Kamis

Natal Bersama Omah Dan Opah

Akhirnya hari Natal datang juga!!

Hari ini aku dan ko Wiria pergi ke Misa Natal Lansia. Banyak sekali omah-omah dan opah-opah yang menghadiri Misa tersebut.
Selesai Misa, mereka digiring
ke aula untuk mengikuti acara selanjutnya, yaitu makan siang, sambil dihibur oleh penampilan Dorce jadi-jadian.
Hehehe..., maksudnya gaya and penampilannya
aja yang mirip Dorce, padahal namanya sih bukan Dorce. Nggak tau siapa, abis ga sempet kenalan sih.
Dia menghibur para Lansia dengan lagu-lagu tahun 60-an.
Asli, suaranya muantep abis!
Kadang-kadang dia nyanyi dengan dua suara, cowok sama cewek. Buat aku yang nggak bisa lihat, bener-bener ngerasa kalo lagu itu dinyanyikan oleh dua orang.
Pokoknya yahut banget deh!
Omah sama opahnya juga sangat menikmati, bahkan ada yang sampai ikut nyanyi sambil joget.
Aku waktu itu cuma memperhatikan dari belakang, soalnya aku ke situ pun buat temenin ko Wiria yang sibuk mondar-mandir buat bantuin apa aja yang perlu
dibantu.
Tadinya aku duduk di kursi deket meja penerima tamu.
Hmmm, bukan..., lebih tepatnya, meja yang penuh sama bingkisan Natal. Tapi, lama-lama aku jadi ngerasa nggak enak sendiri, soalnya Lansianya makin banyak yang dateng, sementara kursinya kurang. Aku berusaha cari denger di mana suara ko Wiria, buat minta supaya aku dibawa ke tempat yang lebih aman dan ..., tentu aja, tempat yang lebih sopan...
Aku kan nggak mau kalo sampe dibilang anak muda yang nggak sopan, karena dengan tak tahu diri sudah menduduki kursi yang memang seharusnya diperuntukan
bagi para Lansia. Akhirnya, karena suara ko Wiria nggak juga kedengeran, aku memberanikan diri beranjak selangkah demi selangkah mundur kebelakang sampai
punggungku menyentuh tembok . Rasanya tembok menjadi sahabat yang menyelamatkanku dari hiruk pikuk dan, yang paling penting, dari ancaman orang yang akan
mengataiku, "tidak tahu pri kesopanan!"
Tapi, walau kakiku lumayan pegel berdiri terus, aku merasa senang dan sangat terkesan dengan para anak muda di situ yang dengan semangat dan tulus mendampingi
para Lansia. Mereka benar-benar anak muda yang memiliki hati seorang pelayan.

Pulangnya, kami kebagian sekotak nasi karena masih ada stok lebih. Ditengah perjalanan menuju Bakmi Singapur buat makan siang, ko Wiria bertemu dengan
tukang sapu jalanan, dan memberikan kotak nasi itu kepada bapak tersebut.
Abis makan siang, aku mengajak ko Wiria mampir ke Mall Ciputra, karena aku kepengen beli baju. Setelah putar-putar, keluar masuk toko baju, dan meraba
sana-sini, aku mendapatkan dua baju dan ko Wiria satu kaos.
Nggak terasa hari udah sore, padahal rencana kami masih dua lagi, kunjungan ke rumah Omah Farma yang sedang sakit, sama ke rumah mamanya ko Wiria buat
ngucapin selamat Natal.
Tapi, ternyata kami cuma bisa mampir ke rumah Omah Farma aja, karena pas mau pulang, sehabis ngobrol panjang lebar dengan kedua Omah kakak beradik tersebut,
hujan turun, dan membuat kami berdua cukup kebasahan di atas motor.

Ini pengalaman baru buatku. Merayakan Natal bersama Omah dan Opah.
Ada satu kalimat yang berkesan dari Romo :
"Omah dan Opah harus bersyukur karena sudah Tuhan berikan usia lanjut, karena belum tentu orang lain, atau anak cucu kita bisa merasakan seperti itu. Hidup
sampai usia lanjut!!"

Aku dan ko Wiria sendiri sudah mengikuti Misa Natal kemarin malam. Misa dimulai jam 8.30. Tapi dari jam 7.00, umat sudah banyak yang dateng. Dan, karena
kami datang tepat waktu, alias jam 8.30 teng, akhirnya kami kebagian duduk di luar. Kepanasan dan berisik!

Lain kali, kita datengnya 3 jam sebelumnya aja deh!!!


Gubrak!!!!!!!

Jumat

Sarapan "Cumi"

Kemarin aku goreng cumi, gosong abis!!

Abis tadinya kukira kalo bunyi letupan minyaknya agak mereda, berarti cuminya udah matang dan bisa diangkat. eh ternyata..., keburu gosong!!

Alhasil..., batal deh sarapan pake cumi.
Yang ada, jadi CUMI, alias, CUMA MINGKEM!!!
Hehehehe....

What You Believe Is What You Get

Kisah yang sangat bagus, dapat menjadi bahan perenungan kita bersama. Khususnya buat teman-teman penyandang cacat yang berpikir kalau kecacatan adalah akhir segalanya, bahwa keterbatasan kita adalah suatu penghalang terbesar untuk melangkah menuju keberhasilan!

Nick adalah seorang yang besar, kuat dan keras, yang bekerja
di suatu langsiran kereta api selama bertahun-tahun. Ia
adalah salah seorang pegawai terbaik perusahaannya - selalu
tiba tepat waktu, dapat diandalkan, pekerja keras yang dapat
menyesuaikan diri dengan para pegawai lainnya.

Tetapi Nick mempunyai satu masalah besar. Sikapnya
terus-menerus negatif. Ia dikenal di sekitar langsiran
kereta api itu sebagai orang yang paling pesimis di tempat
kerja. Ia selalu takut pada hal yang terburuk dan
terus-menerus khawatir, takut bahwa sesuatu yang buruk akan
terjadi.

Suatu hari musim panas, para pegawai diberitahukan bahwa
mereka dapat pulang satu jam lebih awal untuk merayakan
ulang tahun mandor mereka. Semua pekerja pergi, tetapi entah
bagaimana, Nick secara kebetulan terkunci dalam sebuah mo
bil boks pendingin yang telah dibawa ke langsirang kereta
api itu untuk diperbaiki. Mobil boks itu kosong dan tidak
terhubung dengan satu kereta pun.

Saat Nick menyadari bahwa ia terkunci di dalam mobil boks
pendingin itu, ia panik. Nick mulai memukuli pintu-pintu
begitu kerasnya sehingga lengan dan tinjunya berdarah. Ia
menjerit dan menjerit, tetapi para rekan kerjanya telah
pulang ke rumah untuk bersiap ke pesta itu. Tak seorang pun
dapat mendengar panggilan minta tolong Nick yang putus asa.
Lagi dan lagi ia memanggil, sampai suaranya menjadi suatu
bisikan serak.

Karena sadar bahwa ia ada dalam mobil boks, Nick mengira
bahwa suhu dalam mobil itu jauh di bawah titik beku, mungkin
serendah lima atau sepuluh derajat Fahrenheit. Nick takut
pada hal terburuk. Ia mengira, Apakah yang akan kulakukan?
Jika aku tidak keluar dari sini, aku akan membeku sampai
mati! Aku tidak bisa tinggal di sini sepanjang malam.
Semakin ia memikirkan keadaan-keadaannya, semakin dingin
rasa tubuhnya. Dengan pintu tertutup rapat, dan tak ada
jalan keluar yang tampak, ia duduk menunggu kematiannya yang
tak terhindari dengan mati membeku atau kekurangan udara,
yang mana yang datang lebih dahulu.

Waktu berlalu, ia memutuskan untuk mencatat tentang
kematiannya. Ia menemukan sebatang pena dalam saku kemejanya
dan melihat selembar karton tua bekas di sudut mobil itu.
Sambil gemetar hampir tak terkendalikan, ia menulis
cepat-cepat sebuah pesan untuk keluarganya. Di dalamnya Nick
mencatat kemungkinan- kemungkinannya yang menakutkan:
"Semakin kedingingan. Tubuh mati rasa. Jika aku tidak segera
keluar, ini mungkin akan menjadi kata-kata terakhirku."

Dan memang demikian...

Pagi berikutnya, saat para pegawai datang bekerja, mereka
membuka mobil boks itu dan menemukan tubuh Nick rubuh di
sudut. Saat otopsi diselesaikan, ternyata Nick memang
membeku sampai mati.

Nah, sekarang adalah teka-teki yang menarik: para
investigator menemukan bahwa unit pendingin bagi mobil di
mana Nick telah terjebak itu bahkan tidak menyala! Nyatanya,
mobil itu sudah rusak untuk beberapa waktu dan tidak
berfungsi pada saat Nick mati. Suhu dalam mobil tersebut
malam itu -malam Nick membeku sampai mati- adalah enam puluh
satu derajat Fahrenheit! Nick membeku sampai mati dalam suhu
yang sedikit kurang dari suhu ruangan normal karena ia
percaya bahwa ia ada dalam sebuah mobil boks yang membeku.
Ia mengharapkan untuk mati! Ia yakin bahwa ia tidak
mempunyai kesempatan sedikit pun. Ia mengharapkan yang
terburuk terjadi pada dirinya. Ia melihat dirinya sendiri
ditakdirkan tidak dapat lolos. Ia kalah dalam peperangan
dalam pikirannya sendiri!

Bagi Nick, hal yang ia takutkan dan harapkan terjadi,
terwujud juga. Pepatah lama "Kehidupan adalah suatu nubuatan
yang dipenuhi sendiri" memang benar baginya. Itu biasanya
terjadi dalam kehidupan anda juga. Banyak orang pada masa
kini sama dengan Nick. Mereka selalu mengharapkan yang
terburuk. Mereka mengharapkan kekalahan. Mereka mengharapkan
kegagalan. Mereka mengharapkan keadaan biasa-biasa saja.
Dan, mereka biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan;
mereka menjadi apa yang mereka percayai.

Tetapi anda dapat mempercayai hal-hal baik. Saat anda
menghadapi masa sukar, jangan berharap untuk tetap tinggal
di sana. Harapkanlah untuk keluar dari masalah itu.
Harapkanlah Tuhan untuk secara ajaib mengubahnya.

Saat bisnis menjadi sedikit sepi, jangan harapkan untuk
bangkrut; jangan membuat rencana-rencana untuk gagal.
Berdoalah dan harapkanlah Tuhan untuk mendatangkan para
pelanggan kepada anda.

Jika anda mengalami kesukaran-kesukaran dalam pernikahan
anda, jangan hanya menyerah dalam frustasi dan berkata, "Aku
seharusnya tahu bahwa pernikahan ini memang ditakdirkan
untuk gagal sejak semula."

Tidak! Jika anda sedang melakukannya, berarti anda sedang
menanggapi dengan cara Nick. Pengharapan anda yang lemah
akan menghancurkan pernikahan anda; cara berpikir anda yang
salah akan menjatuhkan anda. Anda harus mengubah cara
berpikir anda. Ubahlah yang anda harapkan. Berhentilah
mengharapkan untuk gagal. Mulailah mempercayai bahwa anda
akan berhasil!

Bahkan jika fondasi hidup anda runtuh, sikap anda seharusnya
adalah: "Tuhan, aku tahu bahwa Engkau akan mengubah ini dan
menggunakannya untuk kebaikanku. Tuhan, aku percaya, bahwa
Engkau akan membawaku keluar lebih kuat dibanding
sebelumnya..."

Quoted from "Your Best Life" Now by Joel Osteen

Jika A sama dengan sukses dalam hidup, maka A sama dengan X
ditambah Y, ditambah Z. X sama dengan work hard, Y sama
dengan play hard, dan Z sama dengan shaddap.
Albert Einstein

Sabtu

Deasy, Sang Penderita Retinitis Pigmentosa (RP)

Ini adalah kisah hidup temanku Deasy yang sama - sama mengalami kebutaan karena retinitis pigmentosa(RP). Semoga bisa menjadi inspirasi dan terutama menjadi masukan bagi teman - teman yang mungkin mengalami tanda - tanda yang sama, sehingga dapat mendeteksi sedini mungkin dan dapat mengambil langkah yang tepat.

-----------------------------------------------------------------------------------

Di usiaku yang ke 27 tahun, aku mengetahui kalau aku terkena Retinitis Pigmentosa [RP] itu sekitar tahun 2003.
Saat itu aku sudah memasuki tahun ke 3 bekerja sebagai sekretaris Direktur Akademik di sebuah sekolah swasta di daerah Serpong.
Saat itu tibaa-tiba saja di mata kiriku ada bintik hitam seperti laba-laba. Tadinya kupikir bintik hitam itu muncul karena aku kecapekan, jadi aku Cuma mengompresnya. Setelah beberapa hari bintik hitam itu memang hilang, tapi penglihatan di mata kiriku malah jadi berkabut setengah mata. Saat itu aku masih berpikir kalau aku kecapekan. Sampai
aku pulang kampun,ke Sukabumi, aku dikejutkan oleh reaksi spontan kakak perenpuanku yang mengatakan kalau mataku sepertinya bertambah parah dan sebaiknya aku periksa ke dokter , karena waktu dia minta aku mengambilkan sesuatu dan menunjuk kea rah benda itu, aku malahan melihat ke arah lain. Jantungku saat itu berdebar lebig kencang, dan tiba-tiba aku diseliputi rasa takut dan khawatir. Apakah mataku benar-benar parah?. Setibanya aku di Serpong, Aku segera menelepon JEC [Jakarta Eye Center] dan membuat janji dengan salah seorang dokter. Hari itu aku cuti dan meminta seorang teman untuk menemaniku. Ketika dokter itu memeriksa mataku, dia langsung berkata, “retinitis pigmentosa”. Aku bengong, dan berkata”apa itu dokter?”. Betapa lemasnya aku ketika mendengar penjelasan dokter mengenai penyakit itu. Dia berkata bahwa ini penyakit keturunan, sampai saat ini belum ada obatnya, tidak bisa dioperasi, dan bisa mengakibatkan kebutaan. Yang bisa dilakukan adalah memperlambat penurunannya. Dokter mengatakan beberapa hal yang bisa mempercepat penurunan, antara lain, pemakaian computer yang terus menerus, pola makan yang salah dan stress. Dia menyuruhku untuk mencari info tentang retinitis pigmentosa di internat. Sepanjang perjalanan pulang dari JEC, aku Cuma diam dan berpikir, penyakitini pasti diturunkan dari nenekku, ibu dari papaku, karena setahuku dia yang satu-satunya buta. Tapi kenapa Cuma aku yang kena, kenapa kedua kakakku tidak? Temanku berusaha menghibur dan menyarankan agar aku periksa lagi ke dokter mata yang lain, mungkin saja dokter itu salah.

Akupun mencari info tentang RP di internet.
Betapa terkejutnya aku ketika membaca gejala penyakit ini dan sharing dari beberapa penderita RP dari berbagai negara. Gejalanya persis seperti yang kualami selama ini.
Kenangan masa lalukupun bermunculan….
waktu kecil aku sering sekali menabrak benda yang ada di bawah, seperti terantuk batu, menabrak meja, kursi, tangga.
Selalu kesulitan mencari benda kecil yang jatuh seperti koin, pensil, sendok dan berbagai benda kecil lainnya. Aku juga menjadi stress dan minder jika hari mulai senja dan aku masih berada di
luar rumah atau bila berada di dalam ruangan yang remang-remang, seperti bioskop, karena aku tidak bisa melihat apa-apa, kecuali benda-benda yang memancarkan cahaya. Aku tidak bisa melihat serangga yang terbang sampai serangga itu benar-bbenar nemplok di badanku.
Dulu aku pernah mencari tau sendiri dari buku mengenai penyakit mata, sayt itu kupikir aku terkena rabun ayam. Aku sering menolak ajakan teman-teman untuk pergi di malam hari dengan berbagai alas an. Kalaupun sampai terpaksa pergi malam aku pasti nempelin seorang teman, aku akan menggandeng tangannya terus. Pokoknya aku selalu mencari akal untuk menutupi kelemahanku ini. Seperti. saat aku harus pulang malam dan tidak ada teman yang bisa
aku gandeng, aku akan mengikuti orang yang memakai baju berwarna terang atau aku menghafal tenpat atau hal lain yang bisa kujadikan patokan menuju rumahku.
Seingatku waktu kelas 6 SD aku pernah dibawa ke dokter mata di rumah sekit AINI Jakarta. Kesimpulannya aku harus pakai kacamata minus 1, dan silinder2 di kedua mataku.
Saat itu dokter hanya berbicara dengan mamaku
Aku tidak pernah diberitahu apapun. Kedua orang tuaku juga tidak pernah mempermasalahkan kondisi mataku saat itu. Kadang mereka hanya membentakku bila aku jatuh atau menabrak sesuatu. Akupun tidak terlalu pedduli dengan masalah penglihatanku saat itu.

Disekolah aku suka gengsi tidak mau pakai kacamata minus, takut diejek ‘kayak nenek- nenek’.
Aku tidak mengalami masalah dengan pelajaran di sekolah,. Hanya kadang suka kesulitan membaca tulisan di papan tulis. Kalau sudah begitu paling-paling aku tinggal pinjam catatan teman. Tapi nilai matematikaku waktu di SMA jelek sekali, sebab kalau ulangan aku suka salah tulis soal..….
Kuliahku lancer. Aku tidak pernah mengalami kuliah malam, karenabatas kuliah di Akademi Sekretaris Tarakanita paling sampai jam 4 sore.
Temanku kebanyakan perempuan.
Dalam perhaulan aku memang suka minder, terutama pada lawan jenis. Maka dari itu juga aku tidak punya teman laki-laki.

Waktu tinggal di Jakarta aku pernah kecemplung di got, untung gotnya kering..he..he…
Aku juga pernah diketawain orang waktu nabrak tembok, sampai ada juga yang ketawa ngakak waktu aku nabrak pintu kaca di mal, sakitnya sih Cuma sebentar, tapi malunya itu loh.…mukaku rasanya panas banget , pasti warnanya merah kayak kepiting rebus deh, Dan banyak lagi kenangan tidak menyenangkan lainnya.

namun jauh sebelum mengetahui penyakit mata ini, gambaran diriku sudah buruk.
Ada suatu kejadian di masa kecilku yang membuatku luka batin, perkataan dan pembandingan saudara dan orang di sekitarku membentukku menjadi pribadi yang keras, minder dan tertutup.

Setelah membaca info dan sharing tentang RP di internet itu, aku semakin yakin kalau aku benar-benar menderita RP. Bertambah dalamlah luka batinku. Hancurlah semua harapanku, cita-citaku, kebahagiaanku…. Ini tidak adil!
Aku marah pada Tuhan.

Saat itu aku hanya menceritakan hal ini kepada kakak perempuanku dan kedua teman kosku.
Aku juga memutuskan untuk berhenti kerja.
Tapi aku tidak mau memberitahu orang tuaku soal penyakit mataku ini, biar mereka tidak ikut stress.
Mungkin karena aku dibesarkan di dalam kelluarga yang cuek dan kurang
komunikasi , jadi kami [aku, kedua kakakku , papa dan mammaku]terbiasa menyelesaikan masalah kami sendiri.

Ternyata atasanku menolak pengunduran diriku,dia tidak dapat menerima alasan pengunduran diriku dia merasa aku punya potensi dan dia tahu kalau sebenarnya aku masih ingin bekerja.
dia memberiku kesempatan untuk tetap bekerja di sekolah di unit yang tidak banyak menggunakan computer, , yaitu di unit TK, sebagai guru asisten. Awalnya aku ragu untuk menerima tawaran itu, namun karena kegigihan atasanku dalam meyakinkanku dan juga keinginanku untuk tetap bekerja, akupun menerima tawaran itu.
Kedua orang tuaku pun akhirnya mengetahui penyakitku dari kakakku. Mereka tadinya ingin agar aku berhenti bekerja dan tinggal di rumah saja.
Tapi karena kemauan dan kekeras kepalaanku untuk tetap bekerja, akhirnya mereka menyerah dan menuruti kepitisanku

Aku meminta atasanku untuk merahasiakan soal penyakit mataku ini. Aku tidak mau banyak orang mengetahuinya. Terlebih lagi aku cendiri belum bisa menerima kenyataan ini dan tidak mau dikasihani. Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai menyukai pekerjaanku di TK, tapi penglihatanku mengalami penurunan. akupun selalu dibayangi rasa takut dengan kenyataan kalau suatu saat aku akan buta.
Pernah suatu hari saking stresnya, aku berdoa sepanjang perjalanan dari Sukabumi ke Jakarta selama kurang lebih 4 jam di dalam bus, aku memohon agar Tuhan memberikan aku seorang teman yang punya penyakit sama untuk berbagi. Aku tidak tahan menahan perasaan putus asaku ini, tidak ada seorangpun yang mengerti perasaanku.
Setibanya di kos, aku menyalakan radio, betapa terkejutbya ketika aku mendengarkan siaran di salah satu stasiun radio itu sedang membahas penyakit retinitis pigmentosa! Ya ampun, Tuhan menjawab doaku Akupun segera menelepon radio itu dan meminta nomor telepon narasumber yang sedang diwawancara saat itu. Dari situlah awal perkenalanku dengan Laetitia, suatu lembaga social yang anggotanya terdiri dari orang cacat. Lembaga ini berlokasi di dalam lingkungan gereja Katedral, Jakarta.
Namun perkenalanku dengan Laetitia tidak begitu saja membuatku senang, tapi malah menambah beban pikiranku. Aku kembali dihadapkan dengan perasaan takut. Pertemuanku dengan orang-orang tuna netra di Laetitia membuatku semakin takut kalau suatu saat aku akan buta. Aku menyagkal kenyataan itu, aku tidak mau sering-sering datang ke Laetitia.

Pada tahun 2004, aku kembali mengajukan pengunduran diri yang kedua. Tapi atasanku tetap mempertahankan aku dan menawarkan aku untuk pindah ke unit perpustakaan sebagai story teller untuk anak TK. Setelah kupikir akhirnya kuterima tawaran tersebut. Ternyata aku menyukai pekerjaan ini dan mulai bisa menikmatinya.
Namun penurunan penglihatanku semakin terasa. Dari tadinya aku masih bisa membaca Koran, akhirnya aku hanya bisa membaca huruf ukuran besar. Lalu tidak hanya ukuran huruf yang besar, hurufnya juga harus dicetak tebal. Terus tidak hanya besar dan di cetak tebal, tapi warna latar belakang kertas juga harus kontras dengan warna hurufnya. Sinar matahari yang terikpun terasa sangat menyengat dan menyilaukan mataku, penglihatanku semakin berkabut. Luas pandang penglihatanku menyempit, focus penglihatanku mulai tidak jelas, bahkan kacamata tidak lagi bisa membantu.
Aku semakin takut untuk keluar sendiri meski di siang hari sekalipun. Kemandirianku semakin terbatas, aku benar-benar tersiksa dan minder dengan kondisiku ini. Aku jarang pulang ke Sukabumi, karena takut orang tuaku mengetahui penglihatanku yang tambah parah. Aku takut mereka stress.
Sejak divonis RP, aku pernah mencoba beberapa macam pengobatan alternatif, dari yang masuk akal sampai yang tidak masuk akal.
Aku jarang melibatkan keluargaku.
Biasanya aku pergi bersama temanku saja.
Aku berpikir,aku pasti bisa sembuh dan aku akan terus mencari pengobatan yang cocok. Aku tidak datang pada Tuhan, aku tidak percaya pada Nya.
Aku beruntung, aku mempunyai banyak teman yang baik, selalu memberi semangat dan dukungan doa. Mereka mengingatkan aku untuk datang pada Tuhan, bertekun, bersabar dan memohon pertolonganNya.

Pada bulan Mei tahun 2007 aku diberhentikan dengan alasan pihak sekolah tidak bisa memperpanjang kontrak kerjaku dan kondisi penglihatanku yang memburuk tidaklah sesuai dengan visi sekolah yang mobile.

Sejak saat itu aku jadi ‘pengacara’, alias penggangguran banyak acara…
Aku mencoba beberapa pengobatan alternative, mendapat panggilan interview yang dibantu oleh Laetitia, mengikuti training pekerjaan yang diperuntukkan bagi tuna netra di Mitra Netra, mengikuti pelatihan outward bound di Jatiluhur-Purwakarta bersama Laetitia, belajar computer dengan program JAWS[Job Acssess With Speech]. Bersih-bersih rumah, kadang aku juga membantu orang tuaku di toko, sebagai kasir.
Sekarang aku sedang mencoba jadi penulis
Aku mulai menyadari bahwa keterbatasanku ini bukanlah akhir dari segalanya melainkan awal dari sesuatu yang baru dan penuh tantangan.
Aku harus belajar lebih giat lagi,
membuka hati dan menerima diriku apa adanya.

Sanak saudaraku sekarang sudah tahu kondisi mataku . Belakangan aku mengetahui ternyata ada beberapa sepupu dari pihak papaku yang juga menderita RP. Walaupun mereka belum pernah periksa ke dokter, Aku yakun mereka terkena RP, karena gejalanya sama.

Mungkin lewat penyakit ini Tuhan mau membukakan mata hatiku,mengubah hidupku dan membawaku agar lebih dekat padaNya.
Aku akui memang tidak mudah bagiku untuk percaya padaNya, aku terlalu sombong dan keras hati. Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk mulai percaya dan berserah pada Nya. Walaupun pergumulan dalam batinku ini masih terus berlangsung, tapi kini aku punya satu keyakinan kalau Tuhan penya rencana yang baik, Dia akan memberikan pertolongan dan semuanya akan menjadi indah pada waktunya.