh, kunang-kunang pembawa harapan...
tahukah kau akan cantiknya dirimu?
Akan kerlipmu yang membentuk jalinan-bintang bintang bersinar di hatiku?
akankah mungkin aku rela kau pergi?
Malamku kini penuh cahaya;
seolah siang telah sudi menampilkan dirinya yang lama bersembunyi di balik jubahnya.
Ah, kunang-kunang pembawa cahayaku,
Bilamanakah aku sanggup hidup tanpa harapan?
Meski malam terbalut pekat,
membentang luas hamparan kegelapan yang seolah tiada bertepi,
asalkan harapan itu tetap bersemi di hatiku,
maka kau akan menari disekelilingku dengan gemerlap cahayamu!
Oh, kunang-kunang pembawa cinta,
hadirmu menyemarakan hariku.
kini sepi telah terhalau,
membuka jalan bagi keceriaan.
Cintaku akan harapan,
akan dirimu yang mengisi kegelapanku dengan sinar-sinar cintamu!
dingin pun menyapa:
"Sedang apa kau di sini?"
Jawabku :
"Menunggu sang cahaya!"
Malam terkekeh,
dingin mendengus pahit.
"Tahukah kau akan malam yang berkuasa? Bilamanakah cahaya itu tiba?"
Aku bergeming pilu.
Mataku mengerjap menahan tangis. Gelap semua,
tiada satu pun bintang sudi mengawani.
"Bilamanakah malam berlalu dari pandangan?"
Dalam sepi kubertanya.
Namun tak jua kudengar jawaban.
Hanya sang angin yang bersemilir,
membekukan apa yang telah beku.
Semburat cahaya itu datang,
setitik..., hanya setitik.
Malam terusik,
dingin pun mulai menguap.
Kukerjapkan mata tak percaya,
namun cahaya itu kian besar dan bertambah banyak.
terbang mendekat, terang, berputar-putar.
Mungkinkah cahaya itu ada?
bukankah dia telah pergi lama...
lama sekali?
"Hai kawan!"
Serempak suara itu menyapaku riang;
bersama kilau sinarnya yang berwarna-warni,
bagaikan sinar lampu di tengah kota metropolitan.
Penuh semarak, indah memukau!
Kelopak mataku terbuka lebar,
menyaksikan keindahan yang belum pernah kulihat.
Sungguh, kerlip lampu mereka terlalu indah bagi mata sang putri malam.
"Siapa kalian, hai para mahluk pembawa lampu?"
"Kunang-kunang!"
"Kunang-kunang?
Bagaimanakah kalian dapat mengusir gelap dari mataku?"
"Bukan matamu..., tapi hatimu!.
Kami ada di dalam hatimu!"
"Bilamanakah kalian masuk ke dalam hatiku?"
"Saat kau berharap akan cahaya..., kami ada karena harapanmu!"
"Ah, bagaimanakah harapan dapat menghadirkan cahaya yang terpancar melalui dirimu?"
"Karena kami adalah harapan itu sendiri!
Berharaplah selalu, maka kami akan senantiasa hadir dan menari untukmu!"
"Oh, kunang-kunang pembawa harapan...
tahukah kau akan cantiknya dirimu?
Akan kerlipmu yang membentuk jalinan-bintang bintang bersinar di hatiku?
akankah mungkin aku rela kau pergi?
Malamku kini penuh cahaya;
seolah siang telah sudi menampilkan dirinya yang lama bersembunyi di balik jubahnya.
Ah, kunang-kunang pembawa cahayaku,
Bilamanakah aku sanggup hidup tanpa harapan?
Meski malam terbalut pekat,
membentang luas hamparan kegelapan yang seolah tiada bertepi,
asalkan harapan itu tetap bersemi di hatiku,
maka kau akan menari disekelilingku dengan gemerlap cahayamu!
Oh, kunang-kunang pembawa cinta,
hadirmu menyemarakan hariku.
kini sepi telah terhalau,
membuka jalan bagi keceriaan.
Cintaku akan harapan,
akan dirimu yang mengisi kegelapanku dengan sinar-sinar cintamu!
O Mawar
Hai Mawar,
mengapa engkau tetap cantik, meski terik mentari menerpamu?
Mengapa engkau tetap menebarkan keharuman,
meski hujan membasahi sekujur tubuhmu?
Maukah kau bagikan keindahanmu pada rumput kering di sekitarmu?
menaungi mereka dengan kelopakmu yang mengembang,
dan melindungi mereka dari serangga yang rakus dengan duri-duri kecilmu?
O, mawar yang menawan,
andai saja hatiku memiliki sedikit dari kecantikanmu,
dan mampu menebarkan sedikit dari keharumanmu,
maka pastilah indah dunia di sekelilingku!
Hati yang cantik bagai sekuntum mawar:
semarak keindahan menyebar hingga ke gubuk-gubuk cinta;
Merambat hingga ke pagar-pagar jiwa yang mengelupas.
Tanah retak bersatu kembali;
rumput kering pun bersenandung riang!
Keharuman jiwa terpancar gemilang,
dari sentuhan para mawar di sekeliling mahkota hati,
beraneka warna, cantik memukau!
O, mawar nan rupawan,
maukah kau tumbuh di ladang hatiku?
bersemi indah, mekar dalam kebaikan?
Ya, ratu keindahan,
andai saja hatiku memiliki sedikit dari kecantikanmu,
dan mampu menebarkan sedikit dari keharumanmu,
maka pastilah indah dunia di sekelilingku!
mengapa engkau tetap cantik, meski terik mentari menerpamu?
Mengapa engkau tetap menebarkan keharuman,
meski hujan membasahi sekujur tubuhmu?
Maukah kau bagikan keindahanmu pada rumput kering di sekitarmu?
menaungi mereka dengan kelopakmu yang mengembang,
dan melindungi mereka dari serangga yang rakus dengan duri-duri kecilmu?
O, mawar yang menawan,
andai saja hatiku memiliki sedikit dari kecantikanmu,
dan mampu menebarkan sedikit dari keharumanmu,
maka pastilah indah dunia di sekelilingku!
Hati yang cantik bagai sekuntum mawar:
semarak keindahan menyebar hingga ke gubuk-gubuk cinta;
Merambat hingga ke pagar-pagar jiwa yang mengelupas.
Tanah retak bersatu kembali;
rumput kering pun bersenandung riang!
Keharuman jiwa terpancar gemilang,
dari sentuhan para mawar di sekeliling mahkota hati,
beraneka warna, cantik memukau!
O, mawar nan rupawan,
maukah kau tumbuh di ladang hatiku?
bersemi indah, mekar dalam kebaikan?
Ya, ratu keindahan,
andai saja hatiku memiliki sedikit dari kecantikanmu,
dan mampu menebarkan sedikit dari keharumanmu,
maka pastilah indah dunia di sekelilingku!
Rabu
Katanya Aku Kurang Iman
Suatu ketika, aku mengikuti sebuah KKR penyembuhan di Bandung. Banyak sekali orang yang hadir, mungkin mencapai ratusan, atau mungkin juga ribuan.
Mereka membawa serta saudara-saudara mereka yang sakit. berbagai jenis orang memenuhi tempat itu, dari yang cacat fisik, seperti lumpuh, buta, tuli, hingga ada yang terkapar karena sakit parah.
Dan aku berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu.
Aku buta. Ya, aku termasuk pasien yang memerlukan penyembuhan di sini!
Sebagian besar dari orang banyak itu bukanlah saudara-saudaraku seiman. Banyak dari mereka yang bukan orang Kristen, malah mereka mengikuti KKR ini dengan masih menggunakan atribut keagamaan mereka. Mereka ikut berdoa bersama kami, dan berharap juga mendapatkan kesembuhan.
Dari kecil, aku selalu ditekankan oleh orang tuaku, dan juga oleh para pendeta yang mendoakanku agar memiliki iman yang teguh, tidak goyah sedikit pun. Dan jika kesembuhan itu tidak juga terjadi padaku, maka mereka akan menegurku dengan berkata :
"Kamu kurang beriman!"
Malah ada seorang pendeta yang berkata kalau kebutaanku ini karena kutuk nenek moyang!
Kenapa jadi nenek-nenek dibawa-bawa?
Apa salah nenek moyangku, sehingga sampai aku yang harus menanggungnya?
Bagaimana dengan ayat dalam Yohanes 9 : 1-3?
Aku sering merenung seorang diri:
"Apa sebenarnya ukuran dari sebuah iman itu?"
"Apa benar penyebab mataku belum disembuhkan Tuhan, karena aku kurang beriman?"
Ketika tiba pada saat acara penyembuhan, kepalaku semakin menunduk. Aku semakin kusyuk berdoa. Aku memohon kepada Tuhan dengan segenap hatiku agar sudi menoleh kepadaku dan menyembuhkan mataku.
Tapi sementara sudah banyak orang yang disembuhkan, bahkan mereka yang bukan Kristen pun memperoleh kesembuhan, mataku masih juga belum dapat melihat.
"Bagaimana ini? apa imanku masih belum cukup? masa iman mereka yang bukan Kristen malah lebih besar dari imanku?"
Hatiku jadi galau dan teramat sedih. Ini sering kualami setiap aku pulang dari sebbuah KKR penyembuhan. Aku pulang bukan membawa berkat sukacita, tetapi rasa bersalah dan tertekan karena merasa Tuhan tidak menyayangiku. Tuhan tidak berkenan mendengar seruanku. Tuhan tidak peduli kepadaku, kepada seorang anak buta yang kurang iman sepertiku.
Semakin lama, aku semakin merasa capek untuk mengikuti KKR penyembuhan semacam ini lagi. Kalau bukan karena kemauan orang tuaku, (yang kutau, sangat menyayangiku dan sangat mengharapkan mataku sembuh), aku tak nanti ikut acara seperti ini lagi.
Aku pernah bertanya kepada teman-teman tunanetra lainnya tentang perasaan seperti ini, dan ternyata mereka pun merasakan hal yang sama.
Kalau aku kurang iman, seperti yang mereka katakan, mengapa sampai sekarang aku masih tetap percaya pada Tuhan?
mengapa aku tetap berdoa pada Tuhan, padahal Dia tak juga menyembuhkan mataku?
mengapa juga aku tetap pergi ke Gereja, kalau imanku selalu mendapat nilai minus?
Mengapa hatiku tak bisa membenci Tuhan, atau sebisa mungkin memusuhi-Nya, dan berusaha untuk menjauhi-Nya?
Mengapa aku malah semakin mencintai-Nya?
Bukankah imanku terlalu tipis, setipis kertas-kertas Alkitab?
KKR pun selesai!
namun aku tetap saja harus berjalan sambil dituntun orang kalau tidak mau tersandung dan kepala benjol!
"Kenapa ya Tuhan kok malah menyembuhkan anak tetangga, bukannya anak sendiri?" kalimat pertanyaan ini pun meluncur dari bibir mamiku, ketika kami sudah berada kembali di dalam mobil.
"Karena Tuhan tau, meski pun Rachel tidak disembuhkan, dia akan tetap percaya. Sementara mereka itu membutuhkan tanda!" jawaban yang sederhana ini keluar dari bibir sahabatku, dan merupakan suluh bagi hatiku yang mendung, kelelahan menanggung beban, hingga sesak tak terbilang.
Sesungguhnya, Tuhan telah mendengar seruanku. Buktinya Dia menjawab segala kebingunganku melalui bibir sahabatku!
Kini, setiap kali aku bersaksi, aku akan menyerukan sebuah kalimat sebagai penutup kesaksianku :
"Kalau Tuhan mau, detik ini pun aku percaya Tuhan sanggup menyembuhkan mataku. Tetapi janganlah kehendakku yang terjadi, melainkan biarlah kehendak Tuhan saja yang terjadi dalam hidupku. Karena Tuhan tau yang terbaik bagiku!"
"Biarlah orang lain memperoleh terang melalui kegelapanku!"
====
Mereka membawa serta saudara-saudara mereka yang sakit. berbagai jenis orang memenuhi tempat itu, dari yang cacat fisik, seperti lumpuh, buta, tuli, hingga ada yang terkapar karena sakit parah.
Dan aku berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu.
Aku buta. Ya, aku termasuk pasien yang memerlukan penyembuhan di sini!
Sebagian besar dari orang banyak itu bukanlah saudara-saudaraku seiman. Banyak dari mereka yang bukan orang Kristen, malah mereka mengikuti KKR ini dengan masih menggunakan atribut keagamaan mereka. Mereka ikut berdoa bersama kami, dan berharap juga mendapatkan kesembuhan.
Dari kecil, aku selalu ditekankan oleh orang tuaku, dan juga oleh para pendeta yang mendoakanku agar memiliki iman yang teguh, tidak goyah sedikit pun. Dan jika kesembuhan itu tidak juga terjadi padaku, maka mereka akan menegurku dengan berkata :
"Kamu kurang beriman!"
Malah ada seorang pendeta yang berkata kalau kebutaanku ini karena kutuk nenek moyang!
Kenapa jadi nenek-nenek dibawa-bawa?
Apa salah nenek moyangku, sehingga sampai aku yang harus menanggungnya?
Bagaimana dengan ayat dalam Yohanes 9 : 1-3?
Aku sering merenung seorang diri:
"Apa sebenarnya ukuran dari sebuah iman itu?"
"Apa benar penyebab mataku belum disembuhkan Tuhan, karena aku kurang beriman?"
Ketika tiba pada saat acara penyembuhan, kepalaku semakin menunduk. Aku semakin kusyuk berdoa. Aku memohon kepada Tuhan dengan segenap hatiku agar sudi menoleh kepadaku dan menyembuhkan mataku.
Tapi sementara sudah banyak orang yang disembuhkan, bahkan mereka yang bukan Kristen pun memperoleh kesembuhan, mataku masih juga belum dapat melihat.
"Bagaimana ini? apa imanku masih belum cukup? masa iman mereka yang bukan Kristen malah lebih besar dari imanku?"
Hatiku jadi galau dan teramat sedih. Ini sering kualami setiap aku pulang dari sebbuah KKR penyembuhan. Aku pulang bukan membawa berkat sukacita, tetapi rasa bersalah dan tertekan karena merasa Tuhan tidak menyayangiku. Tuhan tidak berkenan mendengar seruanku. Tuhan tidak peduli kepadaku, kepada seorang anak buta yang kurang iman sepertiku.
Semakin lama, aku semakin merasa capek untuk mengikuti KKR penyembuhan semacam ini lagi. Kalau bukan karena kemauan orang tuaku, (yang kutau, sangat menyayangiku dan sangat mengharapkan mataku sembuh), aku tak nanti ikut acara seperti ini lagi.
Aku pernah bertanya kepada teman-teman tunanetra lainnya tentang perasaan seperti ini, dan ternyata mereka pun merasakan hal yang sama.
Kalau aku kurang iman, seperti yang mereka katakan, mengapa sampai sekarang aku masih tetap percaya pada Tuhan?
mengapa aku tetap berdoa pada Tuhan, padahal Dia tak juga menyembuhkan mataku?
mengapa juga aku tetap pergi ke Gereja, kalau imanku selalu mendapat nilai minus?
Mengapa hatiku tak bisa membenci Tuhan, atau sebisa mungkin memusuhi-Nya, dan berusaha untuk menjauhi-Nya?
Mengapa aku malah semakin mencintai-Nya?
Bukankah imanku terlalu tipis, setipis kertas-kertas Alkitab?
KKR pun selesai!
namun aku tetap saja harus berjalan sambil dituntun orang kalau tidak mau tersandung dan kepala benjol!
"Kenapa ya Tuhan kok malah menyembuhkan anak tetangga, bukannya anak sendiri?" kalimat pertanyaan ini pun meluncur dari bibir mamiku, ketika kami sudah berada kembali di dalam mobil.
"Karena Tuhan tau, meski pun Rachel tidak disembuhkan, dia akan tetap percaya. Sementara mereka itu membutuhkan tanda!" jawaban yang sederhana ini keluar dari bibir sahabatku, dan merupakan suluh bagi hatiku yang mendung, kelelahan menanggung beban, hingga sesak tak terbilang.
Sesungguhnya, Tuhan telah mendengar seruanku. Buktinya Dia menjawab segala kebingunganku melalui bibir sahabatku!
Kini, setiap kali aku bersaksi, aku akan menyerukan sebuah kalimat sebagai penutup kesaksianku :
"Kalau Tuhan mau, detik ini pun aku percaya Tuhan sanggup menyembuhkan mataku. Tetapi janganlah kehendakku yang terjadi, melainkan biarlah kehendak Tuhan saja yang terjadi dalam hidupku. Karena Tuhan tau yang terbaik bagiku!"
"Biarlah orang lain memperoleh terang melalui kegelapanku!"
====
Kesaksian Di Acara KBC
"Sorry..." Tiba-tiba saja ada seoorang ibu yang menyapa suamiku, " boleh tau, nama kamu siapa ya?"
Wah, ditanya kayak gitu, aku dan suamiku jadi ragu-ragu, jangan-jangan orang yang mau nawarin asuransi atau semacam produk MLM lainnya nih. Saat itu aku dan suamiku sedang belanja keperluan sehari-hari di Indo mart dekat rumah.
"Saya Wiria!" jawab suamiku agak terkesan protektif.
"Kalau dia ini?" tanya si ibu sambil menunjuk ke arahku.
"O, kalau dia Rachel!"
Mendengar namaku disebut, aku jadi semakin bingung. Mau apa sih nih ibu?
"Halo Rachel..." sapa ibu tersebut. Aku hanya tersenyum.
"masih kenal nggak sama saya? saya pernah ketemu kamu di persekutuan doa di Laurensius. Waktu itu kamu memberikan kesaksian kamu..."
"Memangnya ini siapa?" tanyaku balik.
"Aku Novita... inget nggak?"
"O..., Ci Novita toh... tentu saja aku masih inget!" Jawabku lega. Ya ampuuunn..., kenapa nggak ngomong dari tadi..., pikirku, kenapa harus pakai acara tanya-tanya nama segala, jadi bikin orang kebingungan, kayak lagi kena tangkep polisi aja. hehehe...
"Wah, ini bener-bener kebetulan lho..." kata Ci Novita, "dari kemarin aku nyari-nyari kamu. Nomor telepon kamu nggak ketemu... eh, taunya kita malah ketemu di sini... bener-bener kebetulan sekali!"
Sebenarnya ketika aku mengetahui orang yang berdiri di hadapanku ini ci Novita, aku langsung bisa mengira kalau ci Novita mencariku pasti mau membicarakan tentang acara para businessment itu. Sepulang aku dari kesaksian di PD Laurensius, ci Novita pernah bilang sama aku kalau dia mau undang aku ke acara KBC (aku lupa singkatannya. Yang aku ingat dua huruf di depannya itu berarti "Kingdom Business" tapi "C" di belakangnya aku lupa!) Pokoknya semacam acara perkumpulan para businessment gitu deh, untuk memberikan kesaksianku juga di sana. Waktu itu ci Novita belum memberitahukan tanggalnya, dia hanya menyebutkan kalau acara itu akan diadakan pada bulan Juni.
"Iya, aku mau undang kamu ke KBC itu lho..."
"O..., yang cici pernah bilang waktu itu ya?"
"Ya! acaranya tanggal 27 Juni ini. Kamu bisa kan?"
"Bisa ci... oh ya, boleh aku ajak Deasy?"
"Wah, dengan senang hati! aku kenal Deasy kok... Bilang saja sama Deasy kalau dia diundang ci Novita... pasti dia tau cici!"
"Ya, Deasy juga bilang begitu... Senggaknya Deasy juga kan sekarang sudah kerja, dan dia bisa kasih kesaksiannya sendiri. Jadi contoh nyatanya bukan cuma dari aku saja, tapi juga ada contoh nyata lainnya. Biar mereka bisa lebih yakin kalau tunanetra seperti kami ini juga bisa kerja!"
"Ya, betul! Kebetulan kita mau membahas tentang memaksimalkan potensi dan karakter... supaya mereka itu bisa paham kalau melayani itu bukan hanya di Gereja atau di lingkungan sosial. Tapi bekerja juga merupakan pelayanan!" "
"Ok, kalau begitu ci... Jam berapa acaranya?"
"Acaranya sih dari pagi sampe sore, tapi nanti cici kabari kamu lagi deh tepatnya jam berapa giliran kamu berbicara... boleh cici minta nomor HP kamu?"
Aku pun segera memberikan nomor HP-ku kepada ci Novita. Setelah itu kami pun berpisah.
Minggu, 27 Juni 2010
Aku sudah janjian sama Deasy untuk menjemputnya di Kos-kosannya di Karet. Aku dan suamiku sudah jalan dari rumah jam 7 pagi, sementara acara baru mulai jam 9.00 pagi di Hotel Ochard, Gunung Sahari. Tapi sesampainya kami di Sarina, suamiku baru ingat kalau hari Minggu adalah Car Free Day. Jadi kami tidak bisa masuk ke jalan Tamrin. Akhirnya aku menyuruh Deasy untuk naik ojek langganannya saja, langsung ketemuan di Hotel Ochard.
Jam 8.30, kami bertiga pun bertemu ci Novita di lantai 10. Di situ sudah hadir banyak sekali orang dari berbagai perusahaan, salah satunya dari Libra Cake.
Kami dipertemukan dengan pembicara utamanya, pak Julian Fu. Aku diberi penjelasan tentang tema dari seminar tersebut dan apa saja point-pointnya.
"Nanti pada point tertentu yang cocok dengan kesaksian kamu, saya akan langsung panggil kamu untuk menyampaikan kesaksian kamu!" kata pak Julian kepadaku.
"Baik pak!" jawabku singkat.
Kami diberi tiga buah bangku tersendiri yang berada di samping panggung.
Acara dimulai dengan sebuah film yang membuat para peserta pada tertawa terpingkal-pingkal. Aku bertanya kepada suamiku yang duduk di sebelahku tentang film tersebut. Tapi suamiku juga tidak dapat melihatnya karena kami duduk di samping.
Setelah itu, acara pun dilanjutkan dengan ice breaking, dan setelah permainan usai. Pak Julian pun naik ke panggung untuk memberikan ceraamahnya.
Cara pak Julian membawakan seminar sungguh luar biasa, sangat variatif, dan tidak monoton. Sehingga membuat kami yang mendengarkan jadi semangat dan tidak menjadi bosan.
Waktu kami istirahat untuk snack, aku dan Deasy mampir ke WC dulu, dan antrinya lama buanget. Pas keluar, ternyata makanan sudah ludes sama sekali. Kami cuma kedapetan teh atau kopi. hiks hiks hiks hiks... Padahal perut kami sudah keroncongan, belum sempat sarapan.
Pada sesi kedua, sebelum makan siang. Akhirnya pak Julian memanggilku. Aku naik ke panggung. Agak gerogi juga sih... Tapi aku berusaha bicara setenang mungkin, walau pun tanganku yang memegang mic masih juga terasa gemetaran. Aku menceritakan kisah hidupku dari sejak SD, SMP, SMU sampai kuliah dan akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan cara yang ajaib.
Kadang aku selingi dengan cerita-cerita lucu yang pernah aku alami. Seperti waktu di kantor, waktu aku masih jadi Resepsionis, aku pernah mengira kalau tamu yang datang itu adalah temanku yang suka berpura-pura menjadi tamu untuk mengelabuiku. Di situ aku bercerita kalau pada saat tamu itu menyapaku dengan mengatakan:
"Selamat sore, Mbak!"
Aku malah menjawabnya dengan menyenandungkan lagunya Evi Tamala yang "Selamat malam duhai kekasih..." Tapi aku ganti kata-katanya jadi: "Selamat sore duhai sahabat...".
Mendengar itu, semua peserta jadi tertawa.
Aku sengaja hanya menceritakan masa-masa sekolahku sampai kuliah secara sekilas saja. Hanya yang penting-pentingnya saja. Aku lebih banyak menceritakan pengalamanku bekerja.
Selesai aku bersaksi, pak Julian memanggil Deasy.
Deasy memulai kesaksiannya dengan berkata:
"Aduh deug-deugan nih... soalnya ini adalah pertama kalinya saya berbicara seperti ini di depan umum..."
Tapi ternyata, dengan caranya yang polos, Deasy malah bisa bercerita dengan lancar dan dengan caranya yang spontan itu, malah bisa membuat peserta tertawa dan suasanapun jadi lebih santai.
Salut buat temanku, Deasy!
Setelah selesai bersaksi, dan masuk ke acara makan siang. Kami langsung dikerumuni oleh para peserta seminar, dari para stafnya sampai para atasannya. Mereka berfoto bersama kami. Hehehe..., jadi kayak artis saja...!!
Aku sempat ngobrol dengan pak Julian mengenai peluang bagi teman-teman tunanetra yang lain untuk bekerja. Dia berjanji akan membantuku untuk mencarikan pekerjaan bagi teman-temanku yang lain. Dia meminta aku untuk memberikan daftar nama-nama teman-teman tunanetra yang sudah siap bekerja dengan skill yang mereka miliki.
Terima kasih ya, pak Julian buat perhatiannya!
Mudah-mudahan kesempatan baik ini tidak terbuang sia-sia. Mudah-mudahan dengan bantuan Pak Julian, teman-teman tunanetra yang lain bisa mendapatkan kesempatan juga untuk bekerja seperti aku dan Deasy.
Thanks juga ya buat ci Novita yang sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk bersaksi... Kiranya Tuhan memberkati cici dan keluarga!
Wah, ditanya kayak gitu, aku dan suamiku jadi ragu-ragu, jangan-jangan orang yang mau nawarin asuransi atau semacam produk MLM lainnya nih. Saat itu aku dan suamiku sedang belanja keperluan sehari-hari di Indo mart dekat rumah.
"Saya Wiria!" jawab suamiku agak terkesan protektif.
"Kalau dia ini?" tanya si ibu sambil menunjuk ke arahku.
"O, kalau dia Rachel!"
Mendengar namaku disebut, aku jadi semakin bingung. Mau apa sih nih ibu?
"Halo Rachel..." sapa ibu tersebut. Aku hanya tersenyum.
"masih kenal nggak sama saya? saya pernah ketemu kamu di persekutuan doa di Laurensius. Waktu itu kamu memberikan kesaksian kamu..."
"Memangnya ini siapa?" tanyaku balik.
"Aku Novita... inget nggak?"
"O..., Ci Novita toh... tentu saja aku masih inget!" Jawabku lega. Ya ampuuunn..., kenapa nggak ngomong dari tadi..., pikirku, kenapa harus pakai acara tanya-tanya nama segala, jadi bikin orang kebingungan, kayak lagi kena tangkep polisi aja. hehehe...
"Wah, ini bener-bener kebetulan lho..." kata Ci Novita, "dari kemarin aku nyari-nyari kamu. Nomor telepon kamu nggak ketemu... eh, taunya kita malah ketemu di sini... bener-bener kebetulan sekali!"
Sebenarnya ketika aku mengetahui orang yang berdiri di hadapanku ini ci Novita, aku langsung bisa mengira kalau ci Novita mencariku pasti mau membicarakan tentang acara para businessment itu. Sepulang aku dari kesaksian di PD Laurensius, ci Novita pernah bilang sama aku kalau dia mau undang aku ke acara KBC (aku lupa singkatannya. Yang aku ingat dua huruf di depannya itu berarti "Kingdom Business" tapi "C" di belakangnya aku lupa!) Pokoknya semacam acara perkumpulan para businessment gitu deh, untuk memberikan kesaksianku juga di sana. Waktu itu ci Novita belum memberitahukan tanggalnya, dia hanya menyebutkan kalau acara itu akan diadakan pada bulan Juni.
"Iya, aku mau undang kamu ke KBC itu lho..."
"O..., yang cici pernah bilang waktu itu ya?"
"Ya! acaranya tanggal 27 Juni ini. Kamu bisa kan?"
"Bisa ci... oh ya, boleh aku ajak Deasy?"
"Wah, dengan senang hati! aku kenal Deasy kok... Bilang saja sama Deasy kalau dia diundang ci Novita... pasti dia tau cici!"
"Ya, Deasy juga bilang begitu... Senggaknya Deasy juga kan sekarang sudah kerja, dan dia bisa kasih kesaksiannya sendiri. Jadi contoh nyatanya bukan cuma dari aku saja, tapi juga ada contoh nyata lainnya. Biar mereka bisa lebih yakin kalau tunanetra seperti kami ini juga bisa kerja!"
"Ya, betul! Kebetulan kita mau membahas tentang memaksimalkan potensi dan karakter... supaya mereka itu bisa paham kalau melayani itu bukan hanya di Gereja atau di lingkungan sosial. Tapi bekerja juga merupakan pelayanan!" "
"Ok, kalau begitu ci... Jam berapa acaranya?"
"Acaranya sih dari pagi sampe sore, tapi nanti cici kabari kamu lagi deh tepatnya jam berapa giliran kamu berbicara... boleh cici minta nomor HP kamu?"
Aku pun segera memberikan nomor HP-ku kepada ci Novita. Setelah itu kami pun berpisah.
Minggu, 27 Juni 2010
Aku sudah janjian sama Deasy untuk menjemputnya di Kos-kosannya di Karet. Aku dan suamiku sudah jalan dari rumah jam 7 pagi, sementara acara baru mulai jam 9.00 pagi di Hotel Ochard, Gunung Sahari. Tapi sesampainya kami di Sarina, suamiku baru ingat kalau hari Minggu adalah Car Free Day. Jadi kami tidak bisa masuk ke jalan Tamrin. Akhirnya aku menyuruh Deasy untuk naik ojek langganannya saja, langsung ketemuan di Hotel Ochard.
Jam 8.30, kami bertiga pun bertemu ci Novita di lantai 10. Di situ sudah hadir banyak sekali orang dari berbagai perusahaan, salah satunya dari Libra Cake.
Kami dipertemukan dengan pembicara utamanya, pak Julian Fu. Aku diberi penjelasan tentang tema dari seminar tersebut dan apa saja point-pointnya.
"Nanti pada point tertentu yang cocok dengan kesaksian kamu, saya akan langsung panggil kamu untuk menyampaikan kesaksian kamu!" kata pak Julian kepadaku.
"Baik pak!" jawabku singkat.
Kami diberi tiga buah bangku tersendiri yang berada di samping panggung.
Acara dimulai dengan sebuah film yang membuat para peserta pada tertawa terpingkal-pingkal. Aku bertanya kepada suamiku yang duduk di sebelahku tentang film tersebut. Tapi suamiku juga tidak dapat melihatnya karena kami duduk di samping.
Setelah itu, acara pun dilanjutkan dengan ice breaking, dan setelah permainan usai. Pak Julian pun naik ke panggung untuk memberikan ceraamahnya.
Cara pak Julian membawakan seminar sungguh luar biasa, sangat variatif, dan tidak monoton. Sehingga membuat kami yang mendengarkan jadi semangat dan tidak menjadi bosan.
Waktu kami istirahat untuk snack, aku dan Deasy mampir ke WC dulu, dan antrinya lama buanget. Pas keluar, ternyata makanan sudah ludes sama sekali. Kami cuma kedapetan teh atau kopi. hiks hiks hiks hiks... Padahal perut kami sudah keroncongan, belum sempat sarapan.
Pada sesi kedua, sebelum makan siang. Akhirnya pak Julian memanggilku. Aku naik ke panggung. Agak gerogi juga sih... Tapi aku berusaha bicara setenang mungkin, walau pun tanganku yang memegang mic masih juga terasa gemetaran. Aku menceritakan kisah hidupku dari sejak SD, SMP, SMU sampai kuliah dan akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan cara yang ajaib.
Kadang aku selingi dengan cerita-cerita lucu yang pernah aku alami. Seperti waktu di kantor, waktu aku masih jadi Resepsionis, aku pernah mengira kalau tamu yang datang itu adalah temanku yang suka berpura-pura menjadi tamu untuk mengelabuiku. Di situ aku bercerita kalau pada saat tamu itu menyapaku dengan mengatakan:
"Selamat sore, Mbak!"
Aku malah menjawabnya dengan menyenandungkan lagunya Evi Tamala yang "Selamat malam duhai kekasih..." Tapi aku ganti kata-katanya jadi: "Selamat sore duhai sahabat...".
Mendengar itu, semua peserta jadi tertawa.
Aku sengaja hanya menceritakan masa-masa sekolahku sampai kuliah secara sekilas saja. Hanya yang penting-pentingnya saja. Aku lebih banyak menceritakan pengalamanku bekerja.
Selesai aku bersaksi, pak Julian memanggil Deasy.
Deasy memulai kesaksiannya dengan berkata:
"Aduh deug-deugan nih... soalnya ini adalah pertama kalinya saya berbicara seperti ini di depan umum..."
Tapi ternyata, dengan caranya yang polos, Deasy malah bisa bercerita dengan lancar dan dengan caranya yang spontan itu, malah bisa membuat peserta tertawa dan suasanapun jadi lebih santai.
Salut buat temanku, Deasy!
Setelah selesai bersaksi, dan masuk ke acara makan siang. Kami langsung dikerumuni oleh para peserta seminar, dari para stafnya sampai para atasannya. Mereka berfoto bersama kami. Hehehe..., jadi kayak artis saja...!!
Aku sempat ngobrol dengan pak Julian mengenai peluang bagi teman-teman tunanetra yang lain untuk bekerja. Dia berjanji akan membantuku untuk mencarikan pekerjaan bagi teman-temanku yang lain. Dia meminta aku untuk memberikan daftar nama-nama teman-teman tunanetra yang sudah siap bekerja dengan skill yang mereka miliki.
Terima kasih ya, pak Julian buat perhatiannya!
Mudah-mudahan kesempatan baik ini tidak terbuang sia-sia. Mudah-mudahan dengan bantuan Pak Julian, teman-teman tunanetra yang lain bisa mendapatkan kesempatan juga untuk bekerja seperti aku dan Deasy.
Thanks juga ya buat ci Novita yang sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk bersaksi... Kiranya Tuhan memberkati cici dan keluarga!
Jumat
PERTAPAAN ROWOSENENG
13 - 16 Mei 2010

Pertapaan St. Maria Rowoseneng...
aku pergi dan akan kembali;
semoga kasih dan kesetiaanmu terus menggema hingga ke kota Jakarta,
keheningan dan kesederhanaanmu akan menjadi kerinduanku.
***
Hari Kamis, jam 07.00 malam, akhirnya aku dan suami menginjakan kaki kembali di pertapaan St. Maria Rowoseneng. Ini merupakan yang kedua kalinya buatku pribadi berkunjung ke tempat ini.
Sekarang, semuanya tampak sangat berbeda, bukan berbeda karena kebetulan pertapaan sedang dibangun, tetapi terlebih karena sekarang aku datang bukan lagi sebagai seorang anti Katolik yang membenci Maria dan tata ibadah mereka, melainkan sebagai seorang Katolik yang memboyong rasa rindu akan persatuan dengan Kristus setiap saat dalam Ekaristi kudus.
Waktu pertama kalinya aku menginjakan kaki ke tempat ini, yaitu saat datang bersama teman-teman Legio Maria, aku sama sekali tidak dapat menikmati tempat ini, apalagi ketika mengikuti jam-jam ibadat para rahib. Sebisa mungkin, aku menghindarkan diri dari setiap ibadat mereka yang cuma bisa membuatku jenuh, bengong nggak karuan, kayak anak kucing tersesat di dalam kandang sapi!
Selain itu, lagu-lagu yang mereka nyanyikan juga terdengar sangat menyeramkan di telingaku yang terbiasa mendengarkan lagu berirama pop, jazz, bahkan dangdut kedengarannya jadi jauh lebih baik dari pada mendengarkan lagu mereka yang nggak jelas iramanya, bikin mata merem melek, bukan karena menikmati, tapi karena menahan kantuk.
Jujur saja, waktu itu, aku sangat tersiksa setiap kali mengikuti ibadat mereka. Mau nggak ikut, takut ditinggal sendiri, karena semua teman-teman, berikut suamiku yang pada saat itu masih menjadi kekasihku, ikut menghadirinya. Jadi mau nggak mau aku pun ikut, dari pada ditinggalkan sendirian di dalam kamar!
Saat ibadat malam, ketika lampu dimatikan dan hanya ada satu lampu yang tetap dibiarkan menyala, yaitu lampu yang menyorot pada ukiran Bunda Maria yang melingkari Tabernakel, lalu para rahib mulai menyanyikan lagu yang menyebut-nyebut tentang bunda Maria,tubuhku tiba-tiba saja merinding, bukan karena merasakan hadirat Tuhan, tapi lebih karena aku merasa ngeri sendiri: "Maria kok disembah!" (itu pikiranku dulu, akibat otakku yang kukunci sedemikian rapat, hingga gelap gulita dan pengap karena kekurangan oksigen!!!... Untung saja Tuhan masih bersedia mendobrak pintu diotakku, sehingga aku tak jadi mati lemas karena kehabisan hawa segar, dan membiarkan cahaya masuk serta menjadikan otakku terang benderang)
Yang cukup membuatku terhibur dan sedikit dapat kunikmati waktu kunjungan pertama kali itu: ya, cuma susu sapinya!!
Tapi, kemarin, ketika aku dan suamiku kembali datang ke tempat ini, perasaanku sungguh jauh berbeda. Hatiku sungguh dipenuhi sukacita dan rindu yang meluap-luap. Aku berjanji pada diriku sendiri agar sebisa mungkin jangan sampai ada satu ibadat pun yang terlewatkan!
Meski kelopak mata masih terasa berat karena harus menghadiri ibadat yang jam 3.30 pagi, aku dan suami tetap memaksa diri untuk masuk Kapel minimal 15 menit sebelumnya, walau pun itu berarti kami harus kucek-kucek mata, lompat-lompat, lari keliling pertapaan, malah kalau perlu sampai mandikan sapi dulu agar bisa membuat mata terbuka lebar dan pikiran segar bugar!
Telingaku juga tiba-tiba saja bisa sangat menikmati lagu-lagu mereka yang nadanya sulit diikuti, karena banyak lekak-lekuknya, namun terdengar indah dan menenangkan. Sebisa mungkin aku ikut bermazmur bersama mereka, walau pun hasilnya aku malah menciptakan nada-nada sendiri. Tapi yang pasti, aku sungguh merasakan kasih Tuhan membasuh dan menyelimuti seluruh jiwaku, dan menyulut api cintaku kembali berkobar dengan dahsyatnya!
Aku selalu menantikan jam-jam ibadat mereka, terutama Misa yang jam 06.00 pagi, di mana aku bisa makan tubuh dan minum darah Tuhanku.
Sungguh hari-hari yang sangat menggembirakan. liburan yang sangat bermanfaat, benar-benar refreshing lahir batin!!
Saat ibadat malam, di mana tubuh kami akan segera berbaring di peraduan untuk melepas penat, dan para jangkrik mulai berceloteh menceritakan tentang keagungan Tuhan, kami pun kembali menyanyikan mazmur bagi Tuhan untuk yang ke sekian kalinya dalam satu hari ini. Setiap kata-kata dalam mazmur terasa mengalun begitu syahdu, indah bagaikan sepasang mempelai yang hendak memasuki kamar pengantin yang harum , ceria dengan bunga-bunga bertebaran di segala sudut, dan hangat bagaikan berada dalam dekapan kekasih.
perasaanku menjadi aman dan damai ketika Romo Abas memerciki air suci kepada kami satu per satu. Apa pun yang akan terjadi pada kami ketika malam berpatroli mengintip di sela-sela mimpi-mimpi kami, hati kami akan tetap berjaga bersama dengan Kristus!
Dan, apabila Tuhan memanggil kami pulang, meski saat kami terlelap sekali pun, kami sudah siap, bagaikan tentara perang yang siap sedia bertempur!!
Ketika lagu Salve Regina berkumandang, walau aku tak bisa ikut bernyanyi karena belum hafal kata-katanya, namun aku merasa seperti sedang dikeloni seorang ibu yang jari-jemarinya laksana sutra lembut membelai tiap helai rambutku, tatapannya memancarkan kasih yang meneduhkan seluruh jiwa ragaku. Sambil bibirnya tak lelah menyenandungkan lagu cinta, hingga akhirnya aku jatuh terlelap dalam senyuman.
Sungguh manis, semanis madu yang dijual di pertapaan Rowoseneng!
Sangat murni, semurni susu sapi yang selalu kunikmati setiap sarapan!
Luar biasa nikmat, senikmat masakan yang dibuat para Romo untuk mengisi perut para tamunya!

Oh..., alangkah indahnya Tuhanku...
indah bagaikan untaian mawar yang tengah mekar berkembang.
Suara dentang loncengmu menggema dengan merdunya, seperti seekor sapi yang memanggil para penjaga untuk bergegas mengantarkan makanannya.
Keheninganmu terasa sangat menentramkan, tenang bagaikan tempat peristirahatan para Rahib yang telah berpulang ke keabadian.
tenang..., teduh...,
harum..., seharum kue keju yang masih dalam oven pemanggang.
Oh..., alangkah menyejukannya kasih Tuhanku...!!!

Pertapaan St. Maria Rowoseneng...
aku pergi dan akan kembali;
semoga kasih dan kesetiaanmu terus menggema hingga ke kota Jakarta,
keheningan dan kesederhanaanmu akan menjadi kerinduanku.
***
Hari Kamis, jam 07.00 malam, akhirnya aku dan suami menginjakan kaki kembali di pertapaan St. Maria Rowoseneng. Ini merupakan yang kedua kalinya buatku pribadi berkunjung ke tempat ini.
Sekarang, semuanya tampak sangat berbeda, bukan berbeda karena kebetulan pertapaan sedang dibangun, tetapi terlebih karena sekarang aku datang bukan lagi sebagai seorang anti Katolik yang membenci Maria dan tata ibadah mereka, melainkan sebagai seorang Katolik yang memboyong rasa rindu akan persatuan dengan Kristus setiap saat dalam Ekaristi kudus.
Waktu pertama kalinya aku menginjakan kaki ke tempat ini, yaitu saat datang bersama teman-teman Legio Maria, aku sama sekali tidak dapat menikmati tempat ini, apalagi ketika mengikuti jam-jam ibadat para rahib. Sebisa mungkin, aku menghindarkan diri dari setiap ibadat mereka yang cuma bisa membuatku jenuh, bengong nggak karuan, kayak anak kucing tersesat di dalam kandang sapi!
Selain itu, lagu-lagu yang mereka nyanyikan juga terdengar sangat menyeramkan di telingaku yang terbiasa mendengarkan lagu berirama pop, jazz, bahkan dangdut kedengarannya jadi jauh lebih baik dari pada mendengarkan lagu mereka yang nggak jelas iramanya, bikin mata merem melek, bukan karena menikmati, tapi karena menahan kantuk.
Jujur saja, waktu itu, aku sangat tersiksa setiap kali mengikuti ibadat mereka. Mau nggak ikut, takut ditinggal sendiri, karena semua teman-teman, berikut suamiku yang pada saat itu masih menjadi kekasihku, ikut menghadirinya. Jadi mau nggak mau aku pun ikut, dari pada ditinggalkan sendirian di dalam kamar!
Saat ibadat malam, ketika lampu dimatikan dan hanya ada satu lampu yang tetap dibiarkan menyala, yaitu lampu yang menyorot pada ukiran Bunda Maria yang melingkari Tabernakel, lalu para rahib mulai menyanyikan lagu yang menyebut-nyebut tentang bunda Maria,tubuhku tiba-tiba saja merinding, bukan karena merasakan hadirat Tuhan, tapi lebih karena aku merasa ngeri sendiri: "Maria kok disembah!" (itu pikiranku dulu, akibat otakku yang kukunci sedemikian rapat, hingga gelap gulita dan pengap karena kekurangan oksigen!!!... Untung saja Tuhan masih bersedia mendobrak pintu diotakku, sehingga aku tak jadi mati lemas karena kehabisan hawa segar, dan membiarkan cahaya masuk serta menjadikan otakku terang benderang)
Yang cukup membuatku terhibur dan sedikit dapat kunikmati waktu kunjungan pertama kali itu: ya, cuma susu sapinya!!
Tapi, kemarin, ketika aku dan suamiku kembali datang ke tempat ini, perasaanku sungguh jauh berbeda. Hatiku sungguh dipenuhi sukacita dan rindu yang meluap-luap. Aku berjanji pada diriku sendiri agar sebisa mungkin jangan sampai ada satu ibadat pun yang terlewatkan!
Meski kelopak mata masih terasa berat karena harus menghadiri ibadat yang jam 3.30 pagi, aku dan suami tetap memaksa diri untuk masuk Kapel minimal 15 menit sebelumnya, walau pun itu berarti kami harus kucek-kucek mata, lompat-lompat, lari keliling pertapaan, malah kalau perlu sampai mandikan sapi dulu agar bisa membuat mata terbuka lebar dan pikiran segar bugar!
Telingaku juga tiba-tiba saja bisa sangat menikmati lagu-lagu mereka yang nadanya sulit diikuti, karena banyak lekak-lekuknya, namun terdengar indah dan menenangkan. Sebisa mungkin aku ikut bermazmur bersama mereka, walau pun hasilnya aku malah menciptakan nada-nada sendiri. Tapi yang pasti, aku sungguh merasakan kasih Tuhan membasuh dan menyelimuti seluruh jiwaku, dan menyulut api cintaku kembali berkobar dengan dahsyatnya!
Aku selalu menantikan jam-jam ibadat mereka, terutama Misa yang jam 06.00 pagi, di mana aku bisa makan tubuh dan minum darah Tuhanku.
Sungguh hari-hari yang sangat menggembirakan. liburan yang sangat bermanfaat, benar-benar refreshing lahir batin!!
Saat ibadat malam, di mana tubuh kami akan segera berbaring di peraduan untuk melepas penat, dan para jangkrik mulai berceloteh menceritakan tentang keagungan Tuhan, kami pun kembali menyanyikan mazmur bagi Tuhan untuk yang ke sekian kalinya dalam satu hari ini. Setiap kata-kata dalam mazmur terasa mengalun begitu syahdu, indah bagaikan sepasang mempelai yang hendak memasuki kamar pengantin yang harum , ceria dengan bunga-bunga bertebaran di segala sudut, dan hangat bagaikan berada dalam dekapan kekasih.
perasaanku menjadi aman dan damai ketika Romo Abas memerciki air suci kepada kami satu per satu. Apa pun yang akan terjadi pada kami ketika malam berpatroli mengintip di sela-sela mimpi-mimpi kami, hati kami akan tetap berjaga bersama dengan Kristus!
Dan, apabila Tuhan memanggil kami pulang, meski saat kami terlelap sekali pun, kami sudah siap, bagaikan tentara perang yang siap sedia bertempur!!
Ketika lagu Salve Regina berkumandang, walau aku tak bisa ikut bernyanyi karena belum hafal kata-katanya, namun aku merasa seperti sedang dikeloni seorang ibu yang jari-jemarinya laksana sutra lembut membelai tiap helai rambutku, tatapannya memancarkan kasih yang meneduhkan seluruh jiwa ragaku. Sambil bibirnya tak lelah menyenandungkan lagu cinta, hingga akhirnya aku jatuh terlelap dalam senyuman.
Sungguh manis, semanis madu yang dijual di pertapaan Rowoseneng!
Sangat murni, semurni susu sapi yang selalu kunikmati setiap sarapan!
Luar biasa nikmat, senikmat masakan yang dibuat para Romo untuk mengisi perut para tamunya!

Oh..., alangkah indahnya Tuhanku...
indah bagaikan untaian mawar yang tengah mekar berkembang.
Suara dentang loncengmu menggema dengan merdunya, seperti seekor sapi yang memanggil para penjaga untuk bergegas mengantarkan makanannya.
Keheninganmu terasa sangat menentramkan, tenang bagaikan tempat peristirahatan para Rahib yang telah berpulang ke keabadian.
tenang..., teduh...,
harum..., seharum kue keju yang masih dalam oven pemanggang.
Oh..., alangkah menyejukannya kasih Tuhanku...!!!
Rabu
Selamat Datang Dalam Keluarga Katolik
"Aku mengagungkan Tuhan, hatiku bersukacita karena Allah, Penyelamatku.
Sebab Ia memperhatikan daku, hambaNya yang hina ini. Mulai sekarang aku disebut yang bahagia oleh sekalian bangsa, sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh yang Mahakuasa. Kuduslah NamaNya.
Kasih sayangNya turun-temurun kepada orang yang takwa. Perkasalah perbuatan tanganNya:
dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya.
Orang yang berkuasa diturunkanNya dari tahta, yang hina dina diangkatNya.
Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan, orang kaya diusirNya pergi dengan tangan kosong.
Menurut janjiNya kepada leluhur kita, Allah telah menolong Israel, hambaNya.
Demi kasih sayangNya kepada Abraham serta keturunannya untuk selama-lamanya."
(Kidung Maria: Luk 1 : 46-55)
*************
Oh my diary..., Akhirnya usai sudah penantianku selama ini.
Hari Jumat kemarin, bertepatan dengan Jumat Agung (2 April 2010), aku dikukuhkan oleh Romo Barnabas Nono, dengan disaksikan oleh Ibu Ruth sebagai pendampingku, serta suami dan temanku Deasy.
Aku sungguh bersyukur atas rahmat yang telah kuterima ini. Tuhan sungguh sangat teramat baik buatku.
Setelah pengukuhan, aku langsung melakukan pengakuan dosa. Awalnya aku benar-benar bingung harus bagaimana, baru kali ini aku disuruh untuk membongkar dosa-dosaku di depan orang. Biasanya kan aku hanya mengaku dosaku di depan Tuhan yang tidak nampak secara fisik, jadi tidak terlalu malu, dibanding harus mengaku dosa kepada orang yang nyata-nyata kelihatan di depan hidungku, apalagi di depan Romo yang sudah kukenal dan juga mengenalku.
Tapi berkat bimbingan Romo, akhirnya pengakuan dosa perdanaku pun dapat berjalan dengan cukup lancar. Dan sebagai penitensi, aku disuruh berdoa Bapa kami 7 kali, Salam Maria 7 kali, dan Kemuliaan 7 kali. (Sampai-sampai ada Salam Maria yang terlewat olehku dan hanya kudoakan setengah saja...:))
Dulu aku menganggap pengakuan dosa di hadapan Romo ini sebagai tindakan yang konyol dan sia-sia.
"Untuk apa susah-susah mengaku dosa di depan orang, kalau ada jalan yang lebih mudah dan instan, yaitu mengaku dosa langsung di depan Tuhan???"
Tapi sekarang baru aku mengerti, kalau dengan mengaku dosa di depan Romo, Imam yang telah ditahbiskan sebagai penerus para Rasul yang telah secara langsung diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk mengampuni dosa orang, akan lebih menghargai makna pengampunan itu sendiri, dan akan berpikir dua kali jika ingin melakukan dosa lagi, apalagi dosa yang sama.
Yohanes 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Seperti yang sudah kurencanakan jauh sebelumnya, nama yang akan kupakai sebagai nama baptisku adalah "Faustina".
Jadi sekarang namaku bertambah satu lagi :
"Faustina Rachel Stefanie Halim" :)))
Dan sekarang, coba kamu tebak, diary sayang... di manakah aku menerima Komuni pertamaku???
Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau aku akan menerima Komuni pertamaku di sebuah Gereja sederhana yang belum pernah kudatangi sebelumnya, dan selalu kulewati namun tidak pernah kusadari keberadaannya, apabila aku sedang pulang ke Sukabumi. Gereja Katholik yang berada persis di sisi jalan Cicurug: "Gereja Katolik Hati Maria Tak Bercela".
Pada saat itu, kami ingin sekali mengikuti Misa Jumat Agung yang dimulai pada jam 3 sore, sementara perjalanan kami baru sampai Lido. Tidak mungkin lagi mengejar Misa di Gereja Katolik Sukabumi. Jadi kami cepat-cepat searching di internet, mencari Gereja Katolik yang berada di dekat-dekat Lido, dan akhirnya kami pun tiba di Gereja Hati Maria Tak Bercela jam setengah tiga.
Mazmur 65
65:5 Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu
yang kudus.
Sebab Ia memperhatikan daku, hambaNya yang hina ini. Mulai sekarang aku disebut yang bahagia oleh sekalian bangsa, sebab perbuatan besar dikerjakan bagiku oleh yang Mahakuasa. Kuduslah NamaNya.
Kasih sayangNya turun-temurun kepada orang yang takwa. Perkasalah perbuatan tanganNya:
dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya.
Orang yang berkuasa diturunkanNya dari tahta, yang hina dina diangkatNya.
Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan, orang kaya diusirNya pergi dengan tangan kosong.
Menurut janjiNya kepada leluhur kita, Allah telah menolong Israel, hambaNya.
Demi kasih sayangNya kepada Abraham serta keturunannya untuk selama-lamanya."
(Kidung Maria: Luk 1 : 46-55)
*************
Oh my diary..., Akhirnya usai sudah penantianku selama ini.
Hari Jumat kemarin, bertepatan dengan Jumat Agung (2 April 2010), aku dikukuhkan oleh Romo Barnabas Nono, dengan disaksikan oleh Ibu Ruth sebagai pendampingku, serta suami dan temanku Deasy.
Aku sungguh bersyukur atas rahmat yang telah kuterima ini. Tuhan sungguh sangat teramat baik buatku.
Setelah pengukuhan, aku langsung melakukan pengakuan dosa. Awalnya aku benar-benar bingung harus bagaimana, baru kali ini aku disuruh untuk membongkar dosa-dosaku di depan orang. Biasanya kan aku hanya mengaku dosaku di depan Tuhan yang tidak nampak secara fisik, jadi tidak terlalu malu, dibanding harus mengaku dosa kepada orang yang nyata-nyata kelihatan di depan hidungku, apalagi di depan Romo yang sudah kukenal dan juga mengenalku.
Tapi berkat bimbingan Romo, akhirnya pengakuan dosa perdanaku pun dapat berjalan dengan cukup lancar. Dan sebagai penitensi, aku disuruh berdoa Bapa kami 7 kali, Salam Maria 7 kali, dan Kemuliaan 7 kali. (Sampai-sampai ada Salam Maria yang terlewat olehku dan hanya kudoakan setengah saja...:))
Dulu aku menganggap pengakuan dosa di hadapan Romo ini sebagai tindakan yang konyol dan sia-sia.
"Untuk apa susah-susah mengaku dosa di depan orang, kalau ada jalan yang lebih mudah dan instan, yaitu mengaku dosa langsung di depan Tuhan???"
Tapi sekarang baru aku mengerti, kalau dengan mengaku dosa di depan Romo, Imam yang telah ditahbiskan sebagai penerus para Rasul yang telah secara langsung diberi kuasa oleh Tuhan Yesus untuk mengampuni dosa orang, akan lebih menghargai makna pengampunan itu sendiri, dan akan berpikir dua kali jika ingin melakukan dosa lagi, apalagi dosa yang sama.
Yohanes 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."
Seperti yang sudah kurencanakan jauh sebelumnya, nama yang akan kupakai sebagai nama baptisku adalah "Faustina".
Jadi sekarang namaku bertambah satu lagi :
"Faustina Rachel Stefanie Halim" :)))
Dan sekarang, coba kamu tebak, diary sayang... di manakah aku menerima Komuni pertamaku???
Tidak pernah terbayang sebelumnya kalau aku akan menerima Komuni pertamaku di sebuah Gereja sederhana yang belum pernah kudatangi sebelumnya, dan selalu kulewati namun tidak pernah kusadari keberadaannya, apabila aku sedang pulang ke Sukabumi. Gereja Katholik yang berada persis di sisi jalan Cicurug: "Gereja Katolik Hati Maria Tak Bercela".
Pada saat itu, kami ingin sekali mengikuti Misa Jumat Agung yang dimulai pada jam 3 sore, sementara perjalanan kami baru sampai Lido. Tidak mungkin lagi mengejar Misa di Gereja Katolik Sukabumi. Jadi kami cepat-cepat searching di internet, mencari Gereja Katolik yang berada di dekat-dekat Lido, dan akhirnya kami pun tiba di Gereja Hati Maria Tak Bercela jam setengah tiga.
Mazmur 65
65:5 Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu
yang kudus.
Langganan:
Postingan (Atom)