Senin

Puncak, Cimori, Dan Romo Yohanes

Sabtu kemarin, aku,suami dan mertua perempuanku pergi ke Puncak, dalam rangka mengendorkan otot-otot yang kencang, dan mengencangkan kembali semangat yang sudah agak kendor.
Membuang semua hawa Jakarta yang bikin mumet, dan menggantinya dengan udara segar pegunungan.

Kami berangkat sekitar jam setengah dua, dengan mengendarai si Merah, mobil Atoz mungil yang selalu setia menemani perjalanan kami. Biar kecil, tapi si Merah sudah menjelajah cukup jauh, bukan cuma antar kota, tapi juga antar propinsi!
Emang si Merah itu kecil-kecil cabe merah!
biar kecil, tapi warnanya merah!
hehehe...
Mmmuaaach, i love you Merah!!

Perjalanan cukup lancar.
Sekitar jam tiga, kami mampir ke Cimori untuk makan siang. Eitz, sori, bukan makan siang, karena aku dan ko Wiria sebelum pergi tadi sudah makan bakwan dulu, jadi ini bisa dibilang makan sore.
Sebenernya sih aku ke situ cuma mau ngincer susu segarnya doang, tapi kayaknya nggak enak deh kalo nggak dibarengi dengan makan juga. Padahal aku udah tahu kalo makanan di situ kurang enak. Mahal sih, iya.
Akhirnya aku memesan Steak ayam.
Waktu pelayan datang dan menyajikan steak pesananku,
Wow..., sungguh luar biasa!!!
ternyata bukan hanya daging ayamnya aja yang dihidangkan di atas Hot-plate, tapi bulu ayamnya juga nggak ketinggalan turut dihidangkan!
Untung aja ko Wiria langsung melihatnya, dan minta segera diganti dengan yang baru.
Hu-hu-hu..., selera makanku langsung menyusut deh...
Entah steak itu benaran diganti atau cuma bulu ayamnya aja yang disingkirkan...,
who knows???
Yang pasti, aku tetap menyantap steak tersebut dengan kepercayaan penuh pada sang pelayan yang berkata :
"Maaf, kami sudah mengganti yang baru..., benar-benar baru!"
Ho-ho-ho, aku harus buru-buru menyetel otakku nih biar daging ayam ini bisa tetap masuk ke perutku yang sebenarnya nggak terlalu lapar. Anggap aja bulu ayam itu memiliki vitamin yang belum sempat diteliti oleh profesor manapun!
wakswakswakswaks...
Untung masih ada susu segar rasa pisang yang cukup menghiburku. Yah..., mudah-mudahan aja susu itu bisa menetralisir racun-racun yang sedang bergrilia di dalam perutku. hehehe...

Selesai makan, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Vila yang terletak di Kota Bunga.
Vila bertipe Jepang itu masih berdiri dengan anggunya, tapi sayang, karena jarang ditinggali, para rayap mulai berpesta pora menggerogoti kayu-kayunya.
Vila ini sudah cukup lama dimiliki keluargaku. Dulu kami sering berlibur di sini, berkumpul dengan saudara-saudara dan para sepupuhku, terutama kalo lagi libur panjang. Terakhir kami menginap di sini waktu tahun baru kemarin.
Ko Wiria harus adu kuat dulu dengan kunci pintu yang susah banget diputar, sampe akhirnya pertarungan dimenangkan oleh ko Wiria yang berhasil membuka pintunya.
Di dalam nggak terlalu kotor, soalnya dua Minggu yang lalu mami dan papi baru aja datang dan menginap di sini.
Kami beristirahat sebentar, dan sekitar jam stengah delapan, kami pergi untuk mencari makan malam.
Setelah memilah-milah makanan apa yang akan mampir di perut kami, akhirnya pilihan jatuh pada 'Bakso Lapangan Tembak'.
Sempat terjadi perpindahan daging tetelan dari mangkuk ko Wiria ke mangkuk mamanya, dan dari mangkuk mamanya ke mangkuk ko Wiria. Alhasil, daging tetelan itu tersingkirkan dari mangkuk keduanya.
aku sih cuma jadi penonton aja, soalnya ruang di perutku tidak pernah pilih-pilih dalam menerima penghuni. Asalkan bersih dan layak, silakan aja! Tapi jangan lupa keluar lagi setelah merasa cukup puas di dalam, biar perutku nggak kembung dan menjadi gendut!
Harga satu mangkuk = Rp. 17.000. Dengan ataupun tanpa tetelan! :-P

Setelah itu, kami mampir ke Brasko. Aku ingin sekali membeli sweater warna merah. Ada sih yang lumayan bagus, dengan tulisan "ITALI" di dadanya. Tapi pas ngintip harganya, "Rp. 200 ribu lebih"?
Ogah ah..., masa sweter kayak gitu aja sampe 200 ribu. nggak rela ah...!!
kami cuma berputar-putar sebentar, sangat sebentar, dan keluar dari Brasko dengan hanya menenteng sebuah handuk kecil untuk mertuaku yang kelupaan bawa handuk, plus, kantong bertuliskan 'Brasko'!
wkwkwkwkakakakakkkkk...
Lumayan kan???? :-D

Besoknya, kami pergi Misa di Lembah Karmel (Romo Yohanes).
Aku nggak tau kalo ada Misa penyembuhan, soalnya yang aku pernah denger kalo Misa penyembuhan itu diadakan pada Minggu kedua dan keempat, sementara kemarin kan masih Minggu ketiga.
Emang kadang-kadang Rachel ini sok tahu ya! hehehe...
Dan gara-gara ke-soktahuan aku yang bilang kalo Misa itu dimulai jam 10, akibatnya, kami terlambat 15 menit, soalnya ternyata Misa dimulainya jam setengah sepuluh!
Maap ya. :-)

Gereja bener-bener penuh, sampe kami harus duduk di Jendela paling belakang.
Ini adalah yang kedua kalinya aku mengikuti Misa di sini. Pertama kali aku pergi dengan anak-anak Legio Maria. Dan waktu itu juga pas ada Misa penyembuhan.
Aku berdoa dalam hati agar Tuhan mau menyembuhkan mataku, sementara Romo terus mengundang umat yang jenis penyakitnya disebutkan untuk bangkit berdiri, karena Tuhan akan menyembuhkannya.
Aku merasa seperti sedang menunggu antrian untuk masuk ke ruang priksa dokter. Hatiku H2C, alias Harap-Harap Cemas. Kira-kira jenis penyakitku akan disebutkan apa nggak ya?
Tiba-tiba aku mendengar Romo berkata :
"Di sini ada seseorang yang memiliki gangguan pada matanya..."

Deg!

Rasanya jantungku berhenti berdetak, berikut nafasku yang ikut-ikutan mogok.
"Aku bukan ya?" Aku masih menunggu Romo melanjutkan kata-katanya.

"Seorang yang matanya terkena glukoma!"

Gubrak!

Glukoma?
kenapa harus yang glukoma??
aku ini Retina Pigmentosa, bukan glukoma!

Dan seorang pemuda bangkit berdiri.

"bersyukurlah pada Tuhan, karena Tuhan akan menyembuhkanmu!" Begitulah perintah Romo pada pemuda itu.

Aku segera memeriksa jantungku. ow, ternyata sudah berfungsi lagi dengan normal.
Baguslah, jadi kan aku nggak perlu susah-susah berdiri kalo Romo menyebutkan jenis penyakit jantung. hihihi...

Sekarang, waktu hari Minggu kemarin, Romo kembali menyebutkan jenis-jenis penyakit yang ia denger langsung dari Tuhan. Ada yang kena tumor payu dara, tidak bisa tidur, tenggorokan sakit sehingga tidak bisa menelan makanan, ada yang sakit ginjal, Etc, etc.
Tapi sama sekali aku nggak mendengar tentang mata. Entah itu mata glukoma, mata mines, mata sipit, mata-mata..., hehehe...
Pokoknya penyakitku sama sekali nggak disebutkan.

aku bertanya-tanya pada Tuhan :
"Kenapa aku dilewatkan, Tuhan?"
"Kenapa Tuhan tidak mengingatku?"
"Apa aku terlalu belakang, sampe-sampe Tuhan melupakanku?"

Aku teringat dengan perkataan teman baikku, Ferdi.
Waktu itu, kami sedang pergi ke KKR penyembuhan di Bandung. Dan waktu pulang, mami mengajukan pertanyaan kepada kami dan beberapa orang yang semobil dengan kami :

"Kenapa ya Tuhan kok malah menyembuhkan anak tetangga (Nonkristen), tapi anak sendiri nggak Dia sembuhkan?"

Ferdi yang menjawab :
"Mungkin Tuhan tahu , walaupun Rachel nggak Dia sembuhkan, tapi Rachel akan tetap setia sama Tuhan. Sementara mereka..., mereka membutuhkan tanda untuk bisa percaya pada Tuhan!""

Perkataan itulah yang sampe sekarang menjadi kekuatan buatku.
Aku nggak lagi merasa kecewa seperti dulu.
Dulu, aku sering merasa kecewa kalo Tuhan nggak menyembuhkanku di KKR atau Misa penyembuhan seperti ini. Bahkan aku sering pulang dengan perasaan sedih dan marah. Tapi sekarang, aku mulai bisa menyingkirkan perasaan kecewa itu dan menggantinya dengan keyakinan bahwa Tuhan tetap memperhatikanku dan menjagaku. Aku nggak mau kalo sampe perasaan kecewa itu membuat hatiku menjadi lemah.
Meski nggak bisa dipungkiri juga kalo aku masih berharap sekali Tuhan akan melirikku dan mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah mataku.

Dan alhasil, kemarin aku bisa meninggalkan Gereja dengan perasaan ringan dan senang. Melanjutkan perjalanan kami kembali dengan penuh keceriaan dan berkat yang sudah kami terima tadi dari Tuhan.

Nah, Diary, begitulah kisah perjalananku kemarin.
Yang pasti, kami pulang dengan selamat sampe rumah, soalnya kalo nggak, mana mungkin sekarang aku bisa bercerita pada kamu.
Iya kan, Diary sayang??

Sayonara...

3 komentar:

zz mengatakan...

Hi Stefanie, coba kamu ke Dr. Syakon Tahiyah di Klinik Mata Nusantara, Jakarta. Mamaku kena retina juga dan berhasil operasinya. Dr. Syakon ahli banget dan memang khusus menangani retina.

Stefanie mengatakan...

Hai ZZ, maaf ya baru balas...
soalnya aku baru liat lagi nih blog-blogku yang lama.
maaf ya...
tentang Dr. Syakon, temanku juga sudah pernah ke sana, kebetulan temen juga terkena Retina Pigmentosa, tapi ternyata sampai sekarang Retina Pigmentosa itu belum ada obatnya.
Temenku itu cuma disuruh minum vitamin yang bisa menghambat penurunan penglihatannya saja. Dan vitamin itu sudah saya coba juga.
Tapi aku makasih banget nih, karena ZZ sudah begitu perhatiannya sama aku.

Tuhan memberkati ZZ dan keluarga ya...

Ciao!! :)

Anonim mengatakan...

fyi, kasus retina itu banyak dan tidak semua yg bisa dioperasi. Ada kasus yg memang treatnya hanya dgn operasi namun ada jg yg tdk dgn operasi.