Sabtu

Berlibur Ke Negeri Di Atas Awan Dan Pertapaan Rawaseneng

Akhirnya, kuinjakkan juga kakiku ke negeri di atas awan!

Tadinya, kami masih belum punya rencana apa pun untuk melewatkan liburan tahun baru. Lain lagi sama Glyn, dia memang sudah di tag jauh-jauh hari oleh grandmanya akan dibawa berlibur ke Manado.
Tapi ternyata aku mendapat tugas dari kantor untuk mengisi sesi training di Jogjakarta pada tanggal 26 Desember. Jadi kupikir, mending sekalian saja extend untuk mewujudkan impian kami yang belum kesampaian, yaitu pergi ke dataran tinggi Dieng.

Setelah berunding dengan suami, akhirnya kita sepakat untuk extend sampai tanggal 2 Januari. Alasan suami, supaya dia tak perlu lagi mendengar suara petasan yang memekakkan telinga. Jadi kami memutuskan setelah pekerjaanku selesai, besoknya kami akan langsung
pergi ke Dieng satu malam, dan selebihnya akan kami habiskan di Pertapaan Rawaseneng. Istilah suamiku sih, buat sekalian nebus 'obat gila', hehehe...

Kami pun mulai Googling jasa travel yang akan mengantar kami ke Dieng.
Dan kami menjatuhkan pilihan pada Putra Wijaya Tour. Dua hari satu malam dengan biaya 2,7 jt untuk 2 orang.
Ok, urusan travel sudah beres. Kami akan berangkat ke Dieng tanggal 27 pagi, dan travel akan menjemput kami langsung di hotel. Jadi sekarang kami harus mencari hotel di Jogja.
Ternyata high season semua hotel di Jogja fully booked, dan harganya sudah tidak masuk akal. Karena kantor hanya memberi kami budget 400 ribu untuk hotel, akhirnya kami menemukan hotel Brongto dengan biaya 500 ribu semalam.

====
26 Desember 2014
Kami berangkat ke bandara bareng Glyn, mami dan papiku yang juga akan berangkat ke Manado. Ternyata tanpa disengaja, jadwal keberangkatan dan kepulangan kami sama, 26 Desember 2014 - 2 Januari 2015. Pesawatnya pun sama, Batik Air. Tapi pulangnya beda, aku Citilink, sementara mereka Batik Air. Dan yang beda lagi adalah, pesawat kami dibayari kantor, sementara mereka bayar dewek, hehehe...

Tiba di Jogja jam 11-an, dijemput pak Erwin, staff dari perusahaan 'Setiawan Group' tempat aku akan mengisi training pada jam 2 siang nanti.
Di Mobil, pak Erwin menanyakan kami mau makan siang apa. Suami pun menjawab, "Lotek, pak!"
Mendengar permintaan suamiku yang mungkin tidak diduganya, pak Erwin sampai mengulang pertanyaannya sebanyak tiga kali, "Beneran, pak, mau makan lotek?"
Hehehe..., padahal pak Erwin sudah menawari kami makan di restoran, tapi suamiku malah milih makan lotek di warung pinggir jalan.
Akhirnya kami pun berhenti di warung lotek Colombo. Kata pak Erwin, ini adalah lotek terenak di Jogja. Dan memang betul, suami komentar kalau loteknya uenak tenan...

Setelah itu, kami langsung menuju jalan Magelang, tepatnya ke Restoran Pringsewu, tempat training akan dilaksanakan. Aku diperkenalkan dengan pemilik perusahaan tersebut yang bernama pak Andi beserta isteri. Kemudian kami dibawa ke dalam sebuah ruangan. Di sana sudah berkumpul para karyawan Setiawan group yang akan mengikuti sesi training, jumlah mereka sekitar 60 orang.

Waktu masuk ke ruangan itu, aku sudah merasa pengap, mungkin karena AC-nya baru dinyalakan. Tapi ternyata AC-nya memang bermasalah. Jadi sepanjang training kami kepanasan, lebih-lebih aku yang harus berbicara di depan, benar-benar basah kuyub. Tentu saja ruangan panas sangat mengganggu konsentrasi kami. Tapi apa pun yang terjadi, aku harus tetap menjalankan tugasku dengan semaksimal mungkin, berusaha membangun suasana agar tetap kondusif.

Puji Tuhan, akhirnya training pun selesai, semua peserta tetap mampu mengikuti sesi demi sesi dengan penuh perhatian, bahkan banyak dari mereka yang menangis. Mudah-mudahan menangisnya bukan karena kepanasan, hehehe...

Sekitar jam 7.30, sehabis makan malam, pak Erwin pun kembali mengantar kami sampai ke hotel Brongto. Waktu aku tanya ke resepsionisnya, "Apa itu arti dari kata 'Brongto'?"
ternyata artinya 'cinta', diambil dari bahasa Sansekerta.

Okelah, kami ternyata tidur di kamar 'cinta'. Tapi saking cintanya, sepanjang malam kami tidur sambil diiringi suara berdenging mirip mesin pesawat yang berasal dari kamar mandi. Waktu dicek, sumber suara itu berasal dari keran air panas yang mungkin dikarenakan tekanannya terlalu tinggi, jadi menimbulkan suara berdenging yang luar binasa bising.
Yah, tapi kami harus tetap bersyukur... Setidaknya kami masih kebagian tempat untuk melewatkan malam. Karena waktu kami check in, ada seorang bapak juga yang ingin memesan kamar, tapi resepsionis bilang kalau semua kamar sudah penuh... :)

====
Besoknya, jam 7.30 pagi, travel sudah datang menjemput kami. Selesai sarapan, kami pun memasuki mobil Xenia putih, dengan pemandu perjalanan kami bernama Mas Adit, dan bapak supir bernama pak Yono. Jarak dari Jogja ke Dieng akan ditempuh selama 4 jam.
Sampai di Wonosobo, kami berhenti dulu untuk menikmati santapan khas setempat yang bernama mie Ongklok: Mie kuah yang diberi sayuran, ditemani dengan sate sapi, tempe kemul dan geblek, semacam makanan yang terbuat dari singkong. Sayangnya waktu aku datang, gebleknya gak ada, yang ada geubleug, hehe... (itu mah bahasa sunda atuh)

Ongklok ternyata memiliki arti sendiri. Disebut mie ongklok karena sebelum disajikan mie ini diramu dengan sayuran kol segar dan potongan daun kucai. Kol dan daun kucai merupakan sayuran khas Wonosobo.
Kucai sendiri adalah daun yang terkenal sebagai penurun darah tinggi.
Setelah dicampur di sebuah gayung dari bambu, campuran mie dan sayuran tadi dicelup-celupkan selama beberapa menit di air mendidih.
Inilah yang disebut diongklok. Mie secara berulang-ulang dicelupkan di air mendidih. Cara pembuatan mie seperti ini hanya ada di Wonosobo.


Hanya beberapa menit, mie dan campuran sayuran tadi ditaruh di mangkuk dan diguyur kuah. Kuah mie ongklok inilah yang terkenal khas. Kuahnya berasal dari pati yang dicampur gula jawa, ebi, serta rempah. Supaya rasanya lebih maknyus, mie ongklok diguyur juga oleh bumbu kacang, merica dan bawang goreng.
Sementara kata Mas Adit, tempe kemul juga punya arti sendiri. Kemul itu artinya diselimuti. Makanya tempenya diselimuti tepung biar anget, hehe...

Sebelum sampai Dieng, kami mengunjungi dulu home industri pembuatan carica, sejenis pepaya yang berukuran kecil. Buah ini hanya tumbuh di Dieng. Dibuat menjadi manisan, rasanya sangat enak dan manis. Apalagi kalau habis ditaruh di kulkas, wah tambah maknyos...:)
Di sana juga kami membeli kacang Dieng, keripik jamur dan yang gak boleh ketinggalan; Purwaceng. Purwaceng itu sejenis tanaman ginseng yang tumbuh di Dieng, khasiatnya selain untuk kesehatan, tapi juga yang paling terkenal, sesuai namanya, yaitu untuk membuat para lelaki makin ngejoss hehehe...

Perjalanan pun berlanjut. Mobil terus menanjak menuju ke dataran yang semakin tinggi. Dan akhirnya sampailah kami ke Negeri di atas awan, alias dataran tinggi Dieng.
Wah, ternyata cuaca Di Dieng pada bulan Desember sangat tidak bersahabat.
Hujan teruuuus tiada henti... Hawa yang sudah dingin, makin menusuk karena di sertai hujan dan angin.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Telaga Menjer. Telaga yang memiliki pemandangan sangat cantik, katanya, aku sih cuma bisa ngebayangin doang, hehehe... Tapi sayangnya, hujan yang turun membuat pemandangan di sekitar telaga tertutup kabut. Setelah itu, kami mampir dulu di warung kecil untuk sekedar menghangatkan badan dengan minum segelas purwaceng, wedang jahe dan sepiring kentang goreng.

Tempat wisata selanjutnya adalah candi Arjuna. Di sana kami berfoto bersama para penari yang biasa menari di acara ruwatan gembel atau ritus pemotongan rambut gimbal. Aku dikasih ijin oleh para penarinya untuk meraba-raba pakaian mereka... Untung gak salah raba, hehehe...
Kemudian kami beranjak ke teater Dieng Plateau untuk menonton sejarah terjadinya Dieng. Nah, kalau di sini sih, tepatnya cuma Wiria yang nonton, sementara aku cuma mendengarkan cerita yang dipaparkan Wiria. Tapi sayang, baru nonton setengah jalan, tiba-tiba listrik mati. Kata penjaganya sih, ada batang pohon yang tumbang, jadi film tidak bisa diterusin. Tentu saja para penonton kecewa... Serentak kami pun berteriak, "Huuuuuuu....."
Karena hari sudah sore, dan hujan yang tiada henti, maka kami pun memutuskan untuk langsung ke penginapan dulu.


Penginapan di sana ternyata hanya berupa rumah penduduk yang disewakan.
Satu rumah bisa terdiri dari beberapa kamar. Kami kebagian kamar di lantai dua, dengan kamar mandi di dalam. Huff, rasanya nikmat sekali badan ini setelah mandi air panas dan boboan sambil selimutan.

Tadinya kami sudah janjian untuk keluar lagi makan malam, tapi berhubung hujan yang tak juga kunjung berhenti, ditambah hawa yang semakin dingin dengan suhu mencapai 9°C, aku memutuskan untuk order makanan saja, biar bisa makan di penginapan. Benar-benar salah tanggal. Seharusnya waktu terbaik berkunjung ke Dieng adalah pada bulan Juni - Agustus, pas musim kemarau.
Selain banyak acara tradisional yang digelar, tapi paling penting adalah gak perlu ribet sama hujan. Meski katanya di musim kemarau, hawa Dieng malah lebih dingin dari pada di musim hujan. Tapi mendingan dingin dari pada hujan terus, setidaknya kalau gak hujan kita bisa lebih leluasa untuk pergi ke mana-mana, dan yang terpenting pemandangan di sekitar Dieng tidak tertutup kabut.

Semalaman hujan gak bosan-bosannya turun membasahi Dieng. Dengan anginnya yang semakin kencang, membuat atap seng yang berada entah di mana terus mengeluarkan suara gedebugan. Aku berpikir, "Orang-orang Dieng sudah biasa kali ya dengan suara-suara kayak gini... Gimana kalau sampai rumahnya rubuh, gara-gara terus-terusan diterpa angin yang kencang kayak gini?...
Ah, tapi apa pun yang terjadi, terjadilah. Yang pasti, malam ini aku harus bisa tidur, karena perjalanan masih panjang. Jangan sampai acara jalan-jalannya berantakan, gara-gara terkapar karena sakit."

Besoknya, penginapan menanyakan kepada kami ingin sarapan apa. Karena hawa yang super duper dingin, akhirnya kami memilih mie instan kuah saja, biar dimakan hangat-hangat.
Perjalanan pun kembali dilanjutkan. Kali ini Mas Adit membawa kami berkunjung ke Telaga Warna. Di sana kami menelusuri jalan-jalan setapak yang kadang menanjak, tapi juga kadang menurun. Untung suamiku sudah mahir dalam teknik menuntun tunanetra, jadi aku tetap merasa aman dan nyaman, walaupun seandainya harus menuruni jurang terjal sekali pun, yang penting Wiria tetap berada di sampingku, hehehe... lebai ya??? :D
Pertama-tama kami diperlihatkan telaga yang disebut Telaga Warna.

Nama Telaga Warna sendiri diberikan karena keunikan fenomena alam yang terjadi di tempat ini, yaitu warna air dari telaga tersebut yang sering berubah-ubah.
Terkadang telaga ini berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi.
Fenomena ini terjadi karena air telaga mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat sinar Matahari mengenainya, maka warna air telaga nampak berwarna warni.

Telaga Warna berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut, dan dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi yang menambah pesona keindahan alam sekitar.
Suasana mistisnya juga masih terasa  kental sekali, disempurnakan oleh kabut putih dan pepohonan yang rindang dengan gua-gua disekitarnya, seperti :
Gua Semar. Di sini kami berfoto di samping patung Semar yang berada di depan Gua...:)

Ada juga Gua Sumur Eyang Kumalasari dan Gua Jaran.
Gua jaran ini disebut jaran yang artinya kuda, karena konon di gua ini terjebak seekor kuda betina, dan waktu keluar, tiba-tiba saja kuda ini sudah hamil. Makanya gua ini dipercaya bisa membuat para wanita yang sulit hamil bisa segera mengandung.

Selain itu, ada pula Batu Tulis Eyang Purbo Waseso.
Nah ini dipercaya bisa membuat anak-anak cepat menguasai baca tulis. Makanya banyak orang tua yang memasang sesajen di sekitar arca ini. Dan juga gua-gua lainnya. Katanya, konon salah satu presiden Indonesia juga pernah semedi di salah satu gua tersebut.

Aku membeli bunga Edelweis yang dijajakan para ibu-ibu di depan pintu masuk Telaga Warna, harganya dari 15.000, aku tawar menjadi 10.000 + sewa payung 5.000, jadi kocek yang kukeluarkan tetap saja sebesar 15.000...:)
Sebenarnya Suami sudah melarang aku membeli bunga tersebut. Katanya bunga itu sudah dilindungi karena kelangkaannya, tapi aku tetap saja ngeyel...
Maap ya, sayang... Habis kapan lagi bisa punya bunga langka seperti ini...
Semoga bunga ini juga bisa melambangkan cinta kita yang abadi, hehehe...

Tempat selanjutnya adalah Kawah Sikidang. Di sini kami hanya melihat kawah yang mengandung belerang. Makanya dari turun mobil saja, kami sudah dipepet para pedagang yang menawarkan masker seharga 2.000 rupiah untuk menutup hidung kami dari bau belerang yang menyengat.

Kenapa kawah ini dinamakan Kawah sikidang?
Karena katanya kolam magmanya sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di sekitaran Wilayah tersebut, mirip hewan Kidang atau Kijang yang suka melompat-lompat.
Dari situ, kami lanjut ke candi Bima. Di sini hanya suami saja yang turun untuk sekedar berfoto.

Karena pak Yono menyinggung tentang nasi jagung khas Dieng, akhirnya aku meminta mereka untuk mencarikan aku nasi jagung tersebut. Untunglah kami bisa mendapatkannya di pasar Dieng. Kalau nggak, pasti aku akan penasaran terus sama rasanya...:)
Ini keberuntungan kami. Ternyata pak Yono itu adalah salah satu petinggi di pabrik teh Tambi, akhirnya kami mendapat akses langsung untuk masuk ke pabrik tersebut, melihat cara pembuatan teh dari masih berupa daun sampai menjadi teh yang siap di pasarkan.


Tibalah saatnya kami harus beranjak dari negeri di atas awan, kembali turun ke bumi.

Sesuai kesepakatan semula, kami akan diantar sampai ke Rawaseneng.
Dalam perjalanan menuju Rawaseneng, kami beberapa kali berhenti di tempat-tempat wisata, seperti Jumprit di daerah Temanggung. Jumprit diyakini sebagai petilasan Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di kerajaan Majapahit. Makamnya pun berada tak jauh dari Umbul Jumprit.

Banyak peziarah yang melakukan wisata spiritual di Makam Ki Jumprit di dekat Umbul Jumprit ini. Mereka bersemedi di sekitar makam, kemudian diakhiri mandi kungkum di mata air yang tak pernah kering. Setelah mandi, mereka pun langsung membuang celana dalamnya, katanya untuk membuang
sial. Untung suamiku gak ikut-ikutan buang celana dalamnya. Kalau gak, bisa pusing ogut harus cari toko yang jual celana dalam di dekat-dekat situ, hehehe... Apalagi di Jumprit banyak monyetnya. Gimana kalau nanti ada monyet yang tertarik mmencoba celana dalamnya?? Terus monyetnya
bilang deh, "Wah, mereknya Ihing euy!!!" :D

Terakhir kami mengunjungi Liyangan, sebuah daerah yang masih dalam proses ekskavasi, karena ditemukan candi yang diperkirakan berukuran sangat luas.

Setelah itu kami makan siang di kota Temanggung, dan akhirnya sampailah
kami di Pertapaan Rawaseneng, tempat biara para rahib OCSO dan susteran
OP. Di sinilah kami akan menghabiskan masa liburan kami sampai tanggal 2
nanti. Berarti masih ada sisa lima hari kami habiskan di tempat yang sudah sangat kami rindukan ini, karena di sinilah kami akan direparasi kembali; yang sudah rusak dibetulkan, yang sudah mulai sinting diwaraskan kembali, hehehe...

Karena kamar di pertapaan sudah fully booked, akhirnya kami pun menginap di susteran. Bagai langit dan bumi, di susteran yang menginap hanya kami dan seorang bapak dari Singapura.

Setiap hari kami berusaha untuk mengikuti jadwal ibadat para rahib di
pertapaan, yaitu sebanyak tujuh kali sehari. Di mulai dari jam 3.30 pagi, 6.00, 8.00, 12.00, 14.30, 17.30 dan ditutup jam 20.00.

Walau kami harus berjalan cukup jauh dari susteran ke pertapaan, ditambah jalan yang menanjak, membuat betis makin berotot, namun kami merasa bahagia sekali dapat mengikuti ibadat demi ibadat tersebut dengan teratur.
Beberapa kali kami juga mengikuti ibadat bareng suster-suster di Susteran.

Suasana yang sangat hangat, membuat kami cepat akrab dengan para pengunjung lain. Diantaranya adalah pak Budi yang akhirnya menawarkan kami untuk nebeng mobilnya saja waktu nanti pulang ke bandara Adi Sucipto, .
Jadi kami sama sekali tidak perlu lagi mengeluarkan biaya sepeser pun untuk taksi atau travel yang seharusnya bisa menghabiskan biaya sebesar 450.000 - 500.000. Tuhan memang berbaik hati pada kami; sudah memberikan liburan yang menyenangkan, ditambah lagi ongkos gratis
ke bandara, hehehe...
Sahabat lainnya yang kami temui selama di sana juga adalah Frater Fol dari Malang. Frater yang kocak, heboh, namun tetap memiliki karisma sebagai seorang frater yang mengabdikan dirinya pada Tuhan dan sesama. Aku juga bertemu teman dari Laetitia, yaitu ko Yan dan bu Eli.

Wah, pokoknya, liburan kami kali ini benar-benar super duper menyenangkan. Benar-benar refreshing lahir batin. Belum lagi makanannya yang uenak-uenak, membuat perut kami, khususnya ogut jadi mirip jin tomang, hehehe...

Aku juga ikut membantu suster Marta membuat kelanting di kantin sekolah yang dikelola oleh suster-suster OP. Letaknya persis di sebelah klinik.
Menurut cerita suster Vianita, klinik itu memang dibuat untuk membantu masyarakat sekitar yang kurang mampu. Jadi mereka boleh membayar semampunya saja. Kebanyakan hanya membayar sebesar seribu rupiah.
Sementara untuk sekolah, perbulannya hanya dikenakan sepuluh ribu rupiah.

Kami juga berkunjung ke pabrik kopi yang dikelola para rahip di sana.
Frater Valen membuatkan kami secangkir kopi, tapi aku bilang kalau aku tidak mau, jadi cukup untuk Wiria saja. Tapi waktu aku mencicipi kopi  punyanya Wiria, malah jadi keterusan. Rasanya benar-benar nikmat. Entah karena lapar, atau memang kopi buatan Frater Valen memang spesial?
Melihat itu, Frater Valen sampai menertawaiku, "Nah, tadi kamu bilang nggak mau...
Jadi jangan salahin saya lho kalau cuma dibuatkan satu cangkir saja..." :)

Yah, inilah kisah liburanku bersama suami. Sayang Glyn tidak ikut kami.
Lain kali, kami harus kembali lagi ke sana bersama Glyn, biar Glyn juga bisa menikmati sukacita yang sama seperti yang kami rasakan selama kami di sana.
Walau ini adalah kedatangan kami yang entah sudah ke berapa kalinya ke Rawaseneng, tapi hati kami tetap saja rindu untuk datang kembali ke sana.
Sepertinya keheningan dan kedamaian Rawaseneng terus memanggil-manggil kami untuk kembali lagi dan lagi dan lagi ke sana...:)

2 komentar:

PUTRA WIJAYA TOURS WONOSOBO mengatakan...

Terima Kasih atas Kepercayaan Bapak & ibu kepada www.putrawijayatours.wordpress.com

Semoga bisa berjumpa di lain kesempatan,

Salam Hangat..
Aditya

Rachel Stefanie mengatakan...

Halo mas Adit..., sama2 mas... :) Kita juga puas banget dengan servis yang diberikan Putra Wijaya... Doakan saja supaya kita punya kesempatan lagi buat pergi jalan2, dan so pasti kita akan langsung menghubungi mas Adit lagi ... :) Salam buat pak Yono dan ayah mas Adit ya... :)