Senin

Merasa Jelek Karena Kacamata Tebal

Kisah ini sebenarnya terjadi sudah agak lama, sekitar tahun lalu, ketika aku mengisi sesi training di Departemen Perhubungan (DEPHUB).

Waktu sesi pembagian port (terdapat 3 port) : port Bersyukur, Tanggungjawab dan Cukup.
Di port Cukup dibimbing oleh Ustadz Hasanudin Labai Tw, port Tanggungjawab oleh Bapak Nurrachman Oerip, Sh. mantan duta besar kerajaan Kamboja, dan di port Bersyukur diisi oleh aku sendiri.

Peserta dibagi dalam 3 kelompok yang akan secara bergilir memasuki port-port tersebut. Dan selama setengah jam, tiap peserta diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan sesuai judul port yang mereka masuki kepada para pembimbing.

Ada seorang peserta wanita di port-ku yang takkan kusebutkan nama aslinya di sini, hanya kuberi inisial "Y" saja. Nah, Y ini mengajukan pertanyaan padaku dengan suara agak sedikit bergetar, "Bagaimana cara menumbuhkan rasa percaya diri? karena selama ini saya selalu merasa rendah diri."

"Kenapa ibu merasa rendahh diri?" Aku malah bertanya balik. Tujuannya sih agar aku bisa mengetahui lebih dulu alasan dia rendah diri selama ini.

"Karena mata saya juga bermasalah... Saya harus memakai kacamata sangat tebal. Makanya saya jadi rendah diri..."

Tanpa pikir panjang, aku pun menjawab, "Mungkin setelah ibu melihat saya hari ini, ibu bisa lebih percaya diri..."

dan ternyata dengan cepat ibu itu pun mengiyakan jawabanku.

"Dibanding saya," lanjutku. "Ibu masih terbilang beruntung, karena walaupun mata ibu bermasalah, tapi ibu masih bisa melihat dengan dibantu kacamata, sementara saya... kacamata model apa pun sudah tidak lagi bisa membantu saya..." Setelah hening sejenak, aku kembali berkata, "Contohnya saja sekarang, kalau ibu mau permisi ke belakang, ibu tinggal melangkahkan kaki dan pergi sendiri. Sementara saya... Jujur saja, sekarang ini saya lagi kebelet pipis nih..." ujarku santai sambil nyengir. "Tapi saya mau tidak mau harus menunggu orang lain yang bersedia menuntun saya ke kamar kecil, karena saya belum hafal letak bangunan di sini... Jadi, kalau masih ada yang bisa disyukuri, kenapa harus susah-susah memikirkan sesuatu hal yang hanya membuat diri kita semakin terpuruk?"

Akhirnya..., setelah sesi port itu berakhir, aku baru bisa ke kamar kecil dengan diantar tante Erna.

Waktu keluar dari kamar mandi, kami kembali bertemu dengan Y yang entah memang sudah menunggu kami di depan kamar mandi, atau memang cuma kebetulan saja. Di situ Y bercerita dengan air mata yang bercucuran bahwa hanya karena memakai kacamata tebal, akhirnya dia merasa kalau dirinya itu jelek. Makanya waktu ada seorang pria mendekatinya, tanpa pikir panjang lagi Y langsung saja menerimanya, dan tak berapa lama mereka pun menikah, padahal Y sama sekali tidak suka pada pria itu. Akhirnya dalam waktu yang terbilang singkat, mereka pun bercerai dengan meninggalkan seorang anak. "Pernikahan yang dipaksakan hanya karena saya takut tidak laku... Saya merasa saya ini jelek..." kata Y di sela-sela tangisnya. "Sekarang saya menyesali kebodohan saya... Tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi..."

Padahal menurut tante Erna, Y memiliki wajah yang cantik, dengan kulit putih dan postur tubuh yang lumayan tinggi..

Begitulah kisah Y, seorang wanita cantik yang merasa jelek hanya karena memakai kacamata tebal, sehingga membawanya pada keputusan yang justru menghancurkan semua harapannya.

Dipikir-pikir, dulu aku juga pernah merasa seperti itu, merasa jelek dan tidak berguna hanya karena kondisi mataku, sehingga membuatku minder, tidak mau bergaul dan selalu menutup diri... Dan ternyata sikapku itu yang justru membuatku semakin terpuruk dalam kesedihan, kesepian dan rasa mengasihani diri sendiri yang berlebihan. Padahal, kalau saja dari dulu-dulu aku sudah menyadari akan kelebihan yang belum tentu dimiliki orang lain, pasti banyak waktu yang bisa kumanfaatkan dengan lebih maksimal, dari pada hanya mengurung diri dan sibuk mengasihani diri sendiri.

Karena itu, buat teman-temanku tersayang, yang mungkin saat ini masih juga merasa bahwa dirinya itu jelek, tidak berguna atau mungkin juga merasa kalau dirinya merupakan ciptaan yang salah cetak... semoga melalui tulisanku ini, kalian bisa menyadari kalau di muka bumi ini tidak ada manusia yang sempurna seutuhnya... di balik setiap kekurangan yang tampak pasti tersembunyi sebuah potensi. Jadi, dari pada sibuk menyesali kekurangan yang kita miliki, bukankah lebih baik waktu itu kita gunakan untuk mencari tahu apa kelebihan kita, dan mulai mengembangkannya menjadi sesuatu yang berguna dan bisa membanggakan di suatu hari nanti?

Mulailah bergerak untuk bangkit dari keterpurukan yang sudah membutakan kita selama ini, dan mulailah mencari tahu letak kelebihan kita. Hal yang paling mudah kita lakukan untuk mengetahui potensi kita adalah salah satunya dengan melakukan apa yang kita sukai, karena biasanya dari hobi kitalah terkuak  bakat atau kelebihan yang kita miliki... Kalau kamu suka bernyanyi, bernyanyilah sekeras-kerasnya. Asal jangan sampai kedengaran pak satpam, nanti takutnya kamu dikira orang stres, hehehe...  Kalau suka nonton film kung fu, coba ikutan les wushu, siapa tahu kamu malah jadi juara wushu dan mengharumkan nama bangsa... Pokoknya, gunakan waktu sebaik-baiknya, karena menyesal kemudian tiada gunanya...

Jangan hiraukan apa kata orang, karena hidupmu adalah milikmu sendiri. Sejelek apa pun kamu, masih jelek orang yang bilang kamu jelek, karena berarti dia pasti salah satu ciptaan yang salah cetak, minimal salah cetak otak, hehehe...

Aku masih dan akan selalu ingat perkataan yang disampaikan pak Nurrachman Oerip, "Orang yang merasa pintar, maka sebenarnya saat itu dia menjadi orang yang paling bodoh!"

Jadi, kalau ada yang bilang kamu bodoh, maka sebenarnya dia lebih bodoh dari kamu, hehehe...

Nah, sebagai penutup ceritaku, aku mau nyanyi lagu yang kuciptakan sendiri ah...

"Tahukah kawan, kisah hidupku;
sebagai seorang yang tak mampu melihat,
indahnya dunia pun cerahnya mentari,
hanya gelap yang menjadi kawanku.

Dapatkah kawan, kau membayangkan;
rindu hatiku menatap wajah anakku.
Namun haruskah kuterus ratapi diri,
yang hanya membuatku semakin terpuruk.

REFF:

Apa gunanya, keluhkan yang tak ada,
hanya membuang waktu yang berharga.
Syukuri semua dan hargai kurniaNya,
kuyakin hidup kan lebih berarti."

Tidak ada komentar: