Minggu

Kabur Dari Rumah

KABUR DARI RUMAH


Waktu hari Sabtu, kira-kira awal Maret 2008, aku pernah menorehkan sebuah catatan hitam dalam perjalanan hidupku --seengaknya begitulah pendapatku sendiri-- karena waktu itu aku nekat kabur dari rumah nggak bilang-bilang sama siapapun, apalagi minta izin sama ortu. ya iyalah.., kalau bilang-bilang bukan kabur namanya!.

Dimulai waktu hari Jumaat sore. aku dimarahin sama mami di telepon gara-gara aku dan ko Wiria nggak mau tinggal di rumah Sunrise setelah nikah nanti, kami pengen beli rumah atau seengaknya ngontrak. tapi mami nggak setuju, dia bilang kalau Rachel sekarang sudah nggak seperti Rachel yang dulu lagi. Rachel sekarang sudah banyak berubah. Jujur aja, dibilang kayak gitu aku sedih banget, aku merasa sudah nggak ada satupun yang mau dengerin pendapatku. disatu sisi ko Wiria ngotot nggak mau tinggal dirumah Sunrise, sementara disisi lain mami ngotot nyuruh kami tinggal di Sunrise. aku nggak tahu harus ngomong apalagi, aku bener-bener sudah nggak bisa ngomong apa-apa lagi, semuanya ngotot pada pendiriannya masing-masing. sebenernya buat aku sendiri tinggal di Sunrise setelah nikah nanti, nggak terlalu jadi masalah. tapi aku juga nggak mau kalau nantinya ko Wiria sendiri merasa nggak nyaman tinggal di sana, karena sebenernya kami juga punya cita-cita yang sama, yakni tinggal terpisah, baik dari keluarga pihak ko Wiria, maupun dari keluargaku. kami pengen bener-bener menjalani rumah tangga yang mandiri. terlebih aku, aku pengen mulai belajar mengurus rumah tanggaku sendiri, nggak direcokin siapapun. aku pengen ngebuktiin kalau aku juga mampu berbuat seperti cewek-cewek lainnya. Pokoknya aku pengen memutuskan segala sesuatunya sendiri, nggak lagi diatur-atur kayak anak kecil. toh, selama ini biarpun aku buta, tapi aku bisa lebih kuat dari yang lain.
hanya satu yang paling aku benci dari diriku, yaitu: cengeng!
aku paling nggak bisa menahan air mataku, padahal udah sering kali aku peringatkan diriku sendiri kalau nggak boleh nangis, tapi pas waktunya, aku selalu kalah. air mataku meluncur dengan sendririnya, dengan kekuatan raksasa, sampai kelopak mataku nggak mampu lagi menahannya, bener-bener menyebalkan. mungkin produksi air mataku terlalu overload, atau salurannya yang udah bocor! pokoknya, disaat-saat seperti itu aku cuma bisa mengutuki diriku sendiri yang gampang banget mengeluarkan air mata. Makanya aku paling jago kalau disuruh main drama, apalagi kalau mendapat peran yang sedih-sedih. mungkin kalau lomba menangis, aku bisa jadi juara pertama dan terfavorit.

Nah, jadi sudah bisa dipastikan, gimana derasnya air mataku waktu itu mengalir, kayak genteng bocor diterpa hujan yang dasyat.

pokoknya hari itu suasana hatiku bener-bener nggak karuan.

besoknya, aku dapet giliran piket kerja. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba aku kepengen banget makan nasi uduk. tapi masalahnya ko Wiria sudah nggak mau lagi beli uduk di Taman Angrek karena pernah dikecewakan oleh si ibu penjualnya. tapi hari Sabtu itu aku bener-bener kepengen banget, dan aku maksa ko Wiria supaya ngebiarin aku beli nasi uduk itu. Memang ko Wiria akhirnya nurutin kemauanku, tapi sesudahnya dia ngomel-ngomel sama aku. katanya:

"Yayang ini orangnya plinplan!..., percuma aja dibela!..., lain kali terserah! koko udah nggak mau perduli!"

Tanpa menunggu aba-aba, air mataku kembali melenggang keluar dengan tenangnya, seakan nggak perduli sama yang punya mata, setuju atau nggak! mengijinkan atau melarang! tinggal main keluar, kayak nggak punya aturan!

sesampainya di dalam bis kantor, aku meneruskan acara menangisku, sambil pikiran mulai menggodaku untuk kabur aja, ngapain di rumah juga, toh, udah nggak ada lagi yang perduli! nggak ada lagi yang mau dengerin perkataanku! semuanya udah nggak lagi sayang sama aku, semuanya marah sama aku!
aku bener-bener nggak berguna, cuma bikin ribut aja!

tapi ngomong-ngomong, gimana cara kaburnya?

ke rumah Carol?

nggak mungkin, terlalu jauh!

palingan ke rumah Reta. yah, satu-satunya jalan palingan ke rumah Reta!
tapi gimana perginya?
kan bisa pake ojek langganan Reta!
berarti sekarang aku harus telepon Reta dulu, jangan-jangan dia juga nolak aku nginep di rumahnya. siapa tahu?

Akhirnya aku keluarin HP CDMA-ku dan menelepon Reta.

"Ta, gue pengen nginep di rumah lu, boleh ga?"

"boleh-boleh aja."

"tapi gue bingung perginya, soalnya ko Wiria nggak tahu gue mau ke rumah lu!"

"lho, kenapa?... hehehe..., mau kabur ya, lu?"

"hmmm..., hmmm..., nggak kok, cuma lagi bete aja!"

"berantem ya, lu?"

"Hmmm..., ya gitulah..., gimana, boleh nggak gue nginep di rumah lu?"

"Wah, kalau lu kabur, gue nggak mau terlibat ah!, nanti gue kena disalahin!"

"Ya nggaklah..., ini kan masalah gue! ngapain juga mereka harus nyalahin lu!..., gimana, boleh nggak gue nginep di rumah lu?"

"Ya udah, tapi gue nggak mau ikut-ikutan ya!"

"Tenang aja, non!... tapi ngomong-ngomong gue bingung ke sananya nih. kalau tukang ojek langganan lu bisa jemput gue nggak?"

"Maksud lu bang Kerik?... wah dia sekarang udah nggak jadi tukang ojek lagi, udah jadi mandor!"

"wah..., udah jadi bos dong?.... trus, gue ke sanannya gimana ya?... kalau Risma mau nggak ya diajakin nginep di rumah lu?"

"coba aja lu tanya dia. tapi sebentaar lagi gue mau ke rumah pak Made, ada yayang gue di sana lagi sakit cacar. jadi nanti lu sama Risma langsung ke sana aja ya!"

"huuuhh..., untung gue udah pernah kena cacar!"

"Tapi gue belum nih!"

"Hah, itu sih namanya lu cari penyakit!"

"Haha, biarlah, demi cinta!"

"Ok deh, gue telepon Risma dulu ya!"

Klik!


Duh..., jadi kabur nggak ya?
Sebenernya hatiku masih setengah-setengah nih. setengah nekat, setengah lagi males. tapi kalau diinget-inget gimana sedihnya hatiku, mendingan kabur aja deh, kalau bisa malah pengen lari skencang-kencangnya, sejauh-jauhnya sampai nggak ada lagi orang yang bisa nemuin aku. coba aja kalau ada gunung di deket-deket sini, rasanya aku pengen lari ke gunung itu, trus, sembunyi di dalam gua, kayak para pendekar yang ada di cerita silat kho ping hoo! atau lari ke pulau kosong, trus, tinggal di sana sendirian, pasti tenang, nggak ada lagi yang perlu dipikirin! nggak ada lagi yang bisa maksa aku harus begini-begitu!

Atau,

seandainya aku bisa berubah bentuk, rasanya aku pengen jadi burung aja, jadi burung rajawali, biar bisa terbang bebas. Bebas lepas di angkasa raya. menghirup udara sebanyak-banyaknya, sepuas-puasnya, dan terbang sejauh-jauhnya! Kemana aja aku pengen pergi, tinggal pentangkan sayap dan terbang tinggi menembus awan. hinggap di mana aja aku suka. nggak terbatas dan nggak ada yang bisa membatasi!
Pokoknya aku mau terbang bebas, bebas lepas!... merdeka!... merdeka!!!

Fiuuuuhh, capek deh...

Sesampainya di kantor, aku langsung telepon Risma. Singkatnya, dia mau nganterin aku ketemuan sama Reta. dia bakal nemuin aku di halte Taman Angrek, dan dari situ kita sama-sama akan naek bis ke CitraLend, trus, naek bis lagi ke jurusan Meruya.

Perlu diketahui kalau Risma itu juga ONTA alias Orang Tunanetra. buta, kabel listriknya udah konslet, nggak nyetrum!
tapi jarak penglihatan dia masih mendingan dibanding aku. bisa dibilang kalau senterku tinggal 5 Wat, punya dia masih 15 Wat.
Kalau aku masih bisa ngenalin uang gedean, tapi dia, uang kecil pun ok-ok aja, asal nggak pake kembalian! hehehe...

Pokoknya aku dan Risma sudah janjian ketemu di halte Taman Angrek jam 2 siang, tentunya semua biaya ongkos-mengongkos ditanggung aku!


Tibalah saat pulang kantor. kalau piket hari Sabtu, jam kerjaku cuma setengah hari.

Mudah-mudahan aja jalanan nggak macet.

Sepanjang perjalanan aku dan Risma saling berkontek-kontek ria, kayak ayam sedang bertelor. hehehe..., salah ya? kalau ayam kan berkotek-kotek!

kita saling mengecek posisi masing-masing.
Gawatnya, bis yang ditumpangi Risma ngetemnya lama banget, sementara bisku udah setengah jalan.
Wah..., jangan-jangan aku yang harus nunggu lama nih, berdiri sendirian di halte. bisa-bisa aku disangka patung bali!

Duuuhh, jalanan beneran nggak macet lagi!

Mudah-mudahan di halte nggak banyak orang. kalau sampai banyak orang aku bisa pusing, nggak tahu harus jalan ke arah mana, takut nabrak. kalau sih yang ditabbrak cowok ganteng, trus, ngajak kenalan, lebih enak lagi kalau langsung ditraktir makan bakwan, huaaahh, pasti sedap tuh, apalagi perut lagi laper-lapernya nih! hehehe...

Biasanya kalau udah sampai Pancoran aku kasih laporan sama ko Wiria. Tapi kali ini, uh, sori ya! aku kan lagi sebel sama dia, aku lagi marahan sama dia. jadi, biarin aja dia kebingungan.

Tapi apa bener ya dia kebingungan?

Jangan-jangan dia malah makin marah sama aku?

Ah, bodo ah!
pokoknya sekarang aku sedang menjalankan misiku, yaitu: "Kabur dari rumah!"

Ternyata di halte nggak terlalu banyak orang. aku turun dari bis bareng temen kantorku, seorang bapak, namanya pak Puji. Tadinya dia nggak enak ninggalin aku sendirian di halte, tapi aku bilang supaya dia duluan aja, toh sebentar lagi juga ada yang jemput aku. akhirnya dia pun berlalu, dan tinggallah aku sendirian berdiri menunggu Risma yang nggak juga kelihatan batang idungnya. Ups, boro-boro batang idungnya, kalaupun orangnya sendiri lewat di depan idungku, nggak bakalan aku bisa kenalin wajahnya, kecuali kalau dia bersuara.
Makanya cara satu-satunya dua orang tunanetra janjian ketemuan harus saling mengeluarkan suara. Kalau saling diam-diaman, wah, bisa-bisa kita beneran jadi patung bali deh, karena sama-sama bengong nungguin orang yang ternyata udah ada di sebelahnya, sampai-sampai pada jamuran.

Tapi, setelah kurang-lebih setengah jam aku menunggu sang pendekar wanita datang, akhirnya aku mendengar juga Risma berteriak memanggil namaku dari motor. ternyata dia naik ojek. langsung aja aku juga berteriak, "Risma!", sambil berjalan ke arahnya.
Setelah itu, kami saling bergandengan tangan kayak sepasang kekasih yang baru ketemu kembali setelah sekian lama dipisahkan oleh calon mertua masing-masing.

Jam sudah menunjukan pukul setengah tiga. HP-ku mulai berdering.

Hah, telepon dari ko Wiria. aku nggak mau perduliin.

Sesudah bunyi deringnya berhenti, aku kirim SMS ke ko Wiria, kasih kabar kalau aku nggak pulang, mau nginep di rumah temen. tapi aku nggak kasih tahu ke mana dan sama siapa aku pergi.
Sejak saat itu, HP-ku terus berdering, kadang dari ko Wiria, kadang dari rumah. tapi satu pun aku nggak mau jawab.


"Ris, gue laper nih, kita beli dulu gorengan ya!"

"emangnya ada tukang gorengan?"

"Kalau nggak salah sih, di sebelah situ ada tukang gorengan, coba aja kita jalan ke depanan!"

aku langsung ngeluarin tongkat putihku, tapi yang pegang Risma.
Idungku diendus-endusin ke sebelah kanan, di mana ada berjajar tukang minuman dan gorengan, dan di bawah tangga jembatan penyebrangan ada tukang bakwan. aku udah sering makan bakwan di situ sama ko Wiria.

"Gorengan ya, pak?" tanya Risma

"O, kalau tukang gorengan di sebelah, mbak!"

Akhirnya, kami bisa juga nemuin tukang gorengan.
hah..., lumayanlah, laperku agak berkurang.

Setelah itu, kami berdiri dipinggir Trotoar buat nyetop bis ke Citralend. Kebetulan ada bapak-bapak yang berdiri di sebelah Risma, dan bersedia nolongin kami sampai naik ke bis yang tepat.

Kami duduk pas di sebelah kanan dari pintu bis. Risma duduk di sebelah dalam, sementara aku duduk di sebelah luar.

Ketika bis mau sampai Citralend, aku disuruh Risma tanya ke orang yang duduk di seberangku, apa ini udah sampai Citralend. Tapi aku bingung mau panggil pake sebutan apa, mbak? atau mas? atau pak? atau dik?, atau bu?, soalnya kami nggak bisa liat bentuk postur tubuhnya, Mirip cewek atau cowok, apa jangan-jangan banci!.

akhirnya Risma yang coba-coba panggil.

"Pak!...bak!...pa!... ini udah sampai Citralend belum ya?"

"O, belum, sebentar lagi!"

O..., ternyata cewek toh!

"Kalau udah sampai Citralend tolong kasih tahu ya, mbak, soalnya kita nggak bisa liat!"

"Oh ya, ya!"

Ternyata triknya seperti itu toh. Kalau ragu-ragu panggil orang, apa itu cewek atau cowok, lebih aman dengan sebutan, pak!, tapi agak sedikit disamarin, kan kedengerannya jadi hampir mirip bak! hehehe..., canggih juga ya?

Pas waktunya mau turun bis, aku lupa harus kaki mana dulu yang turun. tapi kayaknya harus kaki kiri dulu deh. aku udah bersiap-siap turun dengan kaki kiri lebih dulu menginjak aspal. Tapi..., ups!... ternyata aku menginjak aspal dengan kedua kakiku bersamaan, tubuhku agak sempoyongan ke kanan, tapi untung aja bisa cepat dikendalikan.


Risma kembali menguasai tongkat, dan aku berjalan di sebelahnya sambil berpegangan pada lengan kirinya. Risma mencari-cari orang yang bisa dimintai pertolongan, dan akhirnya dia menemukan bapak-bapak yang langsung mengantar kami sampai ke bis berikutnya.

di dalam bis, HP-ku semakin giat berdering. kadang suar bebek nyanyi yang berarti telepon dari ko Wiria. kadang-kadang suara anak jepang nyanyi sambil teriak-teriak, itu berarti telepon dari rumah Jakarta. kadang juga HP GSM-ku berbunyi dengan nada yang lembut, berarti telepon dari Sukabumi alias my mom.

hatiku semakin nggak karuan. Kalau diangkat, berarti acara kaburku ketahuan, tapi kalau dibiarin, bisa-bisa mereka pada kuatir, terutama my mom.
duh, gimana ini?
biarin aja deh. palingan nanti aku SMS my mom.

sesampainya di depan gang rumah pak Made, kami dijemput oleh Reta yang udah nyampe dari pagi buat ngurusin cowoknya yang kena cacar.

Just for your information, Reta ini juga matanya nggak jauh beda kayak kami, redup, yang tampak selalu hanya remang-remang, langit selalu mendung padahal matahari udah bersinar abis-abisan. cowoknya, Parlin, lebih parah lagi, kiamat, matahari dan rembulan tak lagi bersinar, bener-bener BT alias buta total!

Begitulah, akhirnya sampai juga kami di rumah pak Made.

Buat ngabisin waktu, kami berempat pada main gapleh.

bingung kan?

jadi kartu gaplehnya di-braile sesuai dengan jumlah titik yang ada di kartu tersebut. dengan begitu kami mainnya bukan pake mata, tapi pake jari dan suara.

setiap kami buang kartu, harus dibarengi dengan menyebutkan kartu nomor berapa yang kami buang. sehingga lawannya bisa tahu dan kembali membuang kartu dengan nomor yang sesuai.
sering aku salah menyebutkan nomor, misalnya:
dengan lantang aku menyebutkan nomor "Dua, empat!", padahal kartu yang kubuang bernomor dua, enam.
Untungnya Parlin emang udah jagonya main gapleh, jadi biasanya dia langsung tahu kalau ada yang salah membuang kartu.
dan hukuman buat yang kalah, harus jongkok sampai ditemukan pemain yang terhukum berikutnya.
untungnya aku nggak terlalu sering kena hukuman, soalnya lumayan juga jongkok sampai permainan berikutnya berakhir, bisa-bisa kakiku kena varises. Kalau sih permainannya lancar, kalau harus diulang-ulang gara-gara ada yang salah buang kartu, wah..., bisa-bisa aku encok sebulan!

Sebenernya sih, aku nggak terlalu menikmati permainan itu. hatiku masih nggak keruan. kadang merasa pengen pulang, tapi di sisi sebelah sini,
sebelah mana?
ya, pokoknya sebelah sini!
hati masih bersikukuh pada keputusan pertama.
Sementara HP terus berdering. SMS terus berdatangan, semuanya merayu aku supaya pulang. tapi telepon dari ko Wiria sudah berhenti, boro-boro SMS.
aku cuma balas SMS dari Mami. aku bilang kalau aku nginep di rumah temen tunanetra, nggak perlu kuatir. Tapi mami masih terus telepon dan SMS yang meminta aku menjawab teleponnya.

Kalau dipikir-pikir lagi, waktu itu aku bener-bener bodoh. cuma bikin mami kuatir dan sedih dengan kelakuanku yang tidak bertanggungjawab.
Yah..., tapi itulah yang terjadi. waktu itu aku bener-bener menahan diri untuk tidak menjawab telepon dari siapapun.

Sekitar jam 5, aku , Risma, dan Reta, dengan ditemani anak laki-laki pak Made yang tentu saja matanya awas, pergi ke Alvamart buat beli keperluanku, seperti sikat gigi, celana dalam kertas, dan kaos buat ganti besok. Selain itu juga aku beliin keluarga pak Made Soto ayam buat makan malam dan buat anak laki-lakinya ini, kelengkeng.

Sementara mereka semua makan, aku cuma makan roti yang juga kubeli di Alvamart tadi. aku bener-bener lagi nggak selera makan. perutku rasanya sudah membeku. makan roti pun rasanya sudah pengen muntah. itulah gejala-gejala kalau aku lagi stres berat.

Sesudah makan, Risma pamitan mau pulang karena ada acara keluarga. percuma aja aku ngotot minta dia supaya nginep di rumah Reta, Risma tetap harus pulang, dan berjanji besok akan datang lagi.

Risma pulang dianterin sama pak Usman, ojek pribadinya pak Made, sampai ke bis.

Sementara menunggu pak Usman kembali, aku, Reta dan Parlin duduk-duduk di atas tembok setinggi pingganku yang berada pas di depan pintu rumahnya pak Made, sambil gitaran dan nyanyi lagu sekenanya.

Kira-kira jam 10 malam, aku dan Reta pulang dengan dibonceng pak Usman. Jadi kita bertigaan di motor. Reta duduk di tengah antara pak Usman dan aku.

Sampai jam 12 malam kita ngobrol ke sana-sini, sementara mami masih juga SMS aku. Tadinya dia bilang kalau dia dan papi sedang menuju ke Jakarta. aku langsung bales:

"Mami nggak usah ke Jakarta. kalau mami sampai ke Jakarta, aku nggak mau pulang!"

"Ya udah, mami nggak ke Jakarta. tapi kamu pulang ya?'"

"Iya, aku pulang besok!"

"sekarang kamu kasih tahu mami kamu ada di mana?"

....

untuk pertanyaan yang satu ini, aku masih kukuh nggak mau memberitahu.
akhirnya malam pun berlalu.

Besoknya, pagi-pagi sekali mami sudah SMS lagi.

"Kapan kamu pulang?"

"entar siang, aku mau ke rumah bu Sihombing dulu, ada pertemuan tunanetra!"

Tapi satu pun nggak ada SMS dari ko Wiria.

"Gila, Wiria orangnya cuwek juga ya?" komentar Reta.

"Mungkin dia tahu kalau dia telepon atau SMS gue, nggak bakalan gue jawab!"

Jam sebeleasan, Risma datang, dan kita pun berangkat ke rumah bu Sihombing dengan naik bis.

Ternyata di sana ada PD tunanetra yang dipinpin oleh pak Made.
aku disuruh jadi Songleader. sebenernya aku nggak mau, karena keadaan diriku sendiri aja lagi nggak beres. tapi karena dipaksa, akhirnya jadi juga aku pimpin pujian. hatiku diliputi rasa bersalah, nyesel, sedih, takut, danperasaan-perasaan yang nggak mengenakan lainnya.

Selesai pukul 1 siang. dan aku pamit pulang dengan dianter pak Usman.

Sepanjang perjalanan ke rumahku, aku merasa takut. takut dimarahin papi.
aku yakin kalau mereka ada di Jakarta. Mami pasti bohong, bilang kalau nggak jadi ke Jakarta, cuma supaya aku mau pulang. Tapi walau bagaimana pun kelakuan aku kali ini bener-bener sudah keterlaluan, bikin susah semua orang, terutama mami. Sori ya, mam!

aku minta pak Usman supaya turunin aku di depan gang rumahku aja, karena aku kuatir dimarahin kalau ketahuan pulang naik ojek.

sampai di depan pintu gerbang rumahku, aku berpapasan dengan pembantuku yang mau keluar buat buang sampah.

"Di rumah ada siapa aja, mbak?" tanyaku pelan-pelan kapada pembantuku.

"Nggak ada siapa-siapa!"

aku menarik napas lega. Seenggaknya aku bisa istirahat sebentar, sebelum menghadapi meja pengadilan dan diinterogasi oleh pihak terkait.

di dalam rumah sepi, nggak ada satu pun yang bersuara. aku melangkah tenang mengitari sofa hendak menuju ke kamarku. ketika langkahku sampai di sisi sofa, tiba-tiba seseorang memegang tanganku. hampir aku melompat saking terkejutnya.

tok-tok-tok, duuuhh, akhirnya tiba juga saatnya hukuman akan segera dijatuhkan.

"papi?" aku coba bertanya.

tapi yang aku terima bukannya jawaban, melainkan sebuah pelukan. tubuhku ditarik sampai akhirnya aku berlutut di depan mami yang terus memeluku sambil menangis.

"Kenapa sih kamu harus kayak gini?... apa kamu tega kalau lihat mami sakit karena kuatirin kamu?"

tenggorokan seketika tercekat. aku tak mampu lagi berkata-kata. air mataku turun membasahi pipiku.

"maafin aku ya, mam!"

"mami udah maafin kamu," jawab mami lembut sambil mengusap-usap punggungku, "janji ya, lain kali kamu nggak bakal kayak gini lagi!"

"Iya, mam, aku janji!"

akhirnya mami melepaskan pelukannya.

"Itu ada papi di situ!"

aku nggak langsung bangkit berdiri. keberanianku masih belum ngumpul untuk menemui papi. Sementara mami mulai melepaskan tas selempang dari bahuku dan membukanya untuk mengadakan pemeriksaan.

"kamu bawa apa aja sih, sampai tas berat kayak gini?"

"kan aku bawa laptop!"

tiba-tiba papi memanggil aku untuk masuk ke kamar.

duuuhh, masuk ke kamar sama aja rasanya kayak masuk ke ruang eksekusi. apa yang akan terjadi pada diriku di dalam sana ya?
dengan gontai, akhirnya aku pun menyusul papi masuk ke dalam kamar.

Ternyata apa yang aku takuti tidak sama dengan yang terjadi. dengan lembut papi menanyakan alasan kenapa aku melakukan semuanya ini.
Seperti yang sudah kuduga, aku nggak mampu menjawab pertanyaan ini, karena aku sendiri pun nggak tahu pasti kenapa aku bisa melakukan semuanya ini. Marah sama mami? ah, nggak mungkin! setelah mami dibuat stres gara-gara aku, nggak mungkin lagi aku tega nyalahin mami.
Trus, gara-gara apa?
marahan sama ko Wiria, cuma gara-gara nasi uduk?
uuhh, lebih nggak mungkin lagi. bisa-bisa aku dibilang kayak anak kecil!
trus, gara-gara apaan, dong?

"Abis, aku nggak pernah dianggep dewasa!" akhirnya keluar juga jawaban dari mulutku. tapi itu bener-bener jawaban yang konyol, untung aja suaraku kecil, nyaris tak terdengar.

"Apa?" tanya papi karena kurang jelas dengernya.

aku nggak menjawab.

"Orang diperhatikan, kok malah nggak terima!"

hatiku yang menjawab: "Ya, bener, aku emang tolol! diperhatiin kok malah balesannya kayak gini!, dasar anak nggak tahu terimakasih!, bener-bener bego! bego, bego!!"

"Trus, kenapa kamu nggak kasih tahu ke mana kamu pergi?" tanpa menungu jawabanku, papi kembali meluncurkan pertanyaan.

"aku takut kalau sampai mami tahu, bakal langsung nyuruh ko Wiria jemput aku!"

"Ya nggak kayak gitu, asal kamu kasih tahu di mana kamu nginep, nggak mungkin kita terlalu kuatir kayak gini!... kamu tahu, mami sampai nggak tidur semalaman gara-gara mikirin kamu!... cobalah berlaku dewasa sedikit!..."

papi terus kasih wejangannya yang bikin aku makin merasa bersalah, merasa menyesal setengah mati. bener-bener hari yang paling kelabu. paling memalukan, paling tidak mengasyikan, lebih mengerikan dari pada tidur di kuburan sehari semalam! Pengalaman yang sangat buruk, lebih buruk dari pada muka setan-setan yang ada di kuburan! Pengalaman yang sebisa mungkin jangan sampai terulang lagi!

Setelah papi keluar, giliran mami yang masuk.
Mami kasih aku sendal dan sarung bantal baru buat dibawa setelah nikah nanti.
perasaanku semakin terharu. sekali lagi aku peluk mami, sambil nangis aku kembali minta maaf.
aku sadar, kalau permintaan maaf dan air mataku saja belum cukup buat mengganti penderitaan yang mami alami gara-gara perbuatanku. tapi aku nggak tahu lagi harus gimana, cuma minta maaf yang aku bisa lakukan.

Sementara di depan kamarku, ko Wiria sudah datang dan sedang diinterogasi oleh papi. setelah selesai dengan papi, ko Wiria pun masuk ke kamarku.

"Enak nginepnya?... nginep di rumah siapa sih?" tanya ko Wiria lembut, sambil duduk di pinggir tempat tidur, di sebelahku.
aku langsung peluk dia dan minta maaf.

"Koko nggak marah kan sama aku?"

"Kenapa harus marah?... ada saatnya orang butuh untuk menyendiri, merasa curhat sama teman lebih enak dibanding curhat sama keluarga sendiri."

Begitulah kisah Rachel, si gadis remang-remang, nekat kabur dari rumah. bikin semua orang panik.

Setelah mendengar cerita keselurahan dari ko Wiria, ternyata dia terus-terusan disuruh mami buat telepon temen-temen tunanetraku. dia udah hubungin Carol, tapi ternyata aku nggak ada di sana, malah bikin si Carol jadi ikut-ikutan cemas. trus, dia juga hubungin temen kantorku, Niken, buat tanya telepon supir bis kantor. setelah dapat nomornya, dia langsung hubungin supir bis tersebut dan mendapat keterangan bahwa aku turun di halte Taman Angrek bareng pak Puji. masalahnya, yang ditangkep sama ko Wiria bukan pak Puji, tapi Mbak Puji. Emang aku sering juga pulang nebeng mobil bu Puji, tapi yang dibayangan ko Wiria saat itu bukannya bu Puji, tapi ci Wiwik, temen kantorku yang satunya lagi. Jadi, mendengar aku turun bareng mbak Puji, hatinya merasa lega.

Akhirnya, papi dan mami pun mengijinkan kami beli rumah atau ngontrak rumah sendiri setelah nikah nanti.


Bener-bener pengalaman yang buruk!
hari yang buruk!
kelakuan yang buruk!
alasan yang buruk!
mimpi buruk!
pokoknya semua yang dikerjakan Rachel saat itu bener-bener buruk! buruk!buruk! bener-bener buruk!!!!
Sampai waktu aku nulis cerita ini pun, perasaanku jadi kembali mendung, sedih, malu, merasa bego sendiri, pokoknya jadi serba buruk!!!
.....

3 komentar:

catatan salwangga mengatakan...

kayak baca novel aku baca ini. ada perasaan yang tersentuh....

Rachel mengatakan...

Tersentuh waktu kami maen gapleh ya, Sal??
hehehe...

Ai Cahyati mengatakan...

hehehehe. ada2 aja ni mbak Rachel :D