Rabu

Katanya Aku Kurang Iman

Suatu ketika, aku mengikuti sebuah KKR penyembuhan di Bandung. Banyak sekali orang yang hadir, mungkin mencapai ratusan, atau mungkin juga ribuan.
Mereka membawa serta saudara-saudara mereka yang sakit. berbagai jenis orang memenuhi tempat itu, dari yang cacat fisik, seperti lumpuh, buta, tuli, hingga ada yang terkapar karena sakit parah.
Dan aku berada di tengah-tengah kerumunan orang banyak itu.
Aku buta. Ya, aku termasuk pasien yang memerlukan penyembuhan di sini!

Sebagian besar dari orang banyak itu bukanlah saudara-saudaraku seiman. Banyak dari mereka yang bukan orang Kristen, malah mereka mengikuti KKR ini dengan masih menggunakan atribut keagamaan mereka. Mereka ikut berdoa bersama kami, dan berharap juga mendapatkan kesembuhan.

Dari kecil, aku selalu ditekankan oleh orang tuaku, dan juga oleh para pendeta yang mendoakanku agar memiliki iman yang teguh, tidak goyah sedikit pun. Dan jika kesembuhan itu tidak juga terjadi padaku, maka mereka akan menegurku dengan berkata :
"Kamu kurang beriman!"

Malah ada seorang pendeta yang berkata kalau kebutaanku ini karena kutuk nenek moyang!
Kenapa jadi nenek-nenek dibawa-bawa?
Apa salah nenek moyangku, sehingga sampai aku yang harus menanggungnya?
Bagaimana dengan ayat dalam Yohanes 9 : 1-3?

Aku sering merenung seorang diri:
"Apa sebenarnya ukuran dari sebuah iman itu?"
"Apa benar penyebab mataku belum disembuhkan Tuhan, karena aku kurang beriman?"

Ketika tiba pada saat acara penyembuhan, kepalaku semakin menunduk. Aku semakin kusyuk berdoa. Aku memohon kepada Tuhan dengan segenap hatiku agar sudi menoleh kepadaku dan menyembuhkan mataku.
Tapi sementara sudah banyak orang yang disembuhkan, bahkan mereka yang bukan Kristen pun memperoleh kesembuhan, mataku masih juga belum dapat melihat.

"Bagaimana ini? apa imanku masih belum cukup? masa iman mereka yang bukan Kristen malah lebih besar dari imanku?"

Hatiku jadi galau dan teramat sedih. Ini sering kualami setiap aku pulang dari sebbuah KKR penyembuhan. Aku pulang bukan membawa berkat sukacita, tetapi rasa bersalah dan tertekan karena merasa Tuhan tidak menyayangiku. Tuhan tidak berkenan mendengar seruanku. Tuhan tidak peduli kepadaku, kepada seorang anak buta yang kurang iman sepertiku.
Semakin lama, aku semakin merasa capek untuk mengikuti KKR penyembuhan semacam ini lagi. Kalau bukan karena kemauan orang tuaku, (yang kutau, sangat menyayangiku dan sangat mengharapkan mataku sembuh), aku tak nanti ikut acara seperti ini lagi.
Aku pernah bertanya kepada teman-teman tunanetra lainnya tentang perasaan seperti ini, dan ternyata mereka pun merasakan hal yang sama.

Kalau aku kurang iman, seperti yang mereka katakan, mengapa sampai sekarang aku masih tetap percaya pada Tuhan?
mengapa aku tetap berdoa pada Tuhan, padahal Dia tak juga menyembuhkan mataku?
mengapa juga aku tetap pergi ke Gereja, kalau imanku selalu mendapat nilai minus?
Mengapa hatiku tak bisa membenci Tuhan, atau sebisa mungkin memusuhi-Nya, dan berusaha untuk menjauhi-Nya?
Mengapa aku malah semakin mencintai-Nya?
Bukankah imanku terlalu tipis, setipis kertas-kertas Alkitab?

KKR pun selesai!
namun aku tetap saja harus berjalan sambil dituntun orang kalau tidak mau tersandung dan kepala benjol!

"Kenapa ya Tuhan kok malah menyembuhkan anak tetangga, bukannya anak sendiri?" kalimat pertanyaan ini pun meluncur dari bibir mamiku, ketika kami sudah berada kembali di dalam mobil.

"Karena Tuhan tau, meski pun Rachel tidak disembuhkan, dia akan tetap percaya. Sementara mereka itu membutuhkan tanda!" jawaban yang sederhana ini keluar dari bibir sahabatku, dan merupakan suluh bagi hatiku yang mendung, kelelahan menanggung beban, hingga sesak tak terbilang.

Sesungguhnya, Tuhan telah mendengar seruanku. Buktinya Dia menjawab segala kebingunganku melalui bibir sahabatku!

Kini, setiap kali aku bersaksi, aku akan menyerukan sebuah kalimat sebagai penutup kesaksianku :
"Kalau Tuhan mau, detik ini pun aku percaya Tuhan sanggup menyembuhkan mataku. Tetapi janganlah kehendakku yang terjadi, melainkan biarlah kehendak Tuhan saja yang terjadi dalam hidupku. Karena Tuhan tau yang terbaik bagiku!"

"Biarlah orang lain memperoleh terang melalui kegelapanku!"

====

8 komentar:

Anonim mengatakan...

Aku juga pernah megalami perkara yang sama dimana aku sangat2 mau Tuhan menyembuhkan mataku yang sering bengkak di bahagian kelopak mata. Kerana penyakit yang sering ku alami hampir setiap tahun malah penyakit ini mengambil masa berbulan2 untuk sembuh. Apabila ubat2 sudah tidak memberi kesan apa2 pada penyakit yang aku alami,akhirnya aku memutuskan untuk memohon penyembuhan melalui doa. Ia mengambil masa bertahun2 sehingga aku hampir putus asa. Tapi saudara percayalah Tuhan itu tidak pernah mengecewakan hambanya. 1 hari mataku mengalami bengak2 yang teruk membuatkan aku malu untuk bertemu orang lain. aku kira mungkin Tuhan tidak berkenan mengabulkan doaku. tapi apa yang terjadi??? tanpa kusedari, selepas mataku sembuh dari bengkak yang teruk, sehingga saat ini, aku tidak lagi pernah mengalami penyakit yang sama...puji Tuhan

Stefanie mengatakan...

Dear Shirley, Ilsye, Uti, dan Anonim

Terimakasih ya untuk tanggapannya juga yang sangat memberkati. Karena kita memiliki kelemahan masing2 makanya kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Karena melalui kelemahan kitalah, kuasa Tuhan semakin sempurna.
Seperti yang dikatakan St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus:

II Korintus 12

12:9 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.


Mari kita berlomba untuk lebih lagi saling memberkati, sebab untuk itulah kita diutus. Untuk menjadi berkat bagi orang lain demi kemuliaan Tuhan yang terlebih besar lagi.

Biarlah Tuhan yang semakin besar dan besar, sementara aku semakin kecil dan kecil.

Sebab aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. (Gal 2:20)

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (Rom 12:12)

Amin!


Tetap semangat! :)

Peace & Love
Faustina Rachel

Sukad35 mengatakan...

Syabas! Isikandung Alkitab adalah jawaban kepada semua persoalan yang ada di dunia ini. Jangan lepas peluang mengupas isikandung Alkitab. Iannya akan bersinar terang di dalam hatimu selamanya...Amen.

anita veronica purba mengatakan...

hei hei. wah . aku jadi bersemangat mengerjakan pr . iya saya masi pelajar. aku yg diberi mata sehat . tangan dan kaki lengkap dan sehat. harus rajin nda nda mengeluh. kog sepertinya yg aku tulis nda nyambung ya. hehe. intinya aku mau bilang TERIMA KASIH. Tuhan memberkati.

Stefanie mengatakan...

Terimakasih buat semua...
@ Anita : Yang rajin belajarnya ya...
Gunakan matamu yang sudah Tuhan ciptakan dengan sempurna dengan sebaik-baiknya...
Banyak yang tidak bisa melihat ingin membaca buku-buku, tapi mereka menghadapi kesulitan.
Waktu aku masih sekolah juga, aku sangat kesulitan untuk membaca, makanya setiap belajar, aku membutuhkan usaha yang lebih keras dua kali lipat dari teman2ku yang berpenglihatan normal, karena aku harus membaca dengan menggunakan kaca pembesar, dan bacaku sangat lambat. Belum apa2, aku sudah berkeringat dan tangan gemetaran krn lelah...
Tapi aku sungguh bersyukur pada Tuhan, krn dengan keterbatasanku ini, aku berhasil menyelesaikan hingga S1.

Jadi, Anita harus lebih giat belajar ya...! :))

Stefanie mengatakan...

Terimakasih buat semua...
@ Anita : Yang rajin belajarnya ya...
Gunakan matamu yang sudah Tuhan ciptakan dengan sempurna dengan sebaik-baiknya...
Banyak yang tidak bisa melihat ingin membaca buku-buku, tapi mereka menghadapi kesulitan.
Waktu aku masih sekolah juga, aku sangat kesulitan untuk membaca, makanya setiap belajar, aku membutuhkan usaha yang lebih keras dua kali lipat dari teman2ku yang berpenglihatan normal, karena aku harus membaca dengan menggunakan kaca pembesar, dan bacaku sangat lambat. Belum apa2, aku sudah berkeringat dan tangan gemetaran krn lelah...
Tapi aku sungguh bersyukur pada Tuhan, krn dengan keterbatasanku ini, aku berhasil menyelesaikan hingga S1.

Jadi, Anita harus lebih giat belajar ya...! :))

wilson lazaro mengatakan...

KKR hanyalah kebohongan saja ... Hanya orang2 yg frustrasi saja yang percaya kkr ...

Kalo kkr nyata bisa menyembuhkan gak perlu lagi ada dokter,rumahsakit,apotek dll ..

Kkr hanyalah salah satu cara mencari dollah/rupiah ...

Mikir duwong mikir ....

Anonim mengatakan...

Para pendeta ini hanya menjual nama Yesus demi keuntungan pribadinya. Mengaku punya karunia menyembuhkan, bikin KKR krn Tuhan yg suruh, ketika yg maju ke depan tdk sembuh mereka menghakimi seenak jidatnya bhw ybs kurang beriman, punya dosa, punya kutuk nenek moyang, dll, dst alasan macam2. Ketika pengajarannya dikritisi, pendeta2 ini bilang jgn menghakimi, penghakiman adlha hak TUhan, tp mereka boleh menghakimi seenak jidatnya dan membuat org malah makin jauh dari Yesus demi ego pribadinya.