Akhirnya hari Natal datang juga!!
Hari ini aku dan ko Wiria pergi ke Misa Natal Lansia. Banyak sekali omah-omah dan opah-opah yang menghadiri Misa tersebut.
Selesai Misa, mereka digiring
ke aula untuk mengikuti acara selanjutnya, yaitu makan siang, sambil dihibur oleh penampilan Dorce jadi-jadian.
Hehehe..., maksudnya gaya and penampilannya
aja yang mirip Dorce, padahal namanya sih bukan Dorce. Nggak tau siapa, abis ga sempet kenalan sih.
Dia menghibur para Lansia dengan lagu-lagu tahun 60-an.
Asli, suaranya muantep abis!
Kadang-kadang dia nyanyi dengan dua suara, cowok sama cewek. Buat aku yang nggak bisa lihat, bener-bener ngerasa kalo lagu itu dinyanyikan oleh dua orang.
Pokoknya yahut banget deh!
Omah sama opahnya juga sangat menikmati, bahkan ada yang sampai ikut nyanyi sambil joget.
Aku waktu itu cuma memperhatikan dari belakang, soalnya aku ke situ pun buat temenin ko Wiria yang sibuk mondar-mandir buat bantuin apa aja yang perlu
dibantu.
Tadinya aku duduk di kursi deket meja penerima tamu.
Hmmm, bukan..., lebih tepatnya, meja yang penuh sama bingkisan Natal. Tapi, lama-lama aku jadi ngerasa nggak enak sendiri, soalnya Lansianya makin banyak yang dateng, sementara kursinya kurang. Aku berusaha cari denger di mana suara ko Wiria, buat minta supaya aku dibawa ke tempat yang lebih aman dan ..., tentu aja, tempat yang lebih sopan...
Aku kan nggak mau kalo sampe dibilang anak muda yang nggak sopan, karena dengan tak tahu diri sudah menduduki kursi yang memang seharusnya diperuntukan
bagi para Lansia. Akhirnya, karena suara ko Wiria nggak juga kedengeran, aku memberanikan diri beranjak selangkah demi selangkah mundur kebelakang sampai
punggungku menyentuh tembok . Rasanya tembok menjadi sahabat yang menyelamatkanku dari hiruk pikuk dan, yang paling penting, dari ancaman orang yang akan
mengataiku, "tidak tahu pri kesopanan!"
Tapi, walau kakiku lumayan pegel berdiri terus, aku merasa senang dan sangat terkesan dengan para anak muda di situ yang dengan semangat dan tulus mendampingi
para Lansia. Mereka benar-benar anak muda yang memiliki hati seorang pelayan.
Pulangnya, kami kebagian sekotak nasi karena masih ada stok lebih. Ditengah perjalanan menuju Bakmi Singapur buat makan siang, ko Wiria bertemu dengan
tukang sapu jalanan, dan memberikan kotak nasi itu kepada bapak tersebut.
Abis makan siang, aku mengajak ko Wiria mampir ke Mall Ciputra, karena aku kepengen beli baju. Setelah putar-putar, keluar masuk toko baju, dan meraba
sana-sini, aku mendapatkan dua baju dan ko Wiria satu kaos.
Nggak terasa hari udah sore, padahal rencana kami masih dua lagi, kunjungan ke rumah Omah Farma yang sedang sakit, sama ke rumah mamanya ko Wiria buat
ngucapin selamat Natal.
Tapi, ternyata kami cuma bisa mampir ke rumah Omah Farma aja, karena pas mau pulang, sehabis ngobrol panjang lebar dengan kedua Omah kakak beradik tersebut,
hujan turun, dan membuat kami berdua cukup kebasahan di atas motor.
Ini pengalaman baru buatku. Merayakan Natal bersama Omah dan Opah.
Ada satu kalimat yang berkesan dari Romo :
"Omah dan Opah harus bersyukur karena sudah Tuhan berikan usia lanjut, karena belum tentu orang lain, atau anak cucu kita bisa merasakan seperti itu. Hidup
sampai usia lanjut!!"
Aku dan ko Wiria sendiri sudah mengikuti Misa Natal kemarin malam. Misa dimulai jam 8.30. Tapi dari jam 7.00, umat sudah banyak yang dateng. Dan, karena
kami datang tepat waktu, alias jam 8.30 teng, akhirnya kami kebagian duduk di luar. Kepanasan dan berisik!
Lain kali, kita datengnya 3 jam sebelumnya aja deh!!!
Gubrak!!!!!!!
Aku ini seorang tunanetra. Katanya sih penyebabnya adalah Retinitis Pigmentosa. Makanya aku menjuluki diriku sendiri: "Si gadis remang-remang", karena duniaku memang selalu terlihat remang-remang, redup, nyaris padam! :)
Kamis
Jumat
Sarapan "Cumi"
Kemarin aku goreng cumi, gosong abis!!
Abis tadinya kukira kalo bunyi letupan minyaknya agak mereda, berarti cuminya udah matang dan bisa diangkat. eh ternyata..., keburu gosong!!
Alhasil..., batal deh sarapan pake cumi.
Yang ada, jadi CUMI, alias, CUMA MINGKEM!!!
Hehehehe....
Abis tadinya kukira kalo bunyi letupan minyaknya agak mereda, berarti cuminya udah matang dan bisa diangkat. eh ternyata..., keburu gosong!!
Alhasil..., batal deh sarapan pake cumi.
Yang ada, jadi CUMI, alias, CUMA MINGKEM!!!
Hehehehe....
What You Believe Is What You Get
Kisah yang sangat bagus, dapat menjadi bahan perenungan kita bersama. Khususnya buat teman-teman penyandang cacat yang berpikir kalau kecacatan adalah akhir segalanya, bahwa keterbatasan kita adalah suatu penghalang terbesar untuk melangkah menuju keberhasilan!
Nick adalah seorang yang besar, kuat dan keras, yang bekerja
di suatu langsiran kereta api selama bertahun-tahun. Ia
adalah salah seorang pegawai terbaik perusahaannya - selalu
tiba tepat waktu, dapat diandalkan, pekerja keras yang dapat
menyesuaikan diri dengan para pegawai lainnya.
Tetapi Nick mempunyai satu masalah besar. Sikapnya
terus-menerus negatif. Ia dikenal di sekitar langsiran
kereta api itu sebagai orang yang paling pesimis di tempat
kerja. Ia selalu takut pada hal yang terburuk dan
terus-menerus khawatir, takut bahwa sesuatu yang buruk akan
terjadi.
Suatu hari musim panas, para pegawai diberitahukan bahwa
mereka dapat pulang satu jam lebih awal untuk merayakan
ulang tahun mandor mereka. Semua pekerja pergi, tetapi entah
bagaimana, Nick secara kebetulan terkunci dalam sebuah mo
bil boks pendingin yang telah dibawa ke langsirang kereta
api itu untuk diperbaiki. Mobil boks itu kosong dan tidak
terhubung dengan satu kereta pun.
Saat Nick menyadari bahwa ia terkunci di dalam mobil boks
pendingin itu, ia panik. Nick mulai memukuli pintu-pintu
begitu kerasnya sehingga lengan dan tinjunya berdarah. Ia
menjerit dan menjerit, tetapi para rekan kerjanya telah
pulang ke rumah untuk bersiap ke pesta itu. Tak seorang pun
dapat mendengar panggilan minta tolong Nick yang putus asa.
Lagi dan lagi ia memanggil, sampai suaranya menjadi suatu
bisikan serak.
Karena sadar bahwa ia ada dalam mobil boks, Nick mengira
bahwa suhu dalam mobil itu jauh di bawah titik beku, mungkin
serendah lima atau sepuluh derajat Fahrenheit. Nick takut
pada hal terburuk. Ia mengira, Apakah yang akan kulakukan?
Jika aku tidak keluar dari sini, aku akan membeku sampai
mati! Aku tidak bisa tinggal di sini sepanjang malam.
Semakin ia memikirkan keadaan-keadaannya, semakin dingin
rasa tubuhnya. Dengan pintu tertutup rapat, dan tak ada
jalan keluar yang tampak, ia duduk menunggu kematiannya yang
tak terhindari dengan mati membeku atau kekurangan udara,
yang mana yang datang lebih dahulu.
Waktu berlalu, ia memutuskan untuk mencatat tentang
kematiannya. Ia menemukan sebatang pena dalam saku kemejanya
dan melihat selembar karton tua bekas di sudut mobil itu.
Sambil gemetar hampir tak terkendalikan, ia menulis
cepat-cepat sebuah pesan untuk keluarganya. Di dalamnya Nick
mencatat kemungkinan- kemungkinannya yang menakutkan:
"Semakin kedingingan. Tubuh mati rasa. Jika aku tidak segera
keluar, ini mungkin akan menjadi kata-kata terakhirku."
Dan memang demikian...
Pagi berikutnya, saat para pegawai datang bekerja, mereka
membuka mobil boks itu dan menemukan tubuh Nick rubuh di
sudut. Saat otopsi diselesaikan, ternyata Nick memang
membeku sampai mati.
Nah, sekarang adalah teka-teki yang menarik: para
investigator menemukan bahwa unit pendingin bagi mobil di
mana Nick telah terjebak itu bahkan tidak menyala! Nyatanya,
mobil itu sudah rusak untuk beberapa waktu dan tidak
berfungsi pada saat Nick mati. Suhu dalam mobil tersebut
malam itu -malam Nick membeku sampai mati- adalah enam puluh
satu derajat Fahrenheit! Nick membeku sampai mati dalam suhu
yang sedikit kurang dari suhu ruangan normal karena ia
percaya bahwa ia ada dalam sebuah mobil boks yang membeku.
Ia mengharapkan untuk mati! Ia yakin bahwa ia tidak
mempunyai kesempatan sedikit pun. Ia mengharapkan yang
terburuk terjadi pada dirinya. Ia melihat dirinya sendiri
ditakdirkan tidak dapat lolos. Ia kalah dalam peperangan
dalam pikirannya sendiri!
Bagi Nick, hal yang ia takutkan dan harapkan terjadi,
terwujud juga. Pepatah lama "Kehidupan adalah suatu nubuatan
yang dipenuhi sendiri" memang benar baginya. Itu biasanya
terjadi dalam kehidupan anda juga. Banyak orang pada masa
kini sama dengan Nick. Mereka selalu mengharapkan yang
terburuk. Mereka mengharapkan kekalahan. Mereka mengharapkan
kegagalan. Mereka mengharapkan keadaan biasa-biasa saja.
Dan, mereka biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan;
mereka menjadi apa yang mereka percayai.
Tetapi anda dapat mempercayai hal-hal baik. Saat anda
menghadapi masa sukar, jangan berharap untuk tetap tinggal
di sana. Harapkanlah untuk keluar dari masalah itu.
Harapkanlah Tuhan untuk secara ajaib mengubahnya.
Saat bisnis menjadi sedikit sepi, jangan harapkan untuk
bangkrut; jangan membuat rencana-rencana untuk gagal.
Berdoalah dan harapkanlah Tuhan untuk mendatangkan para
pelanggan kepada anda.
Jika anda mengalami kesukaran-kesukaran dalam pernikahan
anda, jangan hanya menyerah dalam frustasi dan berkata, "Aku
seharusnya tahu bahwa pernikahan ini memang ditakdirkan
untuk gagal sejak semula."
Tidak! Jika anda sedang melakukannya, berarti anda sedang
menanggapi dengan cara Nick. Pengharapan anda yang lemah
akan menghancurkan pernikahan anda; cara berpikir anda yang
salah akan menjatuhkan anda. Anda harus mengubah cara
berpikir anda. Ubahlah yang anda harapkan. Berhentilah
mengharapkan untuk gagal. Mulailah mempercayai bahwa anda
akan berhasil!
Bahkan jika fondasi hidup anda runtuh, sikap anda seharusnya
adalah: "Tuhan, aku tahu bahwa Engkau akan mengubah ini dan
menggunakannya untuk kebaikanku. Tuhan, aku percaya, bahwa
Engkau akan membawaku keluar lebih kuat dibanding
sebelumnya..."
Quoted from "Your Best Life" Now by Joel Osteen
Jika A sama dengan sukses dalam hidup, maka A sama dengan X
ditambah Y, ditambah Z. X sama dengan work hard, Y sama
dengan play hard, dan Z sama dengan shaddap.
Albert Einstein
Nick adalah seorang yang besar, kuat dan keras, yang bekerja
di suatu langsiran kereta api selama bertahun-tahun. Ia
adalah salah seorang pegawai terbaik perusahaannya - selalu
tiba tepat waktu, dapat diandalkan, pekerja keras yang dapat
menyesuaikan diri dengan para pegawai lainnya.
Tetapi Nick mempunyai satu masalah besar. Sikapnya
terus-menerus negatif. Ia dikenal di sekitar langsiran
kereta api itu sebagai orang yang paling pesimis di tempat
kerja. Ia selalu takut pada hal yang terburuk dan
terus-menerus khawatir, takut bahwa sesuatu yang buruk akan
terjadi.
Suatu hari musim panas, para pegawai diberitahukan bahwa
mereka dapat pulang satu jam lebih awal untuk merayakan
ulang tahun mandor mereka. Semua pekerja pergi, tetapi entah
bagaimana, Nick secara kebetulan terkunci dalam sebuah mo
bil boks pendingin yang telah dibawa ke langsirang kereta
api itu untuk diperbaiki. Mobil boks itu kosong dan tidak
terhubung dengan satu kereta pun.
Saat Nick menyadari bahwa ia terkunci di dalam mobil boks
pendingin itu, ia panik. Nick mulai memukuli pintu-pintu
begitu kerasnya sehingga lengan dan tinjunya berdarah. Ia
menjerit dan menjerit, tetapi para rekan kerjanya telah
pulang ke rumah untuk bersiap ke pesta itu. Tak seorang pun
dapat mendengar panggilan minta tolong Nick yang putus asa.
Lagi dan lagi ia memanggil, sampai suaranya menjadi suatu
bisikan serak.
Karena sadar bahwa ia ada dalam mobil boks, Nick mengira
bahwa suhu dalam mobil itu jauh di bawah titik beku, mungkin
serendah lima atau sepuluh derajat Fahrenheit. Nick takut
pada hal terburuk. Ia mengira, Apakah yang akan kulakukan?
Jika aku tidak keluar dari sini, aku akan membeku sampai
mati! Aku tidak bisa tinggal di sini sepanjang malam.
Semakin ia memikirkan keadaan-keadaannya, semakin dingin
rasa tubuhnya. Dengan pintu tertutup rapat, dan tak ada
jalan keluar yang tampak, ia duduk menunggu kematiannya yang
tak terhindari dengan mati membeku atau kekurangan udara,
yang mana yang datang lebih dahulu.
Waktu berlalu, ia memutuskan untuk mencatat tentang
kematiannya. Ia menemukan sebatang pena dalam saku kemejanya
dan melihat selembar karton tua bekas di sudut mobil itu.
Sambil gemetar hampir tak terkendalikan, ia menulis
cepat-cepat sebuah pesan untuk keluarganya. Di dalamnya Nick
mencatat kemungkinan- kemungkinannya yang menakutkan:
"Semakin kedingingan. Tubuh mati rasa. Jika aku tidak segera
keluar, ini mungkin akan menjadi kata-kata terakhirku."
Dan memang demikian...
Pagi berikutnya, saat para pegawai datang bekerja, mereka
membuka mobil boks itu dan menemukan tubuh Nick rubuh di
sudut. Saat otopsi diselesaikan, ternyata Nick memang
membeku sampai mati.
Nah, sekarang adalah teka-teki yang menarik: para
investigator menemukan bahwa unit pendingin bagi mobil di
mana Nick telah terjebak itu bahkan tidak menyala! Nyatanya,
mobil itu sudah rusak untuk beberapa waktu dan tidak
berfungsi pada saat Nick mati. Suhu dalam mobil tersebut
malam itu -malam Nick membeku sampai mati- adalah enam puluh
satu derajat Fahrenheit! Nick membeku sampai mati dalam suhu
yang sedikit kurang dari suhu ruangan normal karena ia
percaya bahwa ia ada dalam sebuah mobil boks yang membeku.
Ia mengharapkan untuk mati! Ia yakin bahwa ia tidak
mempunyai kesempatan sedikit pun. Ia mengharapkan yang
terburuk terjadi pada dirinya. Ia melihat dirinya sendiri
ditakdirkan tidak dapat lolos. Ia kalah dalam peperangan
dalam pikirannya sendiri!
Bagi Nick, hal yang ia takutkan dan harapkan terjadi,
terwujud juga. Pepatah lama "Kehidupan adalah suatu nubuatan
yang dipenuhi sendiri" memang benar baginya. Itu biasanya
terjadi dalam kehidupan anda juga. Banyak orang pada masa
kini sama dengan Nick. Mereka selalu mengharapkan yang
terburuk. Mereka mengharapkan kekalahan. Mereka mengharapkan
kegagalan. Mereka mengharapkan keadaan biasa-biasa saja.
Dan, mereka biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan;
mereka menjadi apa yang mereka percayai.
Tetapi anda dapat mempercayai hal-hal baik. Saat anda
menghadapi masa sukar, jangan berharap untuk tetap tinggal
di sana. Harapkanlah untuk keluar dari masalah itu.
Harapkanlah Tuhan untuk secara ajaib mengubahnya.
Saat bisnis menjadi sedikit sepi, jangan harapkan untuk
bangkrut; jangan membuat rencana-rencana untuk gagal.
Berdoalah dan harapkanlah Tuhan untuk mendatangkan para
pelanggan kepada anda.
Jika anda mengalami kesukaran-kesukaran dalam pernikahan
anda, jangan hanya menyerah dalam frustasi dan berkata, "Aku
seharusnya tahu bahwa pernikahan ini memang ditakdirkan
untuk gagal sejak semula."
Tidak! Jika anda sedang melakukannya, berarti anda sedang
menanggapi dengan cara Nick. Pengharapan anda yang lemah
akan menghancurkan pernikahan anda; cara berpikir anda yang
salah akan menjatuhkan anda. Anda harus mengubah cara
berpikir anda. Ubahlah yang anda harapkan. Berhentilah
mengharapkan untuk gagal. Mulailah mempercayai bahwa anda
akan berhasil!
Bahkan jika fondasi hidup anda runtuh, sikap anda seharusnya
adalah: "Tuhan, aku tahu bahwa Engkau akan mengubah ini dan
menggunakannya untuk kebaikanku. Tuhan, aku percaya, bahwa
Engkau akan membawaku keluar lebih kuat dibanding
sebelumnya..."
Quoted from "Your Best Life" Now by Joel Osteen
Jika A sama dengan sukses dalam hidup, maka A sama dengan X
ditambah Y, ditambah Z. X sama dengan work hard, Y sama
dengan play hard, dan Z sama dengan shaddap.
Albert Einstein
Menggoreng? Siapa Takut!!
Horeee..., sekarang aku udah bisa goreng tempe 'n tahu sendiri lho!!
Waktu pertama kalinya sih, aku coba goreng telur, dan agak sedikit gosong. hehehe...
Tapi, kemarin aku berhasil goreng tempe dan tahu tanpa gosong!
Cuma ada satu tempe yang mental dan jatuh ke lantai, gara-gara waktu aku mau pindahin tempe yang udah matang itu dari kuali ke saringan, aku pegang saringannya miring kekiri. alhasil tempenya terjun bebas deh ke lantai. Untung yang jatuh cuma satu. coba kalo semuanya, wah..., bisa batal deh kita makan malam. hehehe...
Dulu, aku paling takut sama minyak panas. Setiap mau coba menggoreng sesuatu, pasti aku udah ancang-ancang dari jarak tertentu buat melempar lauknya ke kuali, padahal, aku kan nggak bisa lihat dimana persisnya letak kuali tersebut. Yang ada, minyaknya jadi muncrat ke sana-sini.
Melihat tingkahku yang super konyol itu, akhirnya ko Wiria mengambil alih urusan goreng-menggoreng.
Aku mulai berpikir, gimana ya supaya aku berani dan bisa menggoreng sendiri...????
Akhirnya, aku diam-diam mencoba menggoreng lagi.
Dengan berbekal keberanian master cook, aku mencoba memasukan tempe dan tahunya itu perlahan-lahan. Pertama-tama aku pastikan dulu letak pinggiran kuali dengan ujung centong, setelah itu, aku mulai menaruh tempe dan tahu tersebut satu per satu dari pinggir kuali. Alhasil, tempe dan tahu itu menggelosor sendiri dengan manisnya ke tengah kuali, di mana sudah menanti minyak goreng yang bergolak.
Nah, sekarang, tinggal gimana caranya membalikan tempe dan tahunya, biar nggak gosong sebelah. Kan kasihan kalo ko Wiria harus makan tempe gosong lagi. hehehe...
Aku mengambil sendok atau garpu, dan kupegang di tangan sebelah kiri untuk meraba-raba di mana letak tempe dan tahunya, sementara tangan kanan tetap memegang centong. Dan saat membalik, sendok berfungsi untuk menahan, supaya tempenya nggak kabur ke mana-mana, sementara centong untuk membalik.
Ahha..., hidangan sudah siap...!!!
Waktunya menyicipi tempe dan tahu goreng buatan Rachel...!! :-D
Waktu pertama kalinya sih, aku coba goreng telur, dan agak sedikit gosong. hehehe...
Tapi, kemarin aku berhasil goreng tempe dan tahu tanpa gosong!
Cuma ada satu tempe yang mental dan jatuh ke lantai, gara-gara waktu aku mau pindahin tempe yang udah matang itu dari kuali ke saringan, aku pegang saringannya miring kekiri. alhasil tempenya terjun bebas deh ke lantai. Untung yang jatuh cuma satu. coba kalo semuanya, wah..., bisa batal deh kita makan malam. hehehe...
Dulu, aku paling takut sama minyak panas. Setiap mau coba menggoreng sesuatu, pasti aku udah ancang-ancang dari jarak tertentu buat melempar lauknya ke kuali, padahal, aku kan nggak bisa lihat dimana persisnya letak kuali tersebut. Yang ada, minyaknya jadi muncrat ke sana-sini.
Melihat tingkahku yang super konyol itu, akhirnya ko Wiria mengambil alih urusan goreng-menggoreng.
Aku mulai berpikir, gimana ya supaya aku berani dan bisa menggoreng sendiri...????
Akhirnya, aku diam-diam mencoba menggoreng lagi.
Dengan berbekal keberanian master cook, aku mencoba memasukan tempe dan tahunya itu perlahan-lahan. Pertama-tama aku pastikan dulu letak pinggiran kuali dengan ujung centong, setelah itu, aku mulai menaruh tempe dan tahu tersebut satu per satu dari pinggir kuali. Alhasil, tempe dan tahu itu menggelosor sendiri dengan manisnya ke tengah kuali, di mana sudah menanti minyak goreng yang bergolak.
Nah, sekarang, tinggal gimana caranya membalikan tempe dan tahunya, biar nggak gosong sebelah. Kan kasihan kalo ko Wiria harus makan tempe gosong lagi. hehehe...
Aku mengambil sendok atau garpu, dan kupegang di tangan sebelah kiri untuk meraba-raba di mana letak tempe dan tahunya, sementara tangan kanan tetap memegang centong. Dan saat membalik, sendok berfungsi untuk menahan, supaya tempenya nggak kabur ke mana-mana, sementara centong untuk membalik.
Ahha..., hidangan sudah siap...!!!
Waktunya menyicipi tempe dan tahu goreng buatan Rachel...!! :-D
Senin
Puncak, Cimori, Dan Romo Yohanes
Sabtu kemarin, aku,suami dan mertua perempuanku pergi ke Puncak, dalam rangka mengendorkan otot-otot yang kencang, dan mengencangkan kembali semangat yang sudah agak kendor.
Membuang semua hawa Jakarta yang bikin mumet, dan menggantinya dengan udara segar pegunungan.
Kami berangkat sekitar jam setengah dua, dengan mengendarai si Merah, mobil Atoz mungil yang selalu setia menemani perjalanan kami. Biar kecil, tapi si Merah sudah menjelajah cukup jauh, bukan cuma antar kota, tapi juga antar propinsi!
Emang si Merah itu kecil-kecil cabe merah!
biar kecil, tapi warnanya merah!
hehehe...
Mmmuaaach, i love you Merah!!
Perjalanan cukup lancar.
Sekitar jam tiga, kami mampir ke Cimori untuk makan siang. Eitz, sori, bukan makan siang, karena aku dan ko Wiria sebelum pergi tadi sudah makan bakwan dulu, jadi ini bisa dibilang makan sore.
Sebenernya sih aku ke situ cuma mau ngincer susu segarnya doang, tapi kayaknya nggak enak deh kalo nggak dibarengi dengan makan juga. Padahal aku udah tahu kalo makanan di situ kurang enak. Mahal sih, iya.
Akhirnya aku memesan Steak ayam.
Waktu pelayan datang dan menyajikan steak pesananku,
Wow..., sungguh luar biasa!!!
ternyata bukan hanya daging ayamnya aja yang dihidangkan di atas Hot-plate, tapi bulu ayamnya juga nggak ketinggalan turut dihidangkan!
Untung aja ko Wiria langsung melihatnya, dan minta segera diganti dengan yang baru.
Hu-hu-hu..., selera makanku langsung menyusut deh...
Entah steak itu benaran diganti atau cuma bulu ayamnya aja yang disingkirkan...,
who knows???
Yang pasti, aku tetap menyantap steak tersebut dengan kepercayaan penuh pada sang pelayan yang berkata :
"Maaf, kami sudah mengganti yang baru..., benar-benar baru!"
Ho-ho-ho, aku harus buru-buru menyetel otakku nih biar daging ayam ini bisa tetap masuk ke perutku yang sebenarnya nggak terlalu lapar. Anggap aja bulu ayam itu memiliki vitamin yang belum sempat diteliti oleh profesor manapun!
wakswakswakswaks...
Untung masih ada susu segar rasa pisang yang cukup menghiburku. Yah..., mudah-mudahan aja susu itu bisa menetralisir racun-racun yang sedang bergrilia di dalam perutku. hehehe...
Selesai makan, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Vila yang terletak di Kota Bunga.
Vila bertipe Jepang itu masih berdiri dengan anggunya, tapi sayang, karena jarang ditinggali, para rayap mulai berpesta pora menggerogoti kayu-kayunya.
Vila ini sudah cukup lama dimiliki keluargaku. Dulu kami sering berlibur di sini, berkumpul dengan saudara-saudara dan para sepupuhku, terutama kalo lagi libur panjang. Terakhir kami menginap di sini waktu tahun baru kemarin.
Ko Wiria harus adu kuat dulu dengan kunci pintu yang susah banget diputar, sampe akhirnya pertarungan dimenangkan oleh ko Wiria yang berhasil membuka pintunya.
Di dalam nggak terlalu kotor, soalnya dua Minggu yang lalu mami dan papi baru aja datang dan menginap di sini.
Kami beristirahat sebentar, dan sekitar jam stengah delapan, kami pergi untuk mencari makan malam.
Setelah memilah-milah makanan apa yang akan mampir di perut kami, akhirnya pilihan jatuh pada 'Bakso Lapangan Tembak'.
Sempat terjadi perpindahan daging tetelan dari mangkuk ko Wiria ke mangkuk mamanya, dan dari mangkuk mamanya ke mangkuk ko Wiria. Alhasil, daging tetelan itu tersingkirkan dari mangkuk keduanya.
aku sih cuma jadi penonton aja, soalnya ruang di perutku tidak pernah pilih-pilih dalam menerima penghuni. Asalkan bersih dan layak, silakan aja! Tapi jangan lupa keluar lagi setelah merasa cukup puas di dalam, biar perutku nggak kembung dan menjadi gendut!
Harga satu mangkuk = Rp. 17.000. Dengan ataupun tanpa tetelan! :-P
Setelah itu, kami mampir ke Brasko. Aku ingin sekali membeli sweater warna merah. Ada sih yang lumayan bagus, dengan tulisan "ITALI" di dadanya. Tapi pas ngintip harganya, "Rp. 200 ribu lebih"?
Ogah ah..., masa sweter kayak gitu aja sampe 200 ribu. nggak rela ah...!!
kami cuma berputar-putar sebentar, sangat sebentar, dan keluar dari Brasko dengan hanya menenteng sebuah handuk kecil untuk mertuaku yang kelupaan bawa handuk, plus, kantong bertuliskan 'Brasko'!
wkwkwkwkakakakakkkkk...
Lumayan kan???? :-D
Besoknya, kami pergi Misa di Lembah Karmel (Romo Yohanes).
Aku nggak tau kalo ada Misa penyembuhan, soalnya yang aku pernah denger kalo Misa penyembuhan itu diadakan pada Minggu kedua dan keempat, sementara kemarin kan masih Minggu ketiga.
Emang kadang-kadang Rachel ini sok tahu ya! hehehe...
Dan gara-gara ke-soktahuan aku yang bilang kalo Misa itu dimulai jam 10, akibatnya, kami terlambat 15 menit, soalnya ternyata Misa dimulainya jam setengah sepuluh!
Maap ya. :-)
Gereja bener-bener penuh, sampe kami harus duduk di Jendela paling belakang.
Ini adalah yang kedua kalinya aku mengikuti Misa di sini. Pertama kali aku pergi dengan anak-anak Legio Maria. Dan waktu itu juga pas ada Misa penyembuhan.
Aku berdoa dalam hati agar Tuhan mau menyembuhkan mataku, sementara Romo terus mengundang umat yang jenis penyakitnya disebutkan untuk bangkit berdiri, karena Tuhan akan menyembuhkannya.
Aku merasa seperti sedang menunggu antrian untuk masuk ke ruang priksa dokter. Hatiku H2C, alias Harap-Harap Cemas. Kira-kira jenis penyakitku akan disebutkan apa nggak ya?
Tiba-tiba aku mendengar Romo berkata :
"Di sini ada seseorang yang memiliki gangguan pada matanya..."
Deg!
Rasanya jantungku berhenti berdetak, berikut nafasku yang ikut-ikutan mogok.
"Aku bukan ya?" Aku masih menunggu Romo melanjutkan kata-katanya.
"Seorang yang matanya terkena glukoma!"
Gubrak!
Glukoma?
kenapa harus yang glukoma??
aku ini Retina Pigmentosa, bukan glukoma!
Dan seorang pemuda bangkit berdiri.
"bersyukurlah pada Tuhan, karena Tuhan akan menyembuhkanmu!" Begitulah perintah Romo pada pemuda itu.
Aku segera memeriksa jantungku. ow, ternyata sudah berfungsi lagi dengan normal.
Baguslah, jadi kan aku nggak perlu susah-susah berdiri kalo Romo menyebutkan jenis penyakit jantung. hihihi...
Sekarang, waktu hari Minggu kemarin, Romo kembali menyebutkan jenis-jenis penyakit yang ia denger langsung dari Tuhan. Ada yang kena tumor payu dara, tidak bisa tidur, tenggorokan sakit sehingga tidak bisa menelan makanan, ada yang sakit ginjal, Etc, etc.
Tapi sama sekali aku nggak mendengar tentang mata. Entah itu mata glukoma, mata mines, mata sipit, mata-mata..., hehehe...
Pokoknya penyakitku sama sekali nggak disebutkan.
aku bertanya-tanya pada Tuhan :
"Kenapa aku dilewatkan, Tuhan?"
"Kenapa Tuhan tidak mengingatku?"
"Apa aku terlalu belakang, sampe-sampe Tuhan melupakanku?"
Aku teringat dengan perkataan teman baikku, Ferdi.
Waktu itu, kami sedang pergi ke KKR penyembuhan di Bandung. Dan waktu pulang, mami mengajukan pertanyaan kepada kami dan beberapa orang yang semobil dengan kami :
"Kenapa ya Tuhan kok malah menyembuhkan anak tetangga (Nonkristen), tapi anak sendiri nggak Dia sembuhkan?"
Ferdi yang menjawab :
"Mungkin Tuhan tahu , walaupun Rachel nggak Dia sembuhkan, tapi Rachel akan tetap setia sama Tuhan. Sementara mereka..., mereka membutuhkan tanda untuk bisa percaya pada Tuhan!""
Perkataan itulah yang sampe sekarang menjadi kekuatan buatku.
Aku nggak lagi merasa kecewa seperti dulu.
Dulu, aku sering merasa kecewa kalo Tuhan nggak menyembuhkanku di KKR atau Misa penyembuhan seperti ini. Bahkan aku sering pulang dengan perasaan sedih dan marah. Tapi sekarang, aku mulai bisa menyingkirkan perasaan kecewa itu dan menggantinya dengan keyakinan bahwa Tuhan tetap memperhatikanku dan menjagaku. Aku nggak mau kalo sampe perasaan kecewa itu membuat hatiku menjadi lemah.
Meski nggak bisa dipungkiri juga kalo aku masih berharap sekali Tuhan akan melirikku dan mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah mataku.
Dan alhasil, kemarin aku bisa meninggalkan Gereja dengan perasaan ringan dan senang. Melanjutkan perjalanan kami kembali dengan penuh keceriaan dan berkat yang sudah kami terima tadi dari Tuhan.
Nah, Diary, begitulah kisah perjalananku kemarin.
Yang pasti, kami pulang dengan selamat sampe rumah, soalnya kalo nggak, mana mungkin sekarang aku bisa bercerita pada kamu.
Iya kan, Diary sayang??
Sayonara...
Membuang semua hawa Jakarta yang bikin mumet, dan menggantinya dengan udara segar pegunungan.
Kami berangkat sekitar jam setengah dua, dengan mengendarai si Merah, mobil Atoz mungil yang selalu setia menemani perjalanan kami. Biar kecil, tapi si Merah sudah menjelajah cukup jauh, bukan cuma antar kota, tapi juga antar propinsi!
Emang si Merah itu kecil-kecil cabe merah!
biar kecil, tapi warnanya merah!
hehehe...
Mmmuaaach, i love you Merah!!
Perjalanan cukup lancar.
Sekitar jam tiga, kami mampir ke Cimori untuk makan siang. Eitz, sori, bukan makan siang, karena aku dan ko Wiria sebelum pergi tadi sudah makan bakwan dulu, jadi ini bisa dibilang makan sore.
Sebenernya sih aku ke situ cuma mau ngincer susu segarnya doang, tapi kayaknya nggak enak deh kalo nggak dibarengi dengan makan juga. Padahal aku udah tahu kalo makanan di situ kurang enak. Mahal sih, iya.
Akhirnya aku memesan Steak ayam.
Waktu pelayan datang dan menyajikan steak pesananku,
Wow..., sungguh luar biasa!!!
ternyata bukan hanya daging ayamnya aja yang dihidangkan di atas Hot-plate, tapi bulu ayamnya juga nggak ketinggalan turut dihidangkan!
Untung aja ko Wiria langsung melihatnya, dan minta segera diganti dengan yang baru.
Hu-hu-hu..., selera makanku langsung menyusut deh...
Entah steak itu benaran diganti atau cuma bulu ayamnya aja yang disingkirkan...,
who knows???
Yang pasti, aku tetap menyantap steak tersebut dengan kepercayaan penuh pada sang pelayan yang berkata :
"Maaf, kami sudah mengganti yang baru..., benar-benar baru!"
Ho-ho-ho, aku harus buru-buru menyetel otakku nih biar daging ayam ini bisa tetap masuk ke perutku yang sebenarnya nggak terlalu lapar. Anggap aja bulu ayam itu memiliki vitamin yang belum sempat diteliti oleh profesor manapun!
wakswakswakswaks...
Untung masih ada susu segar rasa pisang yang cukup menghiburku. Yah..., mudah-mudahan aja susu itu bisa menetralisir racun-racun yang sedang bergrilia di dalam perutku. hehehe...
Selesai makan, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Vila yang terletak di Kota Bunga.
Vila bertipe Jepang itu masih berdiri dengan anggunya, tapi sayang, karena jarang ditinggali, para rayap mulai berpesta pora menggerogoti kayu-kayunya.
Vila ini sudah cukup lama dimiliki keluargaku. Dulu kami sering berlibur di sini, berkumpul dengan saudara-saudara dan para sepupuhku, terutama kalo lagi libur panjang. Terakhir kami menginap di sini waktu tahun baru kemarin.
Ko Wiria harus adu kuat dulu dengan kunci pintu yang susah banget diputar, sampe akhirnya pertarungan dimenangkan oleh ko Wiria yang berhasil membuka pintunya.
Di dalam nggak terlalu kotor, soalnya dua Minggu yang lalu mami dan papi baru aja datang dan menginap di sini.
Kami beristirahat sebentar, dan sekitar jam stengah delapan, kami pergi untuk mencari makan malam.
Setelah memilah-milah makanan apa yang akan mampir di perut kami, akhirnya pilihan jatuh pada 'Bakso Lapangan Tembak'.
Sempat terjadi perpindahan daging tetelan dari mangkuk ko Wiria ke mangkuk mamanya, dan dari mangkuk mamanya ke mangkuk ko Wiria. Alhasil, daging tetelan itu tersingkirkan dari mangkuk keduanya.
aku sih cuma jadi penonton aja, soalnya ruang di perutku tidak pernah pilih-pilih dalam menerima penghuni. Asalkan bersih dan layak, silakan aja! Tapi jangan lupa keluar lagi setelah merasa cukup puas di dalam, biar perutku nggak kembung dan menjadi gendut!
Harga satu mangkuk = Rp. 17.000. Dengan ataupun tanpa tetelan! :-P
Setelah itu, kami mampir ke Brasko. Aku ingin sekali membeli sweater warna merah. Ada sih yang lumayan bagus, dengan tulisan "ITALI" di dadanya. Tapi pas ngintip harganya, "Rp. 200 ribu lebih"?
Ogah ah..., masa sweter kayak gitu aja sampe 200 ribu. nggak rela ah...!!
kami cuma berputar-putar sebentar, sangat sebentar, dan keluar dari Brasko dengan hanya menenteng sebuah handuk kecil untuk mertuaku yang kelupaan bawa handuk, plus, kantong bertuliskan 'Brasko'!
wkwkwkwkakakakakkkkk...
Lumayan kan???? :-D
Besoknya, kami pergi Misa di Lembah Karmel (Romo Yohanes).
Aku nggak tau kalo ada Misa penyembuhan, soalnya yang aku pernah denger kalo Misa penyembuhan itu diadakan pada Minggu kedua dan keempat, sementara kemarin kan masih Minggu ketiga.
Emang kadang-kadang Rachel ini sok tahu ya! hehehe...
Dan gara-gara ke-soktahuan aku yang bilang kalo Misa itu dimulai jam 10, akibatnya, kami terlambat 15 menit, soalnya ternyata Misa dimulainya jam setengah sepuluh!
Maap ya. :-)
Gereja bener-bener penuh, sampe kami harus duduk di Jendela paling belakang.
Ini adalah yang kedua kalinya aku mengikuti Misa di sini. Pertama kali aku pergi dengan anak-anak Legio Maria. Dan waktu itu juga pas ada Misa penyembuhan.
Aku berdoa dalam hati agar Tuhan mau menyembuhkan mataku, sementara Romo terus mengundang umat yang jenis penyakitnya disebutkan untuk bangkit berdiri, karena Tuhan akan menyembuhkannya.
Aku merasa seperti sedang menunggu antrian untuk masuk ke ruang priksa dokter. Hatiku H2C, alias Harap-Harap Cemas. Kira-kira jenis penyakitku akan disebutkan apa nggak ya?
Tiba-tiba aku mendengar Romo berkata :
"Di sini ada seseorang yang memiliki gangguan pada matanya..."
Deg!
Rasanya jantungku berhenti berdetak, berikut nafasku yang ikut-ikutan mogok.
"Aku bukan ya?" Aku masih menunggu Romo melanjutkan kata-katanya.
"Seorang yang matanya terkena glukoma!"
Gubrak!
Glukoma?
kenapa harus yang glukoma??
aku ini Retina Pigmentosa, bukan glukoma!
Dan seorang pemuda bangkit berdiri.
"bersyukurlah pada Tuhan, karena Tuhan akan menyembuhkanmu!" Begitulah perintah Romo pada pemuda itu.
Aku segera memeriksa jantungku. ow, ternyata sudah berfungsi lagi dengan normal.
Baguslah, jadi kan aku nggak perlu susah-susah berdiri kalo Romo menyebutkan jenis penyakit jantung. hihihi...
Sekarang, waktu hari Minggu kemarin, Romo kembali menyebutkan jenis-jenis penyakit yang ia denger langsung dari Tuhan. Ada yang kena tumor payu dara, tidak bisa tidur, tenggorokan sakit sehingga tidak bisa menelan makanan, ada yang sakit ginjal, Etc, etc.
Tapi sama sekali aku nggak mendengar tentang mata. Entah itu mata glukoma, mata mines, mata sipit, mata-mata..., hehehe...
Pokoknya penyakitku sama sekali nggak disebutkan.
aku bertanya-tanya pada Tuhan :
"Kenapa aku dilewatkan, Tuhan?"
"Kenapa Tuhan tidak mengingatku?"
"Apa aku terlalu belakang, sampe-sampe Tuhan melupakanku?"
Aku teringat dengan perkataan teman baikku, Ferdi.
Waktu itu, kami sedang pergi ke KKR penyembuhan di Bandung. Dan waktu pulang, mami mengajukan pertanyaan kepada kami dan beberapa orang yang semobil dengan kami :
"Kenapa ya Tuhan kok malah menyembuhkan anak tetangga (Nonkristen), tapi anak sendiri nggak Dia sembuhkan?"
Ferdi yang menjawab :
"Mungkin Tuhan tahu , walaupun Rachel nggak Dia sembuhkan, tapi Rachel akan tetap setia sama Tuhan. Sementara mereka..., mereka membutuhkan tanda untuk bisa percaya pada Tuhan!""
Perkataan itulah yang sampe sekarang menjadi kekuatan buatku.
Aku nggak lagi merasa kecewa seperti dulu.
Dulu, aku sering merasa kecewa kalo Tuhan nggak menyembuhkanku di KKR atau Misa penyembuhan seperti ini. Bahkan aku sering pulang dengan perasaan sedih dan marah. Tapi sekarang, aku mulai bisa menyingkirkan perasaan kecewa itu dan menggantinya dengan keyakinan bahwa Tuhan tetap memperhatikanku dan menjagaku. Aku nggak mau kalo sampe perasaan kecewa itu membuat hatiku menjadi lemah.
Meski nggak bisa dipungkiri juga kalo aku masih berharap sekali Tuhan akan melirikku dan mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah mataku.
Dan alhasil, kemarin aku bisa meninggalkan Gereja dengan perasaan ringan dan senang. Melanjutkan perjalanan kami kembali dengan penuh keceriaan dan berkat yang sudah kami terima tadi dari Tuhan.
Nah, Diary, begitulah kisah perjalananku kemarin.
Yang pasti, kami pulang dengan selamat sampe rumah, soalnya kalo nggak, mana mungkin sekarang aku bisa bercerita pada kamu.
Iya kan, Diary sayang??
Sayonara...
Kamis
Tambah Satu Lagi Deh, Umurku
Jam 2 pagi tadi, aku dan suamiku sama-sama terbangun. Awalnya dia merogoh HP yang ada di antara bantal kami, dan bergumam : „O, ternyata masih jam 2...!”
Baru aja aku mau kembali tidur, ketika pipiku dicium.
„Selamat ulang tahun ya, sayang!” bisik ko Wiria ditelingaku. Terus dia peluk aku lamaaaaa... sekali.
Surprise!
Bener-bener surprise!!!
Aku nggak pernah nyangka kalo ko Wiria akan ngucapin sepagi ini. Boro-boro nyangka, kepikiran kalo saat itu ternyata sudah masuk hari ulang tahunku pun, nggak!!
Hatiku bener-bener seneng bukan main. Tadinya aku berpikir kalo ko Wiria bakal lupa sama hari ulang tahunku, soalnya dia sama sekali nggak pernah nyinggung-nyinggung tentang hari kemunculanku ini. Mau pergi makan ke mana?, mau kado apa? Atau, nanti koko beliinnya pas ulang tahun kamu aja ya?. Hmmm, boro-boro, sedikitpun nggak pernah kedengeran!!
Sebenarnya dari kemarin aku udah siapin mental kalo-kalo dia beneran lupa sama hari ulang tahunku.
Apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan.
Aku harus tetap ceria, seakan-akan aku juga nggak peduli dengan hari ultahku sendiri. Aku nggak boleh sampe nangis atau ngambek, apalagi sampe banting-banting lemari, mesin cuci, atau motor. Hehehe..., Hulk kali yeee.....
Pokoknya, aku udah bersiap-siap dengan kemungkinan ko Wiria lupa sama hari kebesaranku ini.
Tapi, ternyata, apa yang terjadi jauh dari apa yang bisa dan sempat aku bayangkan.
Bener-bener hari yang indah!!
Ini adalah pertama kalinya aku merayakan hari ulang tahun bersama suamiku.
Ingat, suami, bukan pacar lho!!
Setelah kita saling berpelukan, dan sekali lagi ko Wiria menciumku, akhirnya dia mengajakku berdoa.
Kami duduk di atas tempat tidur, saling berhadapan. Ko Wiria yang memimpin doa.
Sepanjang doa, aku hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan, karena Dia telah memberikanku seorang suami yang sangat luar biasa. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan ko Wiria. Hari-hariku nggak pernah terasa sepi lagi setelah ada ko Wiria di sampingku. Emang sih, kadang-kadang dia suka nyebelin, tapi kalo dihitung-hitung, lebih banyak nyenenginnya sih daripada nyebelinnya. Yah..., satu samalah..., aku juga kan suka nyebelin, kalo omong sering suka nggak dipikirin dulu, minta mulutnya disambelin. Hu-hu-hu, jontor dech!!!
Sekitar jam setengah tujuh, adikku telepon buat ngucapin selamat, nggak pernah ketinggalan tagihannya, minta ditraktir. Terus, mami & papi yang
Sudah bisa diduga kalo isi doanya pasti : „Moga cepet punya anak ya...”
Hehehe...., ternyata Rachel udah tuwir, yach!
Udah 27. Udah waktunya menghasilkan keturunan baru!!
Sesampainya di kantor, telepon berdering, dan Novi, temanku, mengucapkan selamat ulang tahun padaku, dibarengi dengan ucapan selamatku juga buat dia. Jadi, kita sama-sama ngucapin selamat ulang tahun. Kita emang dilahirkan pada tanggal, bulan dan tahun yang sama. Untung aja waktu kelas 5 SD, namaku diganti dari Novie Yanti Halim menjadi Rachel Stefanie Halim. Coba kalo belum diganti, bisa-bisa nama kita berdua juga sama. Hehehe.... bisa tuker pinjam KTP deh!!
Dan, ada satu lagi kado istimewa dari temenku, Adi, padahal sampe sekarang dia sendiri juga belum ngeh kalo hari ini adalah hari ultahku. Dia cuma SMSin dua buah ayat yang isinya bener-bener pas banget buatku yang emang terlalu banyak mikir.
Hehehe…, lagaknya kayak professor aja ya!!!
Mikir apa sih???
Hehehe..., rahasia dong!
Masa sih semuanya harus aku ceritain???
Nanti deh, kapan-kapan, mungkin bakal aku ceritain, tapi bukan sekarang ya.
Pokoknya mah hari ini aku lagi bahagia banget. Yang lain-lain biar aja dicuekin dulu, nggak usah dipikirin, nanti juga bakal lupa sendiri, atau, sengaja dilupain aja! Hihihihi...
Ketika aku berpikir: "Kakiku goyang," maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.
Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. (MZM 94 : 18 - 19)
Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.
(Yes 41 : 10) „
Happy Birthday To Me...!!!” :-D
Baru aja aku mau kembali tidur, ketika pipiku dicium.
„Selamat ulang tahun ya, sayang!” bisik ko Wiria ditelingaku. Terus dia peluk aku lamaaaaa... sekali.
Surprise!
Bener-bener surprise!!!
Aku nggak pernah nyangka kalo ko Wiria akan ngucapin sepagi ini. Boro-boro nyangka, kepikiran kalo saat itu ternyata sudah masuk hari ulang tahunku pun, nggak!!
Hatiku bener-bener seneng bukan main. Tadinya aku berpikir kalo ko Wiria bakal lupa sama hari ulang tahunku, soalnya dia sama sekali nggak pernah nyinggung-nyinggung tentang hari kemunculanku ini. Mau pergi makan ke mana?, mau kado apa? Atau, nanti koko beliinnya pas ulang tahun kamu aja ya?. Hmmm, boro-boro, sedikitpun nggak pernah kedengeran!!
Sebenarnya dari kemarin aku udah siapin mental kalo-kalo dia beneran lupa sama hari ulang tahunku.
Apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan.
Aku harus tetap ceria, seakan-akan aku juga nggak peduli dengan hari ultahku sendiri. Aku nggak boleh sampe nangis atau ngambek, apalagi sampe banting-banting lemari, mesin cuci, atau motor. Hehehe..., Hulk kali yeee.....
Pokoknya, aku udah bersiap-siap dengan kemungkinan ko Wiria lupa sama hari kebesaranku ini.
Tapi, ternyata, apa yang terjadi jauh dari apa yang bisa dan sempat aku bayangkan.
Bener-bener hari yang indah!!
Ini adalah pertama kalinya aku merayakan hari ulang tahun bersama suamiku.
Ingat, suami, bukan pacar lho!!
Setelah kita saling berpelukan, dan sekali lagi ko Wiria menciumku, akhirnya dia mengajakku berdoa.
Kami duduk di atas tempat tidur, saling berhadapan. Ko Wiria yang memimpin doa.
Sepanjang doa, aku hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan, karena Dia telah memberikanku seorang suami yang sangat luar biasa. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan ko Wiria. Hari-hariku nggak pernah terasa sepi lagi setelah ada ko Wiria di sampingku. Emang sih, kadang-kadang dia suka nyebelin, tapi kalo dihitung-hitung, lebih banyak nyenenginnya sih daripada nyebelinnya. Yah..., satu samalah..., aku juga kan suka nyebelin, kalo omong sering suka nggak dipikirin dulu, minta mulutnya disambelin. Hu-hu-hu, jontor dech!!!
Sekitar jam setengah tujuh, adikku telepon buat ngucapin selamat, nggak pernah ketinggalan tagihannya, minta ditraktir. Terus, mami & papi yang
Sudah bisa diduga kalo isi doanya pasti : „Moga cepet punya anak ya...”
Hehehe...., ternyata Rachel udah tuwir, yach!
Udah 27. Udah waktunya menghasilkan keturunan baru!!
Sesampainya di kantor, telepon berdering, dan Novi, temanku, mengucapkan selamat ulang tahun padaku, dibarengi dengan ucapan selamatku juga buat dia. Jadi, kita sama-sama ngucapin selamat ulang tahun. Kita emang dilahirkan pada tanggal, bulan dan tahun yang sama. Untung aja waktu kelas 5 SD, namaku diganti dari Novie Yanti Halim menjadi Rachel Stefanie Halim. Coba kalo belum diganti, bisa-bisa nama kita berdua juga sama. Hehehe.... bisa tuker pinjam KTP deh!!
Dan, ada satu lagi kado istimewa dari temenku, Adi, padahal sampe sekarang dia sendiri juga belum ngeh kalo hari ini adalah hari ultahku. Dia cuma SMSin dua buah ayat yang isinya bener-bener pas banget buatku yang emang terlalu banyak mikir.
Hehehe…, lagaknya kayak professor aja ya!!!
Mikir apa sih???
Hehehe..., rahasia dong!
Masa sih semuanya harus aku ceritain???
Nanti deh, kapan-kapan, mungkin bakal aku ceritain, tapi bukan sekarang ya.
Pokoknya mah hari ini aku lagi bahagia banget. Yang lain-lain biar aja dicuekin dulu, nggak usah dipikirin, nanti juga bakal lupa sendiri, atau, sengaja dilupain aja! Hihihihi...
Ketika aku berpikir: "Kakiku goyang," maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku.
Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. (MZM 94 : 18 - 19)
Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.
(Yes 41 : 10) „
Happy Birthday To Me...!!!” :-D
Novelku Yang Belom Berjudul (Lanjutan)
Bab 2
Malam itu, Rio dan kedua orang tuanya sedang menyantap makan malam mereka di rumahnya. Hawa dingin menelusup masuk membuat suasana hening dalam ruang makan
tersebut menjadi lebih terasa. Rio duduk berseberangan dengan orang tuanya yang duduk berdampingan mmenghadap meja makan persegi panjang besar yang terletak
tepat di tengah ruang makan mewah dengan lukisan bunga mawar besar terpampang indah di dinding sebelah depan, sementara setiap sudut dari ruangan tersebut
dihiasi perabot-perabot antik dari berbagai negara, membuat suasana di ruangan makan itu tampak semakin semarak. Tak satupun dari mereka berbicara, hanya
bunyi denting sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring mereka saja yang terdengar.
“Bagaimana kabar Sally sekarang,Yo?” tanya ayah Rio tiba-tiba membuat Rio tersedak saking terkejutnya.
“hmm...mm...” Rio gelagapan menanggapi pertanyaan yang tak disangkanya akan meluncur dari mulut ayahnya, karena yang Rio tahu selama ini ayahnya tak pernah
secara terang-terangan mau mencampuri urusan anak semata wayangnya, apalagi yang menyangkut urusan pribadinya.
“hmm..mm..,” lanjut Rio masih tampak gugup, “ operasi Sally... hmm.. operasinya .. gagal.”
Terdengar pekik terkejut dari ibu Rio, sementara wajah ayahnya masih tetap tampak tenang menatapnya.
“lantas,” tanya ayah Rio lagi dengan tetap menampilkan kharismanya sebagai seorang kepala rumah tangga dan pemilik salah satu perusahaan besar di jakarta,
“bagaimana keadaanya sekarang?”
“dia...,” terbersit keraguan dalam hati Rio untuk mengatakan yang sebenarnya, namun setelah Rio menghela nafas panjang, akhirnya diapun berkata: “Sally
sekarang buta.”
“Oh, Tuhan!” ibu Rio kembali terpekik kaget, tangannya terangkat menutupi mulutnya, Rio melihat mata ibunya mulai berkaca-kaca.
“Masih ada harapan untuk sembuh?” tanya ayahnya lagi. Rio mengangkat bahu. Kini terdengar ayahnya menghela nafas, “kalau begitu Rio,” lanjut ayahnya, “berusahalah
untuk melupakannya!”
“Papa!” pekik ibu Rio tak percaya, dan kini menatap tajam ke arah suaminya.
“Tak mungkin bukan ,kau akan menikahi seorang gadis buta?” sambung ayahnya lagi tanpa sedikitpun menghiraukan sikap protes yang muncul dari sang isteri.
“maksud papa,... aku harus mengakhiri hubunganku dengan Sally?” kini mata Riopun menatap lurus ke dalam mata ayahnya, mencoba mencari jawaban yang tak dapat
dimengertinya, atau mungkin dirinya memang tak mau mengerti.
“Ya!” jawab ayahnya mantap.
“Astaga, papa!” sahut ibunya yang sekarang mulai menangis.
“sekarang bukan waktunya lagi terbawa perasaan.” ujar ayahnya, tak jelas kepada siapa perkataan itu ditujukan. Tapi yang jelas bagi Rio bahwa mata ayahnya
masih menatap tajam ke arahnya, membuat Rio semakin tampak kebingungan.
“Ingat!” tambah ayahnya lagi,yang kini lebih ditujukan kepadanya, “kamu adalah satu-satunya harapan papa, apa jadinya nanti jika kamu memiliki seorang isteri
yang buta, yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa?...jalanmu masih panjang,... cobalah untuk mencari seorang gadis yang dapat lebih diharapkan... Janganlah
mengorbankan masa depanmu hanya karena sebuah perasaan yang akan menjerumuskan dirimu sendiri... Mengerti?”
tanpa menunggu lagi jawaban dari Rio, ayahnya langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan menuju ke kamarnya.
Sempurnalah kini perasaan bingung yang berkecamuk dalam benak Rio, di satu sisi di dalam pikirannya mengatakan bahwa apa yang baru saja disampaikan ayahnya
memang benar, tapi entah di sudut sebelah mana dihatinya juga merasakan sebuah perasaan yang membuatnya sulit untuk melepaskan gadis yang sudah selama
dua tahun ini sangat dicintainya, dan yang kini telah menjadi seorang gadis cacat. Sebenarnya perasaan apakah yang sedang dirasakanya saat itu, perasaan
sayang?... Cinta?... atau hanya...perasaan kasihan?? Entahlah, Rio tak mampu lagi berpikir.
Dipandanginya sang ibu yang saat itu masih menangis tersedu-sedu. Karena tak tahu lagi harus berbuat apa, akhirnya Riopun bangkit dari kursinya dan berlalu
menuju ke kamarnya yang terletak dilantai dua, meninggalkan ibunya meratap sendirian di ruang makan.
“Dor!” teriak Odi yang tiba-tiba melompat dari arah belakang dan langsung berdiri dihadapan Rio sambil melambai-lambaikan satu telunjuknya yang buntet ke
wajah Rio yang saat itu sedang bersandar dibatang sebuah pohon menatap kosong ke deretan mobil-mobil yang sedang terparkir sejajar dengan BMW hitamnya.
“Kemana aja sih, lu?” tanya Rio berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar teriakan Odi tadi. “nggak inget apa orang nungguin disini sampai kaki
kesemutan?”
“sorry jek,” jawab Odi sambil buru-buru menyusul Rio berjalan ke mobilnya, “abis ketemu Sandra di depan ruang dosen, dia tadi tanya tentang kabar Sally
ke gue, yah, gue ceritain aja semua,... dia juga tanya tentang lu kog.” Sambung Odi bersemangat.
Rio mengijak gas memundurkan mobilnya, dan langsung mengeremnya mendadak, Jedot! Tubuh Odi terbanting ke depan, dahinya membentur kaca depan mobil dan meninggalkan
sebuah benjolan besar segede telur bebek.
“aduuuh!!” rintih Odi kesakitan. Tangannya terus mengusap-usap benjol di dahinya.
“Sori, jek, nggak sengaja!” Rio melirik temannya itu, merasa kasihan. Tapi Rio malah langsung menancap gas lagi, melesat keluar meninggalkan area kampus.
Sudah enam hari berlalu dari sejak Rio menerima kabar tentang Sally, namun sedikitpun Rio belum juga mampu menyingkirkan perasaan kecewanya terhadap kebutaan
Sally. Perubahan sikapnya yang semakin pendiam, membuat Odi jadi ikut-ikutan linglung. Sering Odi dibiarkan mengoceh sendirian malah kadang ketawa sendiri
kayak orang sakit jiwa, sementara Rio hanya terdiam kayak patung bali.
Mobil Rio terus melaju dengan kecepatan tinggi, sementara Odi masih sibuk mengusap-usap dahinya berusah mengempeskan benjolanya. Tapi bukannya kempes, benjolnya
sekarang malah terasa semakin membesar.
“Gara-gara elo, nih, dahi gue jadi benjol gede kayak gini!” protes Odi kesal.
“Kan gue sudah bilang sori.” Sahut Rio mengingatkan.
“Sora, sori, sora, sori, benjol mana ngerti kata sori!” Rio hanya tersenyum hambar mendengar ocehan temannya.
Lama mereka saling terdiam. Setelah lelah mengusap-usap dahi, Odipun menyenderkan kepalanya ke sandaran jok. Matanya dipejamkan, merasakan hawa sejuk yang
keluar dari AC mobil.
“lu nggak telepon Sally,Yo?” tanya Odi tiba-tiba memecahkan kesunyian yang sesaat lalu telah tercipta di antara mereka. “lu masih sayang Sally, kan?”
“Sayang???” hati Rio mencelos ketika kata itu melintas kembali di benaknya. Namun perasaan itu segera lenyap, ketika handphone Rio bergetar disaku celananya.
Rio langsung mengambil handphone itu dan terkejut saat melihat nomor yang muncul dilayar handphonenya. “Sally.” Gumamnya pelan. Odi yang mendengar nama
itu disebut langsung menoleh dan menatap Rio lekat-lekat.
“Halo,” jawab Rio berusaha setenang mungkin.
“Halo!” terdengar sebuah jawaban yang membuat hati Rio kembali mencelos.
“suara itu,...” batin Rio lirih. Entah kenapa perasaan rindu yang selama ini seakan telah terkubur amat dalam di dasar hatinya, kembali meluap, membara,
membuat dadanya terasa kian mambakar. Rio menghela nafas, mencoba membuang selusin hawa panas yang menyelubungi hatinya.
“Halo!” kembali suara itu terdengar memanggilnya.
“O, halo!” jawab Rio yang kini tak dapat lagi menutupi kegugupannya, “hmm.., Sally, dimana kamu?” Astaga.., pertanyaan yang bodoh! Padahal kan Rio sudah
jelas-jelas tahu bahwa nomor yang muncul di layar handphonenya tadi adalah nomor rumah Sally di jakarta.
“kamu...,” kata Sally mengacuhkan pertanyaan Rio, “kenapa kamu nggak pernah lagi telepon aku?”
“aku... aku...”
klik. Suara telepon ditutup.
“halo,... Sally!..Sally!”
sunyi.
Tanpa pikir panjang lagi, Rio langsung mengambil arah memutar, melesat menuju jalan-jalan yang sudah sangat dikenalnya. Odi hanya diam terpana menyaksikan
tingkah temannya, membuattnya tak berani lagi mengajukan satu pertanyaanpun, ia hanya terus memandang jalan, mengira-ngira arah tujuan Rio.
Setengah jam kemudian, Rio memakirkan mobilnya di depan sebuah rumah besar berlantai dua dengan gerbang coklat memagari rumah tersebut.
“Den Rio!” terdengar seruan dari balik gerbang, dilihatnya mbok Sarmi berlari ke arah gerbang, membukanya dan mempersilakan kedua pemuda itu masuk.
“Aduh, den, kasihan non Sally, sekarang non dah nggak bisa lihat lagi.” Kata mbok Sarmi sedih sambil menyusul Rio dan Odi yang langsung bergegas menuju
ke ruang tamu yang tertata rapi dengan sofa biru tuanya yang terpajang sejajar dengan fotao keluarga berukuran cukup basar, di sana terlihat kedua orang
tua Sally sedang duduk berdampingan, sementara Sally dan kakak laki-lakinya, Sandy, berdiri tepat dibelakangnya.
“Bisa tolong panggilkan Sally, mbok?” tanya Rio sambil masih berdiri di tengah ruang tamu.
“o ya, den. Mudah-mudahan non mau keluar kalau ada den Rio, soalnya sejak pulang dari Prancis non mengurung diri terus di kamarnya.” Sementara mbok Sarmi
pergi memanggil Sally, Rio dan Odi menghampiri sofa dan duduk di atasnya, menunggu. Namun sesaat kemudian mbok Sarmi kembali, wajahnya terlihat makin sedih
dan matanya tampak berkaca-kaca .“maaf, den, non Sally nggak mau keluar juga, pintunya dikunci dari dalam.”
“biar saya saja yang ke kamarnya kalau begitu.” Kata Rio sambil berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Sally yang terletak di lantai dua.
“Sal.., Sally.., tolong buka pintunya Sal!” seru Rio setibanya di depan pintu kamar Sally sambil terus mengetuknya, namun tak sedikitpun terdengar jawaban.
Rio mencoba membukanya, tapi pintu itu tetap terkunci rapat.
“please, Sal..., buka pintunya.., ini aku, Rio.., aku ingin bicara sama kamu...!”Rio terus berusaha membujuk Sally, namun sia-sia. Kamar itu seakan sunyi,
tak berpenghuni. “baiklah, kalau memang kamu belum mau ketemu sama aku, aku akan pergi!”kata Rio putus asa. Ditatapnya pintu itu sekali lagi, berharap
agar pintu itu bereaksi walau hanya setitik kecil getaran, tapi tetap tak terjadi apa-apa, seakan pintu itu sudah membatu. Akhirnya Riopun membalikan badannya,
dan baru hendak melangkah untuk pergi, ketika didengarnya suara kunci pintu yang diputar. Segera ia kembali membalikan badan, dan dilihatnya pintu bergerak
terbuka. Seorang gadis muncul dari balik pintu, matanya yang sembab menatap kosong ke arah jendela yang berada di seberang kamarnya. Rio yang masih berdiri
terpaku, memandang heran ke arah mata gadis itu yang kini berdiri tepat dihadapannya. Mata yang masih tampak sempurna, mata yang sama, yang pernah begitu
sangat dikaguminya, mata yang pernah membuatnya begitu tergila-gila, namun..., mata itu kini terlihat begitu hampa, kosong, seakan tak ada lagi kehidupan
di dalamnya.
“Sal!” akhirnya Riopun berkata, namun suaranya tercekat, membuatnya terdengar begitu pelan, hampir menyerupai bisikan. Mendengar itu, mata Sally langsung
bereaksi, bergerak seakan mencari arah datangnya sumber suara, dan berhenti tepat di bibir Rio yang saat itu sedang menunduk menatapnya.
“Oh, Tuhan!” batin Rio pedih melihat mata yang kini terasa begitu asing baginya. Dilambai-lambaikan tangannya mencoba melihat reaksi yang mungkin akan ditimbulkan
oleh mata itu.
“percuma, Yo.”
Rio tersentak mundur dan langsung menarik kembali tangannya, “lho, kog Sally bisa lihat tanganku, ya??”
Pikir Rio heran.namun pertanyaan itu segera teredam kembali ketika Sally melanjutkan kalimatnya, “percuma aja kamu bicara, Yo, karena aku sudah tahu apa
yang kamu ingin katakan.”
“maksud kamu apa??” tanya Rio semakin bingung.
Sally tak langsung menjawab, ia melangkah menghampiri kursi kayu yang terletak di dekat jendela. Langkahnya terlihat ragu-ragu namun pasti. Sementara tangannya
dibiarkannya tetap tergantung lemas di sisinya. Dan, ketika tubuhnya menabrak punggung kursi, barulah ia mengulurkan tangannya menyentuh kepala kursi itu,
menariknya mundur dan kemudian duduk di atasnya, menghadap jendela yang masih terbuka. Angin senja mengalir masuk membelai lembut wajah Sally yang masih
terlihat muram.
Rio yang masih berdiri waswas mengawasi gerak-gerik Sally, sekarang ikut menarik kursi dan duduk di sebelah Sally.
Sesaat mereka saling membisu, sampai akhirnya Rio memberanikan diri untuk berkata lebih dulu.
“maaf kalau aku..”
“aku ngerti, kog!” kata Sally menyela perkataan Rio yang belum sempat diselesaikannya.
Ditatapnya gadis itu lekat-lekat, mencoba memahimi apa yang sesungguhnya ada di dalam pikiran gadis yang seakan baru kali ini dikenalnya. Namun, semakin
di lihatnya, semakin ia merasakan getaran yang kian bergemuruh dalam hatinya. Sally yang begitu cantik, sally yang begitu sangat dicintainya, “ah...,
andai saja dia tidak buta.” pikirnya lirih.
“Rio,” ujar Sally memecah kebekuan yang sempat tercipta diantara mereka, “aku tahu ... pasti sulit bagi kamu buat terima keadaan aku yang sekarang ini,”
suara Sally terdengar begitu tenang, “aku juga bisa ngerasain kog, bagaimana kamu harus menghadapi semua kenyataan ini,... kamu pasti kecewa,..bingung,..
kuatir,... dan semua perasaan itu membuat kamu takut untuk mengatakan yang sejujurnya tentang perasaan kamu terhadap aku sekarang,karena itu semua mungkin
bisa membuat hatiku semakin terluka.,” Sally menarik nafas, terdiam sesaat, dan kembali melanjutkan, “kupikir sudah cukup waktu yang kupakai untuk merenung,...
dan sudah terlalu banyak Air mata yang kukeluarkan untuk meratapi kebutaanku. Sekarang saatnya buat aku untuk bangkit dan mulai menata kembali kehidupanku,
menapakinya dengan segala kemampuan yang ada dalam diriku, walaupun...., aku harus menjalaninya seorang diri,...aku nggak mau terkungkung terus-menerus
dalam perasaan mengasihani diri sendiri.”Sally menundukan kepalanya sedikit, memejamkan kedua matanya, namun dengan cepat ia telah membuka matanya kembali.
“sekarang, aku siap buat ngedengarin apa aja yang mau kamu katakan, meski itu akan terasa sangat menyakitkan bagiku.”
Mendengar semua penuturan Sally yang seakan begitu mengerti dirinya, mengerti apa yang dialaminya selama ini, yang sudah menguras habis pikirannya, membuat
sesuatu dalam hati Rio seakan terlepas, beban yang telah menindihnya begitu berat, kini seakan terangkat satu demi satu, membuatnya bisa kembali bernafas
lega. Namun, mengapa ketika perasaan dimengerti itu telah berhasil diperolehnya, malah membuatnya semakin sulit untuk meninggalkan Sally, membiarkannya
berjuang seorang diri dalam kebutaannya. Sesungguhnya perasaan apakah yang sedang dialaminya,...perasaan sayang??..cinta??..atau...hanya sekedar perasaan
kasihan??,... entahlah!!!
Kesunyian kembali menguasai ruangan itu, hanya kicau burung yang terdengar dari kejauhan, disusul dengan suara dengkur Odi yang terdengar sampai ke lanti
atas.
“kamu kesini sama Odi, Yo?”
Rio menganggukan kepalanya, tapi segera sadar bahwa Sally tidak bisa melihat anggukannya, maka ia buru-buru menjawab “iya!”
“kalau begitu, lebih baik kamu sekarang pulang, kasihan Odi menuggu terlalu lama.” Kata Sally pengertian.
“biarin aja, toh nyatanya dia menikmati tidurnya.” Jawab Rio masa bodoh.
Sally hanya tersenyum, karena sudah cukup mengenal bagaimana kelakuan dua sahabat itu.
Tiba-tiba Rio bangkit dari duduknya, dan berlutut di depan Sally, tangannya meraih kedua tangan Sally, menggenggamnya, dan kemudian menciumnya dengan sangat
hati-hati seakan kuatir bibirnya dapat melukai tangan yang lembut itu.
“Sal,” kata Rio, suaranya terdengar sangat pelan tapi mantap, sementara matanya menatap mata Sally yang masih memandang kosong ke arah jendela, “aku.., aku
nggak akan pernah meninggalkan kamu.”
“maksud kamu, kamu nggak akan meninggalkan aku, Yo,.. kamu akan tetap menyayangi aku seperti dulu???” kilatan cahaya melintas di mata Sally, membuat mata
itu seakan kembali hidup. Rio terperangah Melihat kilatan cahaya itu, tapi dirinya masih tetap menjawab “ten.., tentu!”
namun cahaya segera memudar dan mengembalikan kembali sosok mata yang kosong, hampa, seakan kilatan tadi hanyalah halusinasi Rio saja.
“tapi.., apa kamu yakin, Yo??... apa yang kamu rasain itu bukan hanya perasaan kasihan terhadap kebutaanku ini??”
Rio menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia berkata: “Sal,...memang aku akui kalau aku belum yakin dengan perasaanku sekarang, tapi aku mau belajar,..
belajar untuk terima kamu apa adanya,.. belajar lebih lagi memahami bukan saja diri kamu tapi juga semua perasaan kamu... kamu mau kan beri aku waktu
buat mempelajari semua itu?” tanya Rio penuh harap.
Sally menganggukan kepalanya. Seulas senyum menghiasi bibirnya.
“thanks ya, Sal!” Rio mengangkat tubuhnya sedikit dan menempelkan bibirnya ke kening Sally.
Angin terus berhembus melalui jendela yang terbuka. kicau burung masih terdengar dari kejauhan, mengiringi suara dengkur Odi yang masih bertahan pada volume
dan intonasi nada yang sama. Sangat harmonis!
Malam itu, Rio dan kedua orang tuanya sedang menyantap makan malam mereka di rumahnya. Hawa dingin menelusup masuk membuat suasana hening dalam ruang makan
tersebut menjadi lebih terasa. Rio duduk berseberangan dengan orang tuanya yang duduk berdampingan mmenghadap meja makan persegi panjang besar yang terletak
tepat di tengah ruang makan mewah dengan lukisan bunga mawar besar terpampang indah di dinding sebelah depan, sementara setiap sudut dari ruangan tersebut
dihiasi perabot-perabot antik dari berbagai negara, membuat suasana di ruangan makan itu tampak semakin semarak. Tak satupun dari mereka berbicara, hanya
bunyi denting sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring mereka saja yang terdengar.
“Bagaimana kabar Sally sekarang,Yo?” tanya ayah Rio tiba-tiba membuat Rio tersedak saking terkejutnya.
“hmm...mm...” Rio gelagapan menanggapi pertanyaan yang tak disangkanya akan meluncur dari mulut ayahnya, karena yang Rio tahu selama ini ayahnya tak pernah
secara terang-terangan mau mencampuri urusan anak semata wayangnya, apalagi yang menyangkut urusan pribadinya.
“hmm..mm..,” lanjut Rio masih tampak gugup, “ operasi Sally... hmm.. operasinya .. gagal.”
Terdengar pekik terkejut dari ibu Rio, sementara wajah ayahnya masih tetap tampak tenang menatapnya.
“lantas,” tanya ayah Rio lagi dengan tetap menampilkan kharismanya sebagai seorang kepala rumah tangga dan pemilik salah satu perusahaan besar di jakarta,
“bagaimana keadaanya sekarang?”
“dia...,” terbersit keraguan dalam hati Rio untuk mengatakan yang sebenarnya, namun setelah Rio menghela nafas panjang, akhirnya diapun berkata: “Sally
sekarang buta.”
“Oh, Tuhan!” ibu Rio kembali terpekik kaget, tangannya terangkat menutupi mulutnya, Rio melihat mata ibunya mulai berkaca-kaca.
“Masih ada harapan untuk sembuh?” tanya ayahnya lagi. Rio mengangkat bahu. Kini terdengar ayahnya menghela nafas, “kalau begitu Rio,” lanjut ayahnya, “berusahalah
untuk melupakannya!”
“Papa!” pekik ibu Rio tak percaya, dan kini menatap tajam ke arah suaminya.
“Tak mungkin bukan ,kau akan menikahi seorang gadis buta?” sambung ayahnya lagi tanpa sedikitpun menghiraukan sikap protes yang muncul dari sang isteri.
“maksud papa,... aku harus mengakhiri hubunganku dengan Sally?” kini mata Riopun menatap lurus ke dalam mata ayahnya, mencoba mencari jawaban yang tak dapat
dimengertinya, atau mungkin dirinya memang tak mau mengerti.
“Ya!” jawab ayahnya mantap.
“Astaga, papa!” sahut ibunya yang sekarang mulai menangis.
“sekarang bukan waktunya lagi terbawa perasaan.” ujar ayahnya, tak jelas kepada siapa perkataan itu ditujukan. Tapi yang jelas bagi Rio bahwa mata ayahnya
masih menatap tajam ke arahnya, membuat Rio semakin tampak kebingungan.
“Ingat!” tambah ayahnya lagi,yang kini lebih ditujukan kepadanya, “kamu adalah satu-satunya harapan papa, apa jadinya nanti jika kamu memiliki seorang isteri
yang buta, yang tidak mampu lagi berbuat apa-apa?...jalanmu masih panjang,... cobalah untuk mencari seorang gadis yang dapat lebih diharapkan... Janganlah
mengorbankan masa depanmu hanya karena sebuah perasaan yang akan menjerumuskan dirimu sendiri... Mengerti?”
tanpa menunggu lagi jawaban dari Rio, ayahnya langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan menuju ke kamarnya.
Sempurnalah kini perasaan bingung yang berkecamuk dalam benak Rio, di satu sisi di dalam pikirannya mengatakan bahwa apa yang baru saja disampaikan ayahnya
memang benar, tapi entah di sudut sebelah mana dihatinya juga merasakan sebuah perasaan yang membuatnya sulit untuk melepaskan gadis yang sudah selama
dua tahun ini sangat dicintainya, dan yang kini telah menjadi seorang gadis cacat. Sebenarnya perasaan apakah yang sedang dirasakanya saat itu, perasaan
sayang?... Cinta?... atau hanya...perasaan kasihan?? Entahlah, Rio tak mampu lagi berpikir.
Dipandanginya sang ibu yang saat itu masih menangis tersedu-sedu. Karena tak tahu lagi harus berbuat apa, akhirnya Riopun bangkit dari kursinya dan berlalu
menuju ke kamarnya yang terletak dilantai dua, meninggalkan ibunya meratap sendirian di ruang makan.
“Dor!” teriak Odi yang tiba-tiba melompat dari arah belakang dan langsung berdiri dihadapan Rio sambil melambai-lambaikan satu telunjuknya yang buntet ke
wajah Rio yang saat itu sedang bersandar dibatang sebuah pohon menatap kosong ke deretan mobil-mobil yang sedang terparkir sejajar dengan BMW hitamnya.
“Kemana aja sih, lu?” tanya Rio berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya mendengar teriakan Odi tadi. “nggak inget apa orang nungguin disini sampai kaki
kesemutan?”
“sorry jek,” jawab Odi sambil buru-buru menyusul Rio berjalan ke mobilnya, “abis ketemu Sandra di depan ruang dosen, dia tadi tanya tentang kabar Sally
ke gue, yah, gue ceritain aja semua,... dia juga tanya tentang lu kog.” Sambung Odi bersemangat.
Rio mengijak gas memundurkan mobilnya, dan langsung mengeremnya mendadak, Jedot! Tubuh Odi terbanting ke depan, dahinya membentur kaca depan mobil dan meninggalkan
sebuah benjolan besar segede telur bebek.
“aduuuh!!” rintih Odi kesakitan. Tangannya terus mengusap-usap benjol di dahinya.
“Sori, jek, nggak sengaja!” Rio melirik temannya itu, merasa kasihan. Tapi Rio malah langsung menancap gas lagi, melesat keluar meninggalkan area kampus.
Sudah enam hari berlalu dari sejak Rio menerima kabar tentang Sally, namun sedikitpun Rio belum juga mampu menyingkirkan perasaan kecewanya terhadap kebutaan
Sally. Perubahan sikapnya yang semakin pendiam, membuat Odi jadi ikut-ikutan linglung. Sering Odi dibiarkan mengoceh sendirian malah kadang ketawa sendiri
kayak orang sakit jiwa, sementara Rio hanya terdiam kayak patung bali.
Mobil Rio terus melaju dengan kecepatan tinggi, sementara Odi masih sibuk mengusap-usap dahinya berusah mengempeskan benjolanya. Tapi bukannya kempes, benjolnya
sekarang malah terasa semakin membesar.
“Gara-gara elo, nih, dahi gue jadi benjol gede kayak gini!” protes Odi kesal.
“Kan gue sudah bilang sori.” Sahut Rio mengingatkan.
“Sora, sori, sora, sori, benjol mana ngerti kata sori!” Rio hanya tersenyum hambar mendengar ocehan temannya.
Lama mereka saling terdiam. Setelah lelah mengusap-usap dahi, Odipun menyenderkan kepalanya ke sandaran jok. Matanya dipejamkan, merasakan hawa sejuk yang
keluar dari AC mobil.
“lu nggak telepon Sally,Yo?” tanya Odi tiba-tiba memecahkan kesunyian yang sesaat lalu telah tercipta di antara mereka. “lu masih sayang Sally, kan?”
“Sayang???” hati Rio mencelos ketika kata itu melintas kembali di benaknya. Namun perasaan itu segera lenyap, ketika handphone Rio bergetar disaku celananya.
Rio langsung mengambil handphone itu dan terkejut saat melihat nomor yang muncul dilayar handphonenya. “Sally.” Gumamnya pelan. Odi yang mendengar nama
itu disebut langsung menoleh dan menatap Rio lekat-lekat.
“Halo,” jawab Rio berusaha setenang mungkin.
“Halo!” terdengar sebuah jawaban yang membuat hati Rio kembali mencelos.
“suara itu,...” batin Rio lirih. Entah kenapa perasaan rindu yang selama ini seakan telah terkubur amat dalam di dasar hatinya, kembali meluap, membara,
membuat dadanya terasa kian mambakar. Rio menghela nafas, mencoba membuang selusin hawa panas yang menyelubungi hatinya.
“Halo!” kembali suara itu terdengar memanggilnya.
“O, halo!” jawab Rio yang kini tak dapat lagi menutupi kegugupannya, “hmm.., Sally, dimana kamu?” Astaga.., pertanyaan yang bodoh! Padahal kan Rio sudah
jelas-jelas tahu bahwa nomor yang muncul di layar handphonenya tadi adalah nomor rumah Sally di jakarta.
“kamu...,” kata Sally mengacuhkan pertanyaan Rio, “kenapa kamu nggak pernah lagi telepon aku?”
“aku... aku...”
klik. Suara telepon ditutup.
“halo,... Sally!..Sally!”
sunyi.
Tanpa pikir panjang lagi, Rio langsung mengambil arah memutar, melesat menuju jalan-jalan yang sudah sangat dikenalnya. Odi hanya diam terpana menyaksikan
tingkah temannya, membuattnya tak berani lagi mengajukan satu pertanyaanpun, ia hanya terus memandang jalan, mengira-ngira arah tujuan Rio.
Setengah jam kemudian, Rio memakirkan mobilnya di depan sebuah rumah besar berlantai dua dengan gerbang coklat memagari rumah tersebut.
“Den Rio!” terdengar seruan dari balik gerbang, dilihatnya mbok Sarmi berlari ke arah gerbang, membukanya dan mempersilakan kedua pemuda itu masuk.
“Aduh, den, kasihan non Sally, sekarang non dah nggak bisa lihat lagi.” Kata mbok Sarmi sedih sambil menyusul Rio dan Odi yang langsung bergegas menuju
ke ruang tamu yang tertata rapi dengan sofa biru tuanya yang terpajang sejajar dengan fotao keluarga berukuran cukup basar, di sana terlihat kedua orang
tua Sally sedang duduk berdampingan, sementara Sally dan kakak laki-lakinya, Sandy, berdiri tepat dibelakangnya.
“Bisa tolong panggilkan Sally, mbok?” tanya Rio sambil masih berdiri di tengah ruang tamu.
“o ya, den. Mudah-mudahan non mau keluar kalau ada den Rio, soalnya sejak pulang dari Prancis non mengurung diri terus di kamarnya.” Sementara mbok Sarmi
pergi memanggil Sally, Rio dan Odi menghampiri sofa dan duduk di atasnya, menunggu. Namun sesaat kemudian mbok Sarmi kembali, wajahnya terlihat makin sedih
dan matanya tampak berkaca-kaca .“maaf, den, non Sally nggak mau keluar juga, pintunya dikunci dari dalam.”
“biar saya saja yang ke kamarnya kalau begitu.” Kata Rio sambil berjalan menaiki tangga menuju ke kamar Sally yang terletak di lantai dua.
“Sal.., Sally.., tolong buka pintunya Sal!” seru Rio setibanya di depan pintu kamar Sally sambil terus mengetuknya, namun tak sedikitpun terdengar jawaban.
Rio mencoba membukanya, tapi pintu itu tetap terkunci rapat.
“please, Sal..., buka pintunya.., ini aku, Rio.., aku ingin bicara sama kamu...!”Rio terus berusaha membujuk Sally, namun sia-sia. Kamar itu seakan sunyi,
tak berpenghuni. “baiklah, kalau memang kamu belum mau ketemu sama aku, aku akan pergi!”kata Rio putus asa. Ditatapnya pintu itu sekali lagi, berharap
agar pintu itu bereaksi walau hanya setitik kecil getaran, tapi tetap tak terjadi apa-apa, seakan pintu itu sudah membatu. Akhirnya Riopun membalikan badannya,
dan baru hendak melangkah untuk pergi, ketika didengarnya suara kunci pintu yang diputar. Segera ia kembali membalikan badan, dan dilihatnya pintu bergerak
terbuka. Seorang gadis muncul dari balik pintu, matanya yang sembab menatap kosong ke arah jendela yang berada di seberang kamarnya. Rio yang masih berdiri
terpaku, memandang heran ke arah mata gadis itu yang kini berdiri tepat dihadapannya. Mata yang masih tampak sempurna, mata yang sama, yang pernah begitu
sangat dikaguminya, mata yang pernah membuatnya begitu tergila-gila, namun..., mata itu kini terlihat begitu hampa, kosong, seakan tak ada lagi kehidupan
di dalamnya.
“Sal!” akhirnya Riopun berkata, namun suaranya tercekat, membuatnya terdengar begitu pelan, hampir menyerupai bisikan. Mendengar itu, mata Sally langsung
bereaksi, bergerak seakan mencari arah datangnya sumber suara, dan berhenti tepat di bibir Rio yang saat itu sedang menunduk menatapnya.
“Oh, Tuhan!” batin Rio pedih melihat mata yang kini terasa begitu asing baginya. Dilambai-lambaikan tangannya mencoba melihat reaksi yang mungkin akan ditimbulkan
oleh mata itu.
“percuma, Yo.”
Rio tersentak mundur dan langsung menarik kembali tangannya, “lho, kog Sally bisa lihat tanganku, ya??”
Pikir Rio heran.namun pertanyaan itu segera teredam kembali ketika Sally melanjutkan kalimatnya, “percuma aja kamu bicara, Yo, karena aku sudah tahu apa
yang kamu ingin katakan.”
“maksud kamu apa??” tanya Rio semakin bingung.
Sally tak langsung menjawab, ia melangkah menghampiri kursi kayu yang terletak di dekat jendela. Langkahnya terlihat ragu-ragu namun pasti. Sementara tangannya
dibiarkannya tetap tergantung lemas di sisinya. Dan, ketika tubuhnya menabrak punggung kursi, barulah ia mengulurkan tangannya menyentuh kepala kursi itu,
menariknya mundur dan kemudian duduk di atasnya, menghadap jendela yang masih terbuka. Angin senja mengalir masuk membelai lembut wajah Sally yang masih
terlihat muram.
Rio yang masih berdiri waswas mengawasi gerak-gerik Sally, sekarang ikut menarik kursi dan duduk di sebelah Sally.
Sesaat mereka saling membisu, sampai akhirnya Rio memberanikan diri untuk berkata lebih dulu.
“maaf kalau aku..”
“aku ngerti, kog!” kata Sally menyela perkataan Rio yang belum sempat diselesaikannya.
Ditatapnya gadis itu lekat-lekat, mencoba memahimi apa yang sesungguhnya ada di dalam pikiran gadis yang seakan baru kali ini dikenalnya. Namun, semakin
di lihatnya, semakin ia merasakan getaran yang kian bergemuruh dalam hatinya. Sally yang begitu cantik, sally yang begitu sangat dicintainya, “ah...,
andai saja dia tidak buta.” pikirnya lirih.
“Rio,” ujar Sally memecah kebekuan yang sempat tercipta diantara mereka, “aku tahu ... pasti sulit bagi kamu buat terima keadaan aku yang sekarang ini,”
suara Sally terdengar begitu tenang, “aku juga bisa ngerasain kog, bagaimana kamu harus menghadapi semua kenyataan ini,... kamu pasti kecewa,..bingung,..
kuatir,... dan semua perasaan itu membuat kamu takut untuk mengatakan yang sejujurnya tentang perasaan kamu terhadap aku sekarang,karena itu semua mungkin
bisa membuat hatiku semakin terluka.,” Sally menarik nafas, terdiam sesaat, dan kembali melanjutkan, “kupikir sudah cukup waktu yang kupakai untuk merenung,...
dan sudah terlalu banyak Air mata yang kukeluarkan untuk meratapi kebutaanku. Sekarang saatnya buat aku untuk bangkit dan mulai menata kembali kehidupanku,
menapakinya dengan segala kemampuan yang ada dalam diriku, walaupun...., aku harus menjalaninya seorang diri,...aku nggak mau terkungkung terus-menerus
dalam perasaan mengasihani diri sendiri.”Sally menundukan kepalanya sedikit, memejamkan kedua matanya, namun dengan cepat ia telah membuka matanya kembali.
“sekarang, aku siap buat ngedengarin apa aja yang mau kamu katakan, meski itu akan terasa sangat menyakitkan bagiku.”
Mendengar semua penuturan Sally yang seakan begitu mengerti dirinya, mengerti apa yang dialaminya selama ini, yang sudah menguras habis pikirannya, membuat
sesuatu dalam hati Rio seakan terlepas, beban yang telah menindihnya begitu berat, kini seakan terangkat satu demi satu, membuatnya bisa kembali bernafas
lega. Namun, mengapa ketika perasaan dimengerti itu telah berhasil diperolehnya, malah membuatnya semakin sulit untuk meninggalkan Sally, membiarkannya
berjuang seorang diri dalam kebutaannya. Sesungguhnya perasaan apakah yang sedang dialaminya,...perasaan sayang??..cinta??..atau...hanya sekedar perasaan
kasihan??,... entahlah!!!
Kesunyian kembali menguasai ruangan itu, hanya kicau burung yang terdengar dari kejauhan, disusul dengan suara dengkur Odi yang terdengar sampai ke lanti
atas.
“kamu kesini sama Odi, Yo?”
Rio menganggukan kepalanya, tapi segera sadar bahwa Sally tidak bisa melihat anggukannya, maka ia buru-buru menjawab “iya!”
“kalau begitu, lebih baik kamu sekarang pulang, kasihan Odi menuggu terlalu lama.” Kata Sally pengertian.
“biarin aja, toh nyatanya dia menikmati tidurnya.” Jawab Rio masa bodoh.
Sally hanya tersenyum, karena sudah cukup mengenal bagaimana kelakuan dua sahabat itu.
Tiba-tiba Rio bangkit dari duduknya, dan berlutut di depan Sally, tangannya meraih kedua tangan Sally, menggenggamnya, dan kemudian menciumnya dengan sangat
hati-hati seakan kuatir bibirnya dapat melukai tangan yang lembut itu.
“Sal,” kata Rio, suaranya terdengar sangat pelan tapi mantap, sementara matanya menatap mata Sally yang masih memandang kosong ke arah jendela, “aku.., aku
nggak akan pernah meninggalkan kamu.”
“maksud kamu, kamu nggak akan meninggalkan aku, Yo,.. kamu akan tetap menyayangi aku seperti dulu???” kilatan cahaya melintas di mata Sally, membuat mata
itu seakan kembali hidup. Rio terperangah Melihat kilatan cahaya itu, tapi dirinya masih tetap menjawab “ten.., tentu!”
namun cahaya segera memudar dan mengembalikan kembali sosok mata yang kosong, hampa, seakan kilatan tadi hanyalah halusinasi Rio saja.
“tapi.., apa kamu yakin, Yo??... apa yang kamu rasain itu bukan hanya perasaan kasihan terhadap kebutaanku ini??”
Rio menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia berkata: “Sal,...memang aku akui kalau aku belum yakin dengan perasaanku sekarang, tapi aku mau belajar,..
belajar untuk terima kamu apa adanya,.. belajar lebih lagi memahami bukan saja diri kamu tapi juga semua perasaan kamu... kamu mau kan beri aku waktu
buat mempelajari semua itu?” tanya Rio penuh harap.
Sally menganggukan kepalanya. Seulas senyum menghiasi bibirnya.
“thanks ya, Sal!” Rio mengangkat tubuhnya sedikit dan menempelkan bibirnya ke kening Sally.
Angin terus berhembus melalui jendela yang terbuka. kicau burung masih terdengar dari kejauhan, mengiringi suara dengkur Odi yang masih bertahan pada volume
dan intonasi nada yang sama. Sangat harmonis!
Langganan:
Postingan (Atom)