"Coba deh tangan mama begini," kata Glyn sambil gerakin tangannya
ngikutin gambar di TV.
Aku raba tangan Glyn, dan coba ikutin gerakkan tangannya. "Begini?" tanyaku.
"Bukan. Begini Mama!" glyn kembali memberi contoh dengan kedua
tangannya yang kecil. Sekali lagi kuraba tangannya, lalu coba
memperagakannya. "Begini?"
"Bukan," jawab Glyn lagi. "Begini nih!"
Berulang kali aku mencoba, tapi selalu salah. Akhirnya aku bilang sama
Glyn, "Mama kan nggak bisa liat tangan Glyn. Mata mama nggak bisa
liat, mata mama kan sakit."
"Mata mama sakit kelempar mainan ya?" tanya Glyn.
"Mata mama sakit karena dulu mama suka nonton TV deket-deket. Makanya
Glyn jangan nonton TV deket-deket ya."
Setelah itu Glyn diam, kembali nerusin nonton TVnya.
Nggak berapa lama, aku ngajakin Glyn main boneka di kamar satunya.
Waktu jalan menuju kamar tersebut kami harus melewati satu tangga. Aku
sudah tau dan hapal dengan letak tangga itu. Tapi tiba-tiba Glyn yang
berjalan lebih dulu bilang, "Awas mama, ada tangga!"
Aku benar-benar senang sekali mendengar kata-kata Glyn barusan. Itu
membuktikan anakku yang baru berusia 2,8 tahun sudah mulai mengerti
kalau mamanya nggak bisa lihat. Aku pun menjawab, "o iya, makasih ya
Glyn."
Besoknya waktu Glyn sarapan.
"Aku mau disuapin sama mama," kata Glyn.
"Kalau mama yang suapin, Glyn harus diam ya, jangan lari-lari, mama
kan nggak bisa liat Glyn."
Tapi seperti biasa, Glyn memang nggak bisa diam.
"Glyn, kamu di mana?" tanyaku sambil menyodorkan sesendok bubur. Lalu
terdengar dari balik kursi Glyn menjawab, "Aku di sini!"
Aku mendekati arah suara, dan kepala Glyn muncul dari sela-sela
punggung kursi. "Aku di sini mama!"
Tanganku menyentuh kepala Glyn, lalu kupegang dagunya dengan tangan
kiri, sementara tangan kananku memasukkan sendok bubur itu ke dalam
mulutnya yang sudah menganga lebar. Kadang Glyn sendiri yang
menyodorkan mulutnya ke sendok yang kupegang.
Siangnya sepulang sekolah, waktu kami sedang tidur-tiduran sambil
nonton, tiba-tiba Glyn bilang, "Coba deh mama pake kacamata."
"Apa?" tanyaku agak nggak percaya. "pake kacamata?"
"iya. Pake kacamata," "buat apa mama pake kacamata?"
"Biar bisa liat orang," jawab Glyn sambil jalan ke meja kecil samping
ranjang. Setelah itu dia kembali lagi dengan membawa kacamata punya
grandpa-nya. Aku langsung ketawa ngakak. Mungkin dia sering liat
grandpa sama grandma-nya pakai kacamata itu kalau membaca, dan mengira
aku juga bisa lihat kalau pakai kacamata itu.
"mama nggak bisa pake kacamata... Mata mama memang nggak bisa liat,
sayang..." kataku sambil masih ketawa geli melihat tingkahnya.
"Bisa kok," sahut Glyn ngotot.
Akhirnya kupakai juga kacamata itu demi menyenangkan hatinya. "Tuh
kan, mama tetep nggak bisa liat, Glyn."
Glyn mengambil kacamata itu dari depan mataku, dan dicobanya ke matanya sendiri.
"Jangan Glyn," larangku. "Mata Glyn kan masih bagus. Nanti kepala Glyn
pusing lho!"
Setelah beberapa saat, Glyn baru melepas kacamatanya sambil bilang,
"aduh mama, kepalaku pusing!"
Aku ini seorang tunanetra. Katanya sih penyebabnya adalah Retinitis Pigmentosa. Makanya aku menjuluki diriku sendiri: "Si gadis remang-remang", karena duniaku memang selalu terlihat remang-remang, redup, nyaris padam! :)
Rabu
Sabtu
Farewell
Di menit-menit terakhir kepergianku dari Mulia, atasanku: bu Melva, pak Agus dan teman-teman dekatku dari HRD dept telah mempersiapkan sebuah pesta kecil dengan berbagai macam kue dan kenang-kenangan buatku.
Bagaimana aku tak merasa sangat terharu melihat perhatian mereka yang begitu besar buatku. Terlebih saat bu Melva menyerahkan kenang-kenangan berupa anting dari emas putih yang sangat cantik, kemeja dan sebuah buku terbaru dari Ilana Tan 'Sunshine Becomes You'. Waktu hari Jumat minggu lalu, bu Melva mengajakku ngobrol. Di situ aku bercerita tentang buku novel yang kusuka, salah satunya buku karya Ilana Tan. Ternyata diam-diam bu Melva mengingatnya dalam hati, dan kemudian dia cari di Gramedia untuk diberikan pada hari terakhirku di Mulia. Aku benar-benar senang bukan main. Tak bisa lagi kuungkapkan bagaimana perasaanku saat menerima kenang-kenangan itu. Ya senang, ya terharu, ya sedih karena sebentar lagi akan berpisah, ya kaget karena sama sekali tak menduga akan menerima kenang-kenangan seindah itu.
Oh Tuhan..., betapa hatiku sungguh bersyukur atas atasan dan teman-teman yang begitu baik dan begitu perhatian terhadapku.
Bu Melva, pak Agus dan teman-teman HRD MKIR, tak habis-habisnya saya mengucapkan banyak terima kasih untuk semua perhatian, penerimaan, bantuan, kasih sayang dan kebersamaan kita selama ini. Kiranya Tuhan membalas semua kebaikan kalian.
Bagaimana aku tak merasa sangat terharu melihat perhatian mereka yang begitu besar buatku. Terlebih saat bu Melva menyerahkan kenang-kenangan berupa anting dari emas putih yang sangat cantik, kemeja dan sebuah buku terbaru dari Ilana Tan 'Sunshine Becomes You'. Waktu hari Jumat minggu lalu, bu Melva mengajakku ngobrol. Di situ aku bercerita tentang buku novel yang kusuka, salah satunya buku karya Ilana Tan. Ternyata diam-diam bu Melva mengingatnya dalam hati, dan kemudian dia cari di Gramedia untuk diberikan pada hari terakhirku di Mulia. Aku benar-benar senang bukan main. Tak bisa lagi kuungkapkan bagaimana perasaanku saat menerima kenang-kenangan itu. Ya senang, ya terharu, ya sedih karena sebentar lagi akan berpisah, ya kaget karena sama sekali tak menduga akan menerima kenang-kenangan seindah itu.
Oh Tuhan..., betapa hatiku sungguh bersyukur atas atasan dan teman-teman yang begitu baik dan begitu perhatian terhadapku.
Bu Melva, pak Agus dan teman-teman HRD MKIR, tak habis-habisnya saya mengucapkan banyak terima kasih untuk semua perhatian, penerimaan, bantuan, kasih sayang dan kebersamaan kita selama ini. Kiranya Tuhan membalas semua kebaikan kalian.
Dengan teman - teman HRD MKIR
Pak Agus (head of HRD) menyerahkan kenang - kenangan
Kenang - kenangan dari HRD MKIR
Buku Ilana Tan dari Ibu Melva & teman - teman
Hadiah kemeja cantik
Ibu Melva menyerahkan hadiah anting - anting
Rabu
Terima Kasih Mulia!
Ternyata hal yang paling menyedihkan dan berat untuk dilakukan selama 8 tahun bekerja di PT. Mulia Keramik Indah Raya, bukanlah waktu aku mengalami frustasi karena dicurangi, dihasut, dan menerima perlakuan tidak adil dari rekan sekerja sewaktu aku masih ditempatkan di bagian resepsionis, atau tidak ada teman untuk pergi makan siang, atau saat-saat merasa jenuh dengan keadaan sekitar, atau merasa kesepian, atau mengalami sesuatu yang buruk waktu dalam perjalanan pergi dan pulang kantor, atau terpaksa harus turun dari bis dan berjalan menerobos banjir, karena jalanan macet total, atau merasa panik saat tiba-tiba saja bis mengeluarkan asap, atau menunggu di halte berjam-jam karena yang menjemput belum datang, atau memutuskan untuk pulang sendiri dengan menggunakan ojek, atau terjebak di kantor karena keadaan mencekam oleh kabar demo buruh yang mulai anarkis, atau kondisi-kondisi lainnya yang bagi tunanetra sepertiku mustahil dapat dilalui, namun ternyata mampu juga kulewati, serta pengalaman-pengalaman lainnya yang telah menempaku sedimikian rupa, yang perlahan-lahan telah membentukku, sehingga aku mampu bertahan dan tetap berjuang melewati hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Tapi di atas semuanya itu, ternyata hal yang paling membuatku sedih luar biasa dan berat untuk melakukannya adalah saat di mana jari-jariku harus mengetik sebuah surat yang memberitahukan tentang pengunduran diriku.
Delapan tahun yang penuh lika-liku perjuangan. Delapan tahun yang akhirnya mampu kulalui dengan banyak doa, air mata dan ketegaran hati. Delapan tahun yang telah banyak memberiku peluang untuk mengembangkan diri, pelajaran untuk bertahan menghadapi situasi apa pun, dan kesempatan yang telah membangun harga diri, mendongkrak kepercayaan diri, serta menenun pengalaman hidup yang sangat bermanfaat bagi hari-hariku selanjutnya. Delapan tahun yang takkan pernah luntur dari ingatanku. Delapan tahun yang telah berhasil mengukir nama 'Mulia Keramik Indah Raya' di dasar terdalam dari lubuk hatiku. Delapan tahun yang akan terus mengingatkanku tentang kebaikan, kemurahan, keajaiban dan penyertaan Tuhan Yesus yang adalah Perekrut utamaku, sehingga aku bisa sampai ke perusahaan ini tanpa harus melalui proses pengiriman surat lamaran kerja. Tuntunan tangan-Nya yang senantiasa meluputkanku dari segala bahaya dan rasa putus asa, serta perhatian-Nya yang teramat besar terhadap diriku, sehingga meski pun aku sendiri, namun tak pernah kesepian dan ditinggalkan. tertekan, namun tetap memiliki semangat pergi ke kantor setiap pagi. Terlupakan, namun tetap sehat waalfiat sampai sekarang. Beberapa kali kejedot tembok, namun tetap saja kejedot lagi di tempat yang sama, alias tak juga membuatku kapok...:)
Akhirnya, aku akan meninggalkan rumah keduaku, rumah yang telah memberiku banyak kenangan, rumah yang selalu mengusik rasa rinduku untuk tetap kembali datang, rumah yang telah banyak berjasa bagi perkembanganku secara pribadi. Selamat tinggal Mulia! Semoga kau akan tetap berjaya dan bersinar di tengah-tengah masyarakat luas, menjadi berkat bagi banyak orang di sekitarmu!
Dan sepertinya sekarang, aku harus minum obat untuk meredakan rasa sakit yang mulai menyerang sebelah kepalaku... Mungkin akibat perasaan sedih yang bercokol di dalam hatiku ini... Rasanya seperti ditinggalkan kekasih saja...:( Apalagi saat pak Agus, atasanku, memintaku untuk berpikir ulang, memastikan apakah keputusanku mengundurkan diri ini benar-benar sudah bulat... Wah..., makin berat saja rasanya...:(
Dan, Empat hari sebelum hari terakhirku di Mulia, tepatnya hari Rabu, 25 April 2012, aku mendapat kejutan dari teman-teman dekatku di HRD. Mereka diam-diam telah merancang sebuah acara farewell untuk mengiringi kepergianku dari Mulia. Walau acaranya sangat sederhana: pesan nasi padang dan makan bersama di ruang meeting, tapi hal itu sudah meninggalkan kesan mendalam buatku dan takkan pernah kulupakan seumur hidupku.
Terima kasih buat semua teman-temanku: mbak Mei, Natalia, Daniel, Herman, pak Rohim, mas Suparman dan pak Sahroni. Kalian sungguh telah menorehkan sebuah catatan indah dan sangat bermakna dalam buku kehidupanku.
Setiap kata, doa dan cinta yang terucap dari bibir kalian akan kusimpan rapi dalam folder sanubariku, menjadi sebuah pelita yang akan menerangi langkahku selanjutnya dalam menggapai impian dan harapanku.
Wish you all the best, my friends! Sekali lagi kuucapkan, 'Terima kasih Mulia!!!'
Delapan tahun yang penuh lika-liku perjuangan. Delapan tahun yang akhirnya mampu kulalui dengan banyak doa, air mata dan ketegaran hati. Delapan tahun yang telah banyak memberiku peluang untuk mengembangkan diri, pelajaran untuk bertahan menghadapi situasi apa pun, dan kesempatan yang telah membangun harga diri, mendongkrak kepercayaan diri, serta menenun pengalaman hidup yang sangat bermanfaat bagi hari-hariku selanjutnya. Delapan tahun yang takkan pernah luntur dari ingatanku. Delapan tahun yang telah berhasil mengukir nama 'Mulia Keramik Indah Raya' di dasar terdalam dari lubuk hatiku. Delapan tahun yang akan terus mengingatkanku tentang kebaikan, kemurahan, keajaiban dan penyertaan Tuhan Yesus yang adalah Perekrut utamaku, sehingga aku bisa sampai ke perusahaan ini tanpa harus melalui proses pengiriman surat lamaran kerja. Tuntunan tangan-Nya yang senantiasa meluputkanku dari segala bahaya dan rasa putus asa, serta perhatian-Nya yang teramat besar terhadap diriku, sehingga meski pun aku sendiri, namun tak pernah kesepian dan ditinggalkan. tertekan, namun tetap memiliki semangat pergi ke kantor setiap pagi. Terlupakan, namun tetap sehat waalfiat sampai sekarang. Beberapa kali kejedot tembok, namun tetap saja kejedot lagi di tempat yang sama, alias tak juga membuatku kapok...:)
Akhirnya, aku akan meninggalkan rumah keduaku, rumah yang telah memberiku banyak kenangan, rumah yang selalu mengusik rasa rinduku untuk tetap kembali datang, rumah yang telah banyak berjasa bagi perkembanganku secara pribadi. Selamat tinggal Mulia! Semoga kau akan tetap berjaya dan bersinar di tengah-tengah masyarakat luas, menjadi berkat bagi banyak orang di sekitarmu!
Dan sepertinya sekarang, aku harus minum obat untuk meredakan rasa sakit yang mulai menyerang sebelah kepalaku... Mungkin akibat perasaan sedih yang bercokol di dalam hatiku ini... Rasanya seperti ditinggalkan kekasih saja...:( Apalagi saat pak Agus, atasanku, memintaku untuk berpikir ulang, memastikan apakah keputusanku mengundurkan diri ini benar-benar sudah bulat... Wah..., makin berat saja rasanya...:(
Dan, Empat hari sebelum hari terakhirku di Mulia, tepatnya hari Rabu, 25 April 2012, aku mendapat kejutan dari teman-teman dekatku di HRD. Mereka diam-diam telah merancang sebuah acara farewell untuk mengiringi kepergianku dari Mulia. Walau acaranya sangat sederhana: pesan nasi padang dan makan bersama di ruang meeting, tapi hal itu sudah meninggalkan kesan mendalam buatku dan takkan pernah kulupakan seumur hidupku.
Terima kasih buat semua teman-temanku: mbak Mei, Natalia, Daniel, Herman, pak Rohim, mas Suparman dan pak Sahroni. Kalian sungguh telah menorehkan sebuah catatan indah dan sangat bermakna dalam buku kehidupanku.
Setiap kata, doa dan cinta yang terucap dari bibir kalian akan kusimpan rapi dalam folder sanubariku, menjadi sebuah pelita yang akan menerangi langkahku selanjutnya dalam menggapai impian dan harapanku.
Wish you all the best, my friends! Sekali lagi kuucapkan, 'Terima kasih Mulia!!!'
Selasa
Meminta Bantuan St. Antonius Dari Padua
Dulu, setiap kali aku mendengar atau membaca tentang kesaksian orang-orang yang kehilangan barangnya, kemudian minta bantuan St. Antonius, tak lama kemudian barang yang hilang itu ditemukan kembali, aku pikir itu terlalu lebay, hanya bersifat kebetulan saja. Aku juga tak terlalu percaya seratus persen jika minta bantuan doa dari Santo/a, karena masih kebawa kebiasaan dan cara berpikirku dulu, ketika aku masih jadi protestan, kalau doa langsung sama Tuhan itu hasilnya jauh lebih afdol dan cepat, karena ibaratnya langsung lewat tol. Tapi, beberapa hari yang lalu, akhirnya aku mengalami sendiri.
Aku kehilangan gelang tangan hadiah dari mami waktu aku menikah. Aku baru sadar kalau gelang itu sudah tak ada di tangan, ketika malam hari, suamiku bilang, "Sejak kapan gelangnya dilepas?"
Aku langsung pegang tanganku, dan aku baru sadar kalau gelang itu sudah tak ada lagi. Aku begitu panik, sedih dan bingung. Gelang itu memang tidak pernah aku lepas. Aku cari di seluruh rumah, di jaket, di WC, tapi tidak juga ditemukan. Aku terus berdoa dalam hati, "Tuhan Yesus tolong, jangan sampai gelang itu hilang..., tolong Tuhan, kasihanilah saya...!" Tiba-tiba aku teringat sama Santo Antonius Padua. Tanpa ragu lagi, langsung saja aku bilang, "Santo Antonius Padua, tolong bantu saya nemuin gelang itu. Bukankah kau paling ahli dalam menemukan barang-barang yang hilang? Tolong ya santo Antonius... Kalau itu memang sesuai kehendak Tuhan, biarlah gelang itu ditemukan lagi."
Besoknya aku tanya OB di kantor, dan mereka bilang tak pernah menemukan gelang yang jatuh. Aku tanya juga ke supir bis kantor, tapi jawabannya sama: tak ada gelang yang jatuh. Aku pun pasrah. Akhirnya dengan berat hati, aku memberitahu mami, dan kedengaran sekali kalau mami pun sedih, tapi dia berkata, "Ya sudahlah..., mau diapain lagi..."
Tiga hari berlalu, tapi gelang itu tetap tidak ditemukan. Suamiku juga sudah pasrah.
Waktu hari Minggu pagi, aku buka laci parfum (laci itu pasti setiap hari kubuka). Aku mengulurkan sebelah tangan untuk mengambil parfum, tapi telapak tanganku malah memegang sebuah benda bundar dan pipih, berdiri di antara sela botol-botol parfum. Jantungku langsung berhenti sesaat. Aku ambil benda itu, dan... Ternyata itu gelang yang hilang! Aku langsung mengucap syukur pada Tuhan, dan tak lupa juga berterima kasih sama santo Antonius yang telah membantu mencarikan gelang itu...
Bagiku, itu benar-benar mujizat. Gelang itu pun waktu ditemukan, posisinya seperti sudah diatur, tegak berdiri dan menonjol ke atas.
Aku sekarang yakin, kalau para santo dan santa memang turut mendoakan kita dan selalu siap sedia membantu kita...
Benar yang dikatakan suamiku, "Sungguh nikmat jadi Katolik, tim doanya seabrek!!!" :D
Kamis
Sembuhkanlah Kami
Tuhan Yesus Kristus, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Berlimpah Kemurahan, sembuhkanlah kami.
Ya Kebajikan Yang Tiada Tara, sembuhkanlah kami.
Ya Sumber Kasih Ilahi, sembuhkanlah kami.
Ya Lautan Kerahiman, sembuhkanlah kami.
Ya Raja Kemuliaan, sembuhkanlah kami.
Ya Keindahan Yang Tiada Tandingan, sembuhkanlah kami.
Ya Allah Sumber Segala Cinta, sembuhkanlah kami.
Ya Mentari Abadi, sembuhkanlah kami.
Ya Penyelamat Jiwa Manusia, sembuhkanlah kami.
Ya Tuhan Kehidupan, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Tak Bercela, sembuhkanlah kami.
Ya Tabib Yang Ajaib, sembuhkanlah kami.
Ya Pemberi Damai Sejati, sembuhkanlah kami.
Ya Penasihat Agung, sembuhkanlah kami.
Ya Penolong Yang Murah Hati, sembuhkanlah kami.
Ya Sahabat Yang Baik, sembuhkanlah kami.
Ya Raja Tercinta, sembuhkanlah kami.
Ya Allah Pencipta Alam Semesta, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Termanis, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Termulia, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Lemah Lembut, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Berbelas Kasih, sembuhkanlah kami.
Ya Hakim Yang Adil, sembuhkanlah kami.
Ya Putera Daud, sembuhkanlah kami.
Ya Nama Yang Termasyur, sembuhkanlah kami.
Ya Darah Tersuci, sembuhkanlah kami.
Ya Tangan Yang Berlubang Paku, sembuhkanlah kami.
Ya Lambung Yang Tertusuk Tombak, sembuhkanlah kami.
Ya Punggung Yang Tercabik-cabik, sembuhkanlah kami.
Ya Tubuh Termulia, sembuhkanlah kami.
Ya Kekasih Jiwa, sembuhkanlah kami.
Ya Terang Abadi, sembuhkanlah kami.
Ya Juru Selamat, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Tuhan dan Allahku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Penyembuhku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus pujaanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus pengharapanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Penebus jiwaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus pemilik hidupku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Kekuatanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus sandaran jiwaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Kurban penebus dosaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus junjunganku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus kepercayaanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus tujuan hidupku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus tempat hatiku berteduh, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus tempat perhentian bagi jiwaku yang rapuh, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus sumber sukacitaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Sungai Kehidupanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus kerinduan hatiku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Idolaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus bintang di hatiku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus sobatku yang setia, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Kesukaan hatiku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Kesatriaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus benteng perlindunganku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus harta pusakaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus kemenanganku, sembuhkanlah kami.
Ya Bapa Yang Kekal, sembuhkanlah kami.
Ya Anak Domba Allah, sembuhkanlah kami.
Ya Roh Kasih Ilahi, sembuhkanlah kami.
Ya Tritunggal Yang Maha Kudus, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Berlimpah Kemurahan, sembuhkanlah kami.
Ya Kebajikan Yang Tiada Tara, sembuhkanlah kami.
Ya Sumber Kasih Ilahi, sembuhkanlah kami.
Ya Lautan Kerahiman, sembuhkanlah kami.
Ya Raja Kemuliaan, sembuhkanlah kami.
Ya Keindahan Yang Tiada Tandingan, sembuhkanlah kami.
Ya Allah Sumber Segala Cinta, sembuhkanlah kami.
Ya Mentari Abadi, sembuhkanlah kami.
Ya Penyelamat Jiwa Manusia, sembuhkanlah kami.
Ya Tuhan Kehidupan, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Tak Bercela, sembuhkanlah kami.
Ya Tabib Yang Ajaib, sembuhkanlah kami.
Ya Pemberi Damai Sejati, sembuhkanlah kami.
Ya Penasihat Agung, sembuhkanlah kami.
Ya Penolong Yang Murah Hati, sembuhkanlah kami.
Ya Sahabat Yang Baik, sembuhkanlah kami.
Ya Raja Tercinta, sembuhkanlah kami.
Ya Allah Pencipta Alam Semesta, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Termanis, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Termulia, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Lemah Lembut, sembuhkanlah kami.
Ya Hati Yang Berbelas Kasih, sembuhkanlah kami.
Ya Hakim Yang Adil, sembuhkanlah kami.
Ya Putera Daud, sembuhkanlah kami.
Ya Nama Yang Termasyur, sembuhkanlah kami.
Ya Darah Tersuci, sembuhkanlah kami.
Ya Tangan Yang Berlubang Paku, sembuhkanlah kami.
Ya Lambung Yang Tertusuk Tombak, sembuhkanlah kami.
Ya Punggung Yang Tercabik-cabik, sembuhkanlah kami.
Ya Tubuh Termulia, sembuhkanlah kami.
Ya Kekasih Jiwa, sembuhkanlah kami.
Ya Terang Abadi, sembuhkanlah kami.
Ya Juru Selamat, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Tuhan dan Allahku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Penyembuhku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus pujaanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus pengharapanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Penebus jiwaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus pemilik hidupku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Kekuatanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus sandaran jiwaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Kurban penebus dosaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus junjunganku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus kepercayaanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus tujuan hidupku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus tempat hatiku berteduh, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus tempat perhentian bagi jiwaku yang rapuh, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus sumber sukacitaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Sungai Kehidupanku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus kerinduan hatiku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Idolaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus bintang di hatiku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus sobatku yang setia, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Kesukaan hatiku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus Kesatriaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus benteng perlindunganku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus harta pusakaku, sembuhkanlah kami.
Ya Yesus kemenanganku, sembuhkanlah kami.
Ya Bapa Yang Kekal, sembuhkanlah kami.
Ya Anak Domba Allah, sembuhkanlah kami.
Ya Roh Kasih Ilahi, sembuhkanlah kami.
Ya Tritunggal Yang Maha Kudus, sembuhkanlah kami.
Sharing
Di atas pucuk atap ada pucuk pohon,
di atas pucuk pohon ada pucuk gunung,
di atas pucuk gunung ada pucuk awan,
di atas pucuk awan ada pucuk pemerintahan Tuhan yang mengatur segalanya.
Jika hari ini kau merasa masalahmu sangatlah besar, maka ketahuilah bahwa Tuhan jauh lebih besar dari masalahmu.
"Jika kamu hendak menyenangkan Daku, percayalah pada-Ku.
Jika kamu hendak lebih menyenangkan Daku, berharaplah pada-Ku selalu."
*Doa Hati Kudus Yesus*
di atas pucuk pohon ada pucuk gunung,
di atas pucuk gunung ada pucuk awan,
di atas pucuk awan ada pucuk pemerintahan Tuhan yang mengatur segalanya.
Jika hari ini kau merasa masalahmu sangatlah besar, maka ketahuilah bahwa Tuhan jauh lebih besar dari masalahmu.
"Jika kamu hendak menyenangkan Daku, percayalah pada-Ku.
Jika kamu hendak lebih menyenangkan Daku, berharaplah pada-Ku selalu."
*Doa Hati Kudus Yesus*
Senin
Tuhan Dimana Kau?
Suatu malam, kala aku sedang berdoa sendiri di dalam kamar, hatiku sungguh merasa hampa dan kosong, seolah-olah Tuhan berada sangat jauh, hingga rasanya doaku takkan sampai dan takkan terdengar oleh-Nya. Tiap doa yang kuucapkan sepertinya selalu mentok di langit-langit kamar, dan mental kembali kepadaku, benar-benar membuatku frustasi dan luar biasa sedih. Tak ayal lagi, air mata pun mulai mengalir. “Tuhan, di mana Kau?” hatiku menjerit. Tiba-tiba saja sekujur tubuhku terasa sangat lelah, keputusasaan menyergap jiwaku, dan aku pun segera menghempaskan tubuhku ke bantal, lalu menangis.
Sekonyong-konyong aku mendengar sebuah suara yang berkata dengan lembut:
“Imani saja kalau Aku berada dekat denganmu.”
Sejenak aku tertegun, otakku secara reflek langsung bekerja mencerna perkataan yang baru saja kudengar itu, namun dalam waktu bersamaan hatiku pun bertanya, “Apa?”
Aku berharap suara itu kembali berbicara, hanya untuk memuaskan keinginan manusiawiku yang ingin mendengarnya lagi. Tapi tentu saja suara itu tak lagi terdengar, karena sebenarnya aku sudah menangkap perkataan itu dengan jelas.
Kurang lebih selama dua atau tiga menit aku hanya merenungkan perkataan itu. Perlahan-lahan hatiku mulai menggembung kembali dengan harapan dan sukacita yang tiada tara. Seketika itu juga perasaan kecewa, sedih dan putus asa lengser dari kedudukannya, langsung digantikan dengan perasaan damai dan teduh yang terasa menyejukan jiwa, karena kutahu kini kalau sesungguhnya Tuhan berada teramat sangat dekat denganku, bahkan Dia baru saja berbicara padaku. Cepat-cepat aku bangun dari bantal dan kembali duduk untuk berdoa.
Sekarang, aku tak peduli lagi apakah doaku akan selalu mentok di langit-langit kamar atau hanya seperti hawa mulut yang langsung menguap lenyap, serta perasaan hatiku yang kosong melompong, hampa dan terasa gelap. Yang aku pedulikan kini adalah Tuhan begitu mengasihiku dan selalu bersedia mendengar setiap doaku, meski pun hanya sebuah doa yang kekanak-kanakan, tidak tertata rapi, dan terkesan amburadul dengan kata-kata sehari-hari seorang anak kecil kepada ayahnya, asal doa itu kuucapkan dengan hati yang tulus dan penuh kerinduan kepada Tuhan, maka pastilah Tuhan akan bersedia mendengarnya, walau mungkin jawaban yang kuterima dari-Nya hanyalah sebuah senyuman dan kedipan mata.
Sekonyong-konyong aku mendengar sebuah suara yang berkata dengan lembut:
“Imani saja kalau Aku berada dekat denganmu.”
Sejenak aku tertegun, otakku secara reflek langsung bekerja mencerna perkataan yang baru saja kudengar itu, namun dalam waktu bersamaan hatiku pun bertanya, “Apa?”
Aku berharap suara itu kembali berbicara, hanya untuk memuaskan keinginan manusiawiku yang ingin mendengarnya lagi. Tapi tentu saja suara itu tak lagi terdengar, karena sebenarnya aku sudah menangkap perkataan itu dengan jelas.
Kurang lebih selama dua atau tiga menit aku hanya merenungkan perkataan itu. Perlahan-lahan hatiku mulai menggembung kembali dengan harapan dan sukacita yang tiada tara. Seketika itu juga perasaan kecewa, sedih dan putus asa lengser dari kedudukannya, langsung digantikan dengan perasaan damai dan teduh yang terasa menyejukan jiwa, karena kutahu kini kalau sesungguhnya Tuhan berada teramat sangat dekat denganku, bahkan Dia baru saja berbicara padaku. Cepat-cepat aku bangun dari bantal dan kembali duduk untuk berdoa.
Sekarang, aku tak peduli lagi apakah doaku akan selalu mentok di langit-langit kamar atau hanya seperti hawa mulut yang langsung menguap lenyap, serta perasaan hatiku yang kosong melompong, hampa dan terasa gelap. Yang aku pedulikan kini adalah Tuhan begitu mengasihiku dan selalu bersedia mendengar setiap doaku, meski pun hanya sebuah doa yang kekanak-kanakan, tidak tertata rapi, dan terkesan amburadul dengan kata-kata sehari-hari seorang anak kecil kepada ayahnya, asal doa itu kuucapkan dengan hati yang tulus dan penuh kerinduan kepada Tuhan, maka pastilah Tuhan akan bersedia mendengarnya, walau mungkin jawaban yang kuterima dari-Nya hanyalah sebuah senyuman dan kedipan mata.
Langganan:
Postingan (Atom)

